Tuesday, November 8, 2011

HUMAN RESOURCE DEVELOPMENT IN INDONESIA

JUST FORWARD FROM CHROMENX

Apakah kebodohan2 perusahaan multinasional yang ada di Indonesia, yg
antara lain dilanggengkan oleh mental para staff HR-nya?

1. Bangga bahwa gaji karyawan jauh diatas UMR. Hal ini bodoh sekali,
karena dia telah memposisikan diri setara dengan perusahaan lokal yg
paling miskin, yang menjadi pangkal perhitungan UMR. Jadi kita
ketawain saja kalau ada perusahaan multinasional (bank, konsultansi,
tambang batubara, migas, emas, dll.) yg bangga karena upahnya
telah memenuhi UMR. Dan sebagai orang HR Anda harus
malu.... dan menangis. (Perbandingan yg benar: Wah mekanik
kami digaji dibawah mekanik Australia. Kami hanya menggaji
Rp. 3 juta, padahal di australia mereka mendapat 4 ribu
dollar. Padahal produktifitas mereka sama. Kami akan
berjuang untuk perbaikan gaji... dlsb.)

2. Upah karyawan lokal bisa dibilang "slave wages". Itulah yang
langsung saya dengar dari manajer HR bule. "We pay slave wages in
Indonesia". Berapakah gaji seorang Admin Assistant? Rp. 700 ribu?
Seorang operator mining Rp. 1,5 juta? Rp 2 juta? Itu kan sama dengan
US 62 dolar hingga 200 dolar. Sama dengan upah seorang pencuci
piring selama 5 jam di AS. Kalau orang HR di perusahaan
multinasional sudah bermental kere, maka ia akan bangga memberikan
"slave wages". Kalau manajernya juga bermental begitu...
wah.. ya sudah...

3. Bangga bisa memeras karyawan Indonesia, cuek dengan
gaji konsultan asing. Sebagai orang HR, Anda pasti dipuja-dipuji,
bisa me-reduce cost hingga seminim mungkin. Anda bangga dengan
prestasi ini. Hasilnya: Gaji 200 staff indonesia bisa jadi sama
dengan gaji 10 konsultan bule.... Ini benar ada yg begitu lho (Dan
Anda masih bisa tidur nyenyak???)

4. Punya business ethics tapi diterapkan secara pilih2 di Indonesia.
Wah, bulan2 ini saya dengar banyak perusahaan yang bangga
mensosialisasikan code of conduct/business conduct/business ethics
yg dibuat perusahaan induk. Mulai dari perusahaan konsultasi hingga
groceries dan internet related companies.

Tapi, saya yakin penerapannya pilih2. Contoh: dalam salah satu code
of conduct dari perusahaan konsultan multinasional yang saya
dapatkan di websitenya,
mengatakan: "employees with similar responsibilities
should be rewarded with fair and similar benefits without
discriminations on sex, races, nationalities and religions." Well,
bagus sekali. Dan itu saya kira pas sekali dengan prinsip keadilan
universal.

Lalu saya tanyakan ke teman saya yg kerja di anak perusahaan
setempat, apakah hal itu masuk di versi Indonesianya? Weh, ternyata
tidak.

Usut punya usut, itu bisa jadi 'pasal' rawan, karena
ketika saya tanyakan Berapa range gaji seorang manajer Indonesia?
"Well, seorang manajer perusahaan kami kurang lebih mendapat gaji
Rp. 13 juta/bulan. Yang bule kurang lebih US 10 ribu./bulan" Wah,
itu sich malah business "misconduct" bukan conduct.

So, teman2 HR, itulah kebodohan2 perusahaan multinasional yang
telah saya amati selama bertahun2 bekerja di luar negeri lalu kerja
di dalam negeri. Di malaysia dan AS saya digaji sama dengan orang
bule maupun orang Afrika. Jadi kesimpulan saya adalah: Orang2 HR
Indonesianya sendiri lah yang membuat pekerja Indonesia ini
menderita...

So, marilah kita bersama2 tertawakan para HR staff perusahaan
Multinasional di Indonesia.

Lain kali kalau ketemu orang HR multi-nasional, kita tanyakan saja
apakah ia bener2 bangga kerja di perusahaan dengan karakter di atas.
Bila iya? hehe memang dasar .....

Maafkan saya bila mengungkapkan hal2 yang pahit tapi
benar.

No comments:

Post a Comment