Monday, November 28, 2011

Misteri Candi dan Piramida di Nusantara


Sejarah memang penuh dengan misteri. Banyak orang menganggap jika sejarah itu telah final, statis, dan sama sekali tidak dinamis, tidak hidup. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Sejarah itu hidup dan terus berkembang dengan bukti-bukti baru. Bukti-bukti termutakhir tentang sejarah masa lalu terus bermunculan di masa sekarang. Berbagai situs, candi, fosil, dan sebagainya terus bermunculan ke permukaan kehidupan kita kini. Kita bahkan tidak tahu bukti-bukti apa lagi yang esok akan terus bermunculan, sehingga kita hari ini harus terus merekonstruksi sejarah itu sendiri, harus terus mendesain ulang sejarah kita di masa lalu.

Entah sampai kapan hal ini terus ada dan semuanya merupakan modal penting bagi kehidupan umat manusia di masa depan.

Kita saat ini merasa jika manusia sekarang telah mencapai puncak peradaban, puncak ilmu pengetahuan, dan puncak kejayaan teknologi. Namun tahukah Anda jika hal itu hanyalah pengulangan dari sejarah masa silam?

Kaum Aad dan Tsamud dahulu kala telah memiliki kemampuan untuk membangun gedung-gedung pencakar langit dan mengubah gunung baru menjadi istana. Sisa-sisa kejayaan mereka sampai hari ini masih bisa disaksikan siapa pun di Lembah Petra, Yordania.

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS. Al A’raaf, 7: 74)

Lalu Hiram, sang arsitek Kerajaan Nabi Sulaiman, telah begitu mahir membangun dan mengkonstruksi sebuah istana megah di mana lantainya terlihat bagaikan permukaan air yang sangat jernih hingga membuat Ratu Bilqis terperdaya.

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya”. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Balqis, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.”(QS An Naml 44)

Kita sampai hari ini masih saja terheran-heran, bagaimana manusia-manusia dahulu bisa membangun candi seindah dan semegah Borobudur, bagaimana mereka bisa mengangkat dan memindahkan bebatuan besar guna menyusun Stonehedge, membangun situs-situs raksasa di Pulau Paskah, membuat garis Nazca di Pegunungan Peru, dan lain sebagainya.

Manusia sekarang juga masih bertanya-tanya mengapa di lahan bekas pertempuran besar antara kaum Pandawa melawan Kurawa di Padang Khurusetra, yang sekarang menjadi gurun di Mahendjo Daro, terdapat sisa radiasi nuklir. Apakah Bharatayudha itu merupakan perang modern sehingga dipergunakan senjata berbahan nuklir?

Dan yang paling menarik, tentu saja, kisah kegemilangan nenek moyang kita yang dahulu kala, beribu tahun sebelumnya, telah menghuni apa yang sekarang disebut sebagai Nusantara. Sejarah Nusantara masih teramat banyak yang belum tergali dengan sempurna. Masih teramat banyak misteri yang melingkupinya. Beberapa di antaranya akan dipaparkan di sini.

Bangunan Candi dan Piramida

Indonesia atau Nusantara dahulu kala, puluhan ribu tahun silam, adalah Atlantis. Banyak pihak yang mencemoohkan hal ini, termasuk sebagian orang Indonesia sendiri. Mereka menyatakan jika hal itu hanya sebagai pseudoscientism, ilmu ilmiah jadi-jadian. Lantas siapakah orang yang berani dengan tegas menyatakan Indonesia sekarang adalah Atlantis di zaman dahulu?

Adalah Profesor Arysio Santos des Nunes. Dia Pakar Fisika Nuklir dari Brasil yang menjadi pengajar di sejumlah perguruan tinggi bergengsi di Amerika dan pernah menjadi anggota Dewan Nuklir Dunia di Swiss. Selama tigapuluhan tahun, Santos meneliti Timoeus dan Critias, dua manuskrip tertua karya Plato yang menyinggung keberadaan Atlantis. Hasilnya sungguh mengguncang dunia. Santos dengan sangat yakin menegaskan jika Nusantara merupakan sisa-sisa Atlantis di masa lalu. Tentang Santos dan Atlantisnya bisa dibaca di Eramuslim Digest edisi 11. Demikian juga dengan ulasan dari Profesor Oppenheimer yang menyatakan jika Sunda Land merupakan asal muasal pusat peradaban dunia.

Tentang Santos dan Oppenheimer, kini artikelnya sudah bisa kita baca di mana-mana. Bahkan buku hasil penelitiannya pun sudah diindonesiakan dan dengan mudah bisa diperoleh di berbagai toko buku. Lepas dari keduanya, ada sejumlah temuan unik dan misterius yang berbeda pada bangunan candi dan piramida yang ada di Nusantara, namun memperkuat temuan Santos dan Oppenheimer, terkait dengan Nusantara sebagai pusat peradaban dunia. Beberapa temuan itu akan dipaparkan satu persatu di dalam serial tulisan ini. Inilah di antaranya:

Candi Cetho, Sukuh, dan Penataran

Cetho dalam bahasa Jawa berarti “Nyata”. Candi Cetho terletak di kaki Gunung Lawu, di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada ketinggian 1400 m di atas permukaan laut. Dilihat dari bentuknya, Candi Cetho berbeda dengan candi-candi lain yang ada di Nusantara. Cetho bentuknya menyerupai piramida, mirip dengan candi-candi yang ada di peradaban bangsa Inca dan Suku Maya di Amerika Latin.

Menurut perhitungan sejumlah arkeolog, Cetho dibangun pada akhir zaman Majapahit, di kala kekuasaan Prabu Brawijaya ke V. Namun melihat bentuk fisik dari Cetho, anggapan itu sepertinya kurang tepat. Candi-candi yang dibangun di era akhir Majapahit biasanya terbuat dari batu bata merah, bukan batu kali seperti halnya Cetho. Lalu relief-relief yang ada pada candi-candi Majapahit di era yang sama biasanya detil dan rapih, sedangkan Cetho tidak. Relief-relief di candi Cetho, pemahatannya terlihat sangat sederhana. Ini semua mengindikasikan jika candi Cetho diduga kuat lebih tua usianya ketimbang Kerajaan Majapahit itu sendiri.

Belum lagi bentuk dan rupa aneka patung yang ada di candi Cetho yang sama sekali tidak menggambarkan manusia Jawa yang ada pada zamannya. Namun patung-patung tersebut lebih mirip dengan orang-orang Sumerian yang berasal dari abad ke 3.000 SM.

Sekurangnya ada tiga buah candi yang sampai hari ini masih diselimuti misteri besar. Ketiganya adalah Cetho, Sukuh, dan Penataran. Yang dua pertama terletak di Karanganyar Jawa Tengah, sedangkan yang ketiga berdiri di Blitar Jawa Timur.

Misteri Candi Cetho dan Sukuh

Cetho maupun Sukuh berbentuk piramida terpenggal. Kedua pun sama-sama berada di lereng Gunung Lawu dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Sejumlah arkeolog Indonesia mengatakan bahwa Candi Cetho dan Sukuh dibuat pada akhir Jaman Majapahit di abad ke-15 M. Jika benar demikian, keduanya tergolong masih muda dalam kacamata sejarah.

Selain bentuknya yang tidak lazim seperti candi-candi Hindu lainnya yang ada di Nusantara maupun di seluruh dunia, Cetho dan Sukuh juga menyimpan simbolisme yang aneh yang sangat berbeda dengan candi-candi Hindu lainnya. Keanehan inilah yang menarik perhatian dari Yayasan Turangga Seta, sebuah komunitas penyuka sejarah kebesaran Nusantara, sehingga mereka membuat daftar beberapa kejanggalan yang terdapat di Candi Cetho, Sukuh, dan juga Penataran ini. Menurut catatan mereka terhadap Cetho dan Sukuh antara lain:

Pertama, bebatuan asal candi. Baik Cetho maupun Sukuh terbuat dari batuan kali yang dipahat dan disusun menjadi satu. Padahal, candi-candi pada era Majapahit, biasanya terbuat dari susunan batu bata karena di zaman Majapahit sudah dikenal luas produksi pembuatan batu bata dari tanah liat.

Kedua, berbagai relief yang terdapat pada Candi Cetho dan Sukuh, tingkat presisi dan kerapian pemahatannya masih sangat sederhana seolah di kala itu belum ditemukan alat-alat pahat yang lebih ‘modern’ dan belum ada tukang pahat yang terampil, belum ditemukan teknik pahat yang lebih maju. Hal ini sangat berbeda dengan relief-relief di era Majapahit yang lebih detil dan rumit.

Ketiga, bentuk beberapa patung yang tidak menggambarkan sosok orang Jawa yang ada pada masa itu, namun patung tersebut justru lebih menyerupai sosok orang Sumeria. Memang, tidak semua patung seperti ini karena ada banyak pula patung yang sosoknya mewakili orang Jawa pada masa itu. Walau bagaimana pun, tetap saja pertanyaan mengapa ada patung-patung mirip orang Sumeria di tempat ini mengemuka.

Selain itu, pahatan wajah, bentuk mata, potongan rambut, pakaian, serta perhiasan pada patung-patung di sini juga ada yang tidak mencerminkan model orang Jawa, melainkan bangsa Sumeria, Viking, Mayan, Romawi (Rum), dan Yunani. Kita mengetahui jika sampai sekarang, para sejarawan mengklaim jika peradaban Sumeria merupakan peradaban tertua yang pernah ditemukan di bumi. Ada pula patung ‘orang Sumeria’ yang digambarkan dengan wajah memelas atau ketakutan dengan posisi badan seperti orang yang menyerah atau takluk?

Salah satu contoh, patung ini telinganya tidak menggunakan sumping seperti orang Jawa kebanyakan, namun menggunakan anting-anting. Pada lengan tangan, orang Jawa biasanya menggunakan kelat bahu seperti yang sekarang masih tersimpan di Museum Gajah Jakarta, namun pada patung ini tidak. Pergelangan tangan orang Jawa biasanya juga memakai gelang jenis keroncong, tetapi pada patung ini malah terlihat menggunakan gelang yang sangat mirip dengan jam tangan atau arloji. Asal tahu saja, gelang sejenis ini merupakan gelang ciri khas orang-orang Sumeria. Cobalah mengamati kedua gambar di bawah ini untuk bisa mengetahui di mana persamaannya.

Sudah menjadi tradisi orang Sumeria jika perhiasan berupa gelang yang menyerupai jam tangan hanya digunakan oleh mereka yang berasal dari kalangan bangsawan dan ksatria. Begitu juga dengan bentuk mahkota rambut dan jenggotnya.

Pertanyaannya, mengapa ada patung mirip orang Sumeria yang menurut literatur telah ada pada zaman 3.000-4.000 tahun sebelum Masehi di Candi Cetho? Jika mereka dianggap manusia pertama yang beradab, maka mengapa mereka dibuat seperti orang takluk di lereng Gunung Lawu ini? Benarkah Cetho dan Sukuh dibangun pada abad ke-15 Masehi atau malah usianya jauh lebih tua lagi? Apakah nenek moyang kita dahulu kala pernah bergaul dengan orang Sumeria dalam satu waktu, yang berarti ribuan tahun sebelum masehi?

Tak jauh dari Candi Cetho, terdapat Candi Sukuh. Keduanya sama-sama berdiri di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian 1.186 meter diatas permukaan laut. Candi ini berada di Dusun Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam penulisan banyak artikel, Sukuh lebih terkenal dibandingkan Cetho. Namun sering pula selalu digandengkan. Kepopuleran Sukuh disebabkan bentuknya yang unik, mirip dengan bangunan-bangunan piramida yang ada di Mesir, Chichen Itza, dan Tenochticlan di Mexico, serta Copan di Honduras, hanya saja ukurannya lebih kecil.

Garuda Atau Horus di Sukuh?

Selain bentuknya, salah satu yang menarik di Sukuh adalah patung berbadan manusia namun memiliki sayap. DI depan, patung ini kepalanya hilang, namun di belakang candi terdapat beberapa patung dengan sosok yang sama namun kepalanya masih ada dan berbentuk kepala burung.

Para arkeolog menganggap ini sebagai penjelmaan dari Burung Garuda atau Jatayu. Namun boleh saja mereka menganggapnya demikian, namun dunia lebih mengenal simbol manusia bersayap dengan kepala burung sebagai Horus, “The Famous Bird-head Haggadah”, yang berasal dari bangsa Yahudi.


Piramida Sebagai Bangunan Pengumpul Energi

Coba berhenti sejenak dan kita mulai memikirkan mengapa di berbagai belahan dunia sejak zaman dahulu kala sampai hari ini masih saja ada sejumlah bangunan berbentuk piramida yang terus-menerus didirikan? Ada berbagai gambar dan simbol piramida yang terus-menerus disosialisasikan? Apakah ini hanya kebetulan?

Dahulu, para Firaun Mesir membangun piramida sebagai cungkup makamnya, sebuah cungkup yang amat sangat besar. Bangsa Maya juga membangun piramida sebagai bangunan untuk bisa berkomunikasi dengan Yang Tertinggi. Dan ternyata di lereng Gunung Lawu, juga terdapat bangunan sejenis. Di masa modern, piramida kaca dibangun di depan Louvre Paris, di Washington, juga ada di banyak bangunan di dunia, termasuk di Jakarta. Belum lagi sosialisasi piramida, baik piramida utuh maupun sebagai simbol dan gambar. Bahkan sebuah bank swasta nasional besar di Indonesia pernah memajang gambar Piramida Illuminaty sebagai ikon promosinya.

Bentuk bangunan piramida, kepercayaan esoteris, dan kedatangan Dajjal di akhir zaman sesungguhnya saling terkait. Bagaimana keterkaitannya satu dengan yang lain? [EraMuslim]

No comments:

Post a Comment