Showing posts with label Gunung padang. Show all posts
Showing posts with label Gunung padang. Show all posts

Tuesday, October 23, 2012

SUNDA LAND Menjawab Misteri Benua Atlantis Yang Hilang


Menyingkap Kontroversi Terbesar Sejarah Awal Peradaban Manusia

Kontroversi terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia,  tampaknya kini mulai terungkap. Benua Atlantis seperti disebutkan Plato, Filosof Yunani, dalam bukunya Timaeus and Critias sekitar 2500 tahun silam, dari sudut pandang geologi dan spekulasi ilmiah dewasa ini, sangat mungkin adalah Sunda Land, yang sekarang kita kenal dengan Indonesia Barat (Jawa, Sumatera dan Kalimantan) hingga semenanjung Malaysia dan Thailand.
Benua Atlantis disebut sebagai awal peradaban manusia. Penduduknya memiliki kebudayaan tinggi dan bangsa superior. Namun benua itu telah tenggelam selama ribuan tahun karena berbagai bencana alam. Yang menarik, hingga kini tidak diketahui dengan pasti dimana sebenarnya letak benua Atlantis itu? Dari sudut pandang geologis, ternyata sangat mungkin letak Atlantis justru di tataran Sunda….!
Oki Oktariadi, peserta program Doktor Pengembangan Kewilayahan di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, Jawa Barat, belum lama ini mengungkapkan hasil studi yang menarik mengenai kontroversi misteri  benua yang hilang itu.
”Peradaban Atlantis yang hilang” hingga kini barangkali hanyalah sebuah mitos mengingat belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat tentang keberadaannya.
Mitos itu pertama kali dicetuskan oleh seorang ahli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 - 347 SM), dalam bukunya ”Critias dan Timaeus”. Disebutkan oleh Plato bahwa terdapat awal peradaban yang disebut Benua Atlantis; para penduduknya dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior; benua itu kemudian hilang, tenggelam secara perlahan-lahan karena serangkaian bencana, termasuk gempa bumi. Namun dari sudut pandang geologi masa kini, Atlantis itu sangat mungkin adalah Sunda Land.
Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng. Tetapi sejak abad pertengahan (mid century), kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya. Di antara para ilmuwan itu banyak yang menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. Akan tetapi, kebanyakan peneliti itu tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira.
Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia.
Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang itu? Apabila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?
Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India. Pemahaman tersebut mengacu pada teori yang dianut saat ini yang mengemukakan bahwa pada Jaman Es paling akhir yang dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang lalu mempengaruhi migrasi spesies manusia.
Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas. Pada saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung halamannya di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput purba yang kini dikenal sebagai Afrasia.
Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di bagian paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat manusia betah berada di padang rumput Afrasia ini.
Maka, ketika para ilmuwan barat berspekulasi tentang keberadaan benua Atlantis yang hilang, merekahttp://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=indonwater-20&l=bil&camp=213689&creative=392969&o=1&a=1617201065mengasumsikan bahwa lokasinya terdapat di belahan bumi Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling jauh di sekitar Timur Tengah sekarang.
Penelitian untuk menemukan sisa Atlantis pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan tersebut. Namun di akhir dasawarsa 1990, kontroversi tentang letak Atlantis yang hilang mulai muncul berkaitan dengan pendapat dua orang peneliti, yaitu: Oppenheimer (1999) dan Santos (2005).

Kontroversi Dan Rekonstruksi Oppenheimer
Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak diterbitkannya bukuEden The East (1999) oleh Oppenheimer, Dokter ahli genetic yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah Taman.
Menurut Oppenheimer, munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundalandberimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang.
Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagaiSundaland. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Sundaland malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera.
Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang hidup sebagai petani dan nelayan. Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan fenomena Taman Eden.

Benua Atlantis Menurut ARYSIO SANTOS
Kontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Arysio Santos. Profesor asal Brazil ini menegaskan bahwa Atlantis yang hilang sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian selama 30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Sundaland(Indonesia bagian Barat).
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan samudera Pasifik.
Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
Wilayah Sundaland (Indonesia bagian Barat dalam buku Santos (2005) Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya Lapisan Es yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh Lapisan-lapisan Es. Maka sebagian benua tersebut tenggelam.
Santos berpendapat bahwa meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu). Letusan gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba, dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa yang memecah bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat Sunda (Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk sementara dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).
Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events. Catatan : pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan tidak merupakan pendapat penulis.
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para ahli Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.” Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
Pandangan Geologi
Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es. Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng continental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa pengaturan fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan kontinen, letak daerahSundaland di barat, daerah paparan Sahul atau Arafura di timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara geologi dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen, 1949).
Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti-inti kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.
Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari sistem kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia- Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa jalur tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur gunung api (magmatic arc).
Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya dapat menerangkan pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos, yang meyakini Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut pada jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama lain yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik-titik pusat gempa, barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia), dan banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunung api aktif, titik-titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar, seperti sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai teluk Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu besar.
Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempa bumi di daerah Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami. Para peneliti masa kini terutama Santos (2005) dan sebagian peneliti Amerika Serikat memiliki keyakinan bahwa gejala kerawanan bencana geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung berapi yang bersamaan.
Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada zaman Es suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan bumi utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es. Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman Es digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan gunung api dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan teori kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala besar.
Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhirPleistocene). Proses pelelehan Es di zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang, karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara.
Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia. Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang selat sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
Tempat-tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai puncaknya pada zaman Holosen ±6.000 tahun dengan kondisi muka laut ± 3 m lebih tinggi dari muka laut sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.
Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu (hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain. Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah lebih baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu menyeberangi Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer beranggapan bahwa Taman Eden berada di wilayah Sundaland.
Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak-porandakan dan mengubur sebagian besar hutan-hutan maupun taman-taman sebelumnya. Bahkan sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan dengan akhir Zaman Es yang menenggelamkan sebagian daratan Sundaland.

Riset Gunung Padang : Sebuah Pendekatan & Pemikiran kerakyatan


Munculnya kritik dan sekaligus dukungan atas penelitian disitus Gunung Padang karena dianggap pendekatan arkeologi banyak ditinggalkan. Pada kenyataannya, meski tidak presisi betul anggapan tersebut, yang bisa disampaikan adalah, penelitian ini banyak dilakukan oleh mereka yang memiliki minat yang kuat di lapangan (dan merupakan bagian dari warga negara yang informed), dibandingkan pendekatan keilmuan semata apalagi sudah menutup diri dengan satu cabang ilmu pengetahuan saja.

Karenanya pertanyaan-pertanyaan seperti apakah relevansinya penelitian Gunung Padang dengan masalah yang kita dihadapi saat ini, siapa yang diuntungkan dari penelitian selain peneliti, dan bagaimana manfaat yang bisa dicapai? Bagaimana para peneliti mengetahui apa yang mereka bicarakan? Apakah mereka hanya mengarang cerita ? adalah pertanyana yang hanya bisa dijawab dengan satu kalimat, apapun metode dan siapapun dan dari latar belakang manapun, bahkan ekstrimnya adalah dari negara mana saja, jawabnya adalah penelitian ini hasilnya harus untuk kesejahteraan rakyat, tidak hanya Cianjur Jawa Barat, namun untuk keseluruhan rakyat Indonesia. Inilah yang saya maksud dengan pemikiran dan pendekatan kerakyatan dari Tim Terpadu dan Mandiri Gunung Padang.
Tim ini meski belum selesai, harapannya dengan keterpaduan dan kolaborasi yang mandiri dapat dihasilkan banyak hal.
Diantaranya, pertama, melanjutkan program untuk penelitian masa depan dilokasi atau daerah berdasarkan laporan dan temuan di Gunungadang. Kedua, mampu melakukan evaluasi studi arkeologi dari segi desain penelitian, pendekatan teoretis, dan logika. Ketiga melakukan evaluasi secara etika (dan sampai pada batas hukum tertentu) hal hal seputar dokumentasi, pelestarian situs, interpretasi, dan “kepemilikan” dari peninggalan arkeologis. Keempat, membangun solusi sebagai bentuk bentuk koordinasi baru, sebagai pengalaman penelitian mengapa para peneliti harus mempertimbangkan (kadang-kadang dissenting) atas perspektif pemangku kepentingan yang berbeda.
Penting sedikit saya sampaikan, sedikit ikhtisar tentang Arkeologi, mengingat dalam riset Gunung Padang, kehadirannya sungguh merupakan pencaharian minat, dan didalam perjalanannya seolah arkeologi diranah publik kaitannya dengan penelitian ini, seolah menjadi ilmu yang monade (tanpa pintu dan jendela).
Arkeologi adalah disiplin yang relatif muda dalam humaniora, diciptakan dari studi klasik evolusi sosial di akhir abad kesembilan belas, melalui karya awal seperti John Lubbock dan Pitt Rivers Augustus. Dalam banyak hal, adalah anak dari kedua Charles Darwin dan Karl Marx, yang telah membentuk pengaruh perkembangannya sampai sekarang. Secara metodologis dan teoritis pada pertengahan abad kedua puluhdikembangkan secara khusus oleh Gordon Childe (McNairn 1980). Seperti perkembangan ilmu sosial lainnya teori arkeologi telah melalui serangkaian transformasi sejak tahun 1960, dari ‘sejarah budaya’ (studi perubahan budaya melalui difusi dan migrasi) ke Arkeologi Baru (studi ‘arkeologi prosesual’ ) dan arkeologi pasca-prosesual (berbagai perspektif postmodern dan post-strukturalis). Arkeologi baru mengembangkan kesadaran sosial di tahun 1980-an dan 1990-an
Mari kita coba periksa, seperti menjadi pengetahuan bersama, masa lalu adalah salah satu perbatasan pengetahuan yang besar, dimana eksplorasi dan penemuan masih dapat menggetarkan dan mengejutkan kita dalam mencari asal-usul dan perkembangan kemanusiaan kita. Dimasa kini dalam skala kecil cara untuk mencari tahu siapa kita dengan cara di mana kita telah datang merupakan “warisan” dari generasi generasi sebelumnya.
Hambatan dari teknik ini adalah kita harus mempelajari orang tua kita sebelum sebelumnya yang telah lama mati, yang mungkin telah meninggalkan beberapa catatan atau tidak tertulis dari kehidupan mereka sebelumnya. Keyrbatasa perspektif generasi ini yang membuat modal sosial bangsa ini terhadap posisi sejarah dan budaya menemukan hambatannya. Usia cerita dan dokumentasi rata rata dibawah tujuh generasi bahkan kurang, tentu bukanlah tugas yang mudah.
Karenanya, batu yang dianggap bisu merupakan tantangan luar biasa bagi para peneliti. Tantangan tersebut harus dijawab dengan melakukan mobilisasi beragam bahan sumber dan metode. Tugas mengungkap sisa-sisa peristiwa, orang dan proses yang membentuk jalur yang telah menyebabkan dari awal hingga akhir diyakini sebagai pengetahuan yang hilang yang cepat atau lambat harus segera ditemukan.
Penemuan kembali sejarah pengetahuan ini saat ini sedang dilakukan dengan penelitian disitus Gunung Padang. Para peneliti meyakini, kesejahteraan rakyat Indonesia dan kejayaan nusantara akan terwujud lebih cepat dengan hasil penelitian ini nantinya. Mobilisasi teknik ilmiah yang canggih – georadar, geolistrik, radiokarbon, analisis kimia, analisis geofisika, pengukuran isotop, analisis DNA kuno dan modern, Palinologi, analisis fauna, Osteologi manusia, simulasi komputer, statistik multivariat, analisis metalurgi, dll – diarahkan untuk menjawab pertanyaan tentang kemanusiaan dan ide ide kesejahteraan rakyat.
Sedikit mengurai temuan sementara dari tim, tentang gunung padang. Dari analisis bentang alam memperlihatkan bahwa bukit di bawah Situs Gunung Padang ini tidak selaras dengan sekitarnya, mirip dengan G. Sadahurip tapi lebih “subtle”. Sebagaimana G. Sadahurip, interpretasi geologi yang paling masuk akal untuk bukit yang “solitaire” ini adalah merupakan suatu intrusi batuan beku atau sebuah gunung api purba. Namun, hasil survey pencitraan bawah permukaan Gunung Padang dengan memakai GPR (Ground Penetration radar), Geolistrik, dan Geomagnet tidak menunjang kearah dugaan bentukan proses geologi melainkan tapi malah lebih mengindikasikan suatu struktur bangunan buatan manusia.
Kemudian hasil untuk GPR menggunakan peralatan georadar dari GSSI (USA), geolistrik memakai teknologi multi-channel SuperSting R-8 (USA), dan geomagnet memakai peralatan dari GEM-Ovenhausser yang sangat sensitive dan biasa dipakai oleh para arkeolog dunia.
Dari banyak lintasan pengukuran geolistrik dengan berbagai konfigurasi ketelitian dan “depth of penetration” yang berbeda untuk memperoleh penampang struktur “resistivity” Utara-Selatan dan Barat – Timur. Singkatnya, data geolistrik tidak memperlihatkan struktur intrusi magma, volcanic plug ataupun gunung purba, melainkan satu geometri yang sangat unik dan kelihatannya tidak alamiah.
Di bawah situs justru memperlihatkan ada lapisan dengan resistivity ribuan Ohm-meters (warna merah) dengan tebal sekitar 20-30meter, miring ke Utara tapi uniknya bagian atas lapisan ini seperti TERPANCUNG RATA (di kedalaman 20 meteran dari puncak) dan membaji pas di ujung selatan Situs. Ini kuat mengindikasikan bahwa dari kedalaman 20 meter ke atas merupakan struktur (bangunan) yang dibuat manusia. Lapisan high resistivity (merah) biasanya adalah batuan keras massif – seperti batuan andesit-basalt. Kemudian yang lebih mencengangkan lagi di bawah lapisan merah ini juga kelihatannya sukar untuk dikatakan bentukan geologi. Di bawah lapisan merah ada lapisan yang “low-resistivity” dengan bentukan-bentukan membulat dari zona very low resistivity (mendekati 1 ohm-m = true conductor).
Yang lebih unik lagi lapisan biru ini dialasi oleh suatu struktur high resistivity (batuan keras) yang berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa”. Posisi cawan ini kira-kira sekitar 100 meter dari puncak atau setara dengan level tempat parkir dipermulaan tangga untuk naik ke situs.
Kenampakan struktur cawan ini sangat konsisten terlihat di lintasan Utara-Selatan dan Barat-Timur dan diberbagai konfigurasi survey. Sebagai informasi, keberadaan struktur seperti cawan atau kolam ini juga terdapat di penampang resistivity hasil survey geolistrik di Gunung Sadahurip.
Dugaan dari hasil survey Geolistrik bahwa lapisan sekitar 20 meter ke bawah dari atas situs adalah sebuah konstruksi bangunan ditunjang oleh Survey GPR. Survey GPR dilakukan berbagai lintasan atas situs dengan memakai antenna MLF 40 MHz dari SIR-20 GSSI yang dapat menembus kedalaman sampai sekitar 25-30 meteran. Dari GPR terlihat ada bidang “very high reflector” di kedalaman sekitar 3-5 meter dari permukaan di semua teras. Bidang ini sangat horizontal dan juga membentuk undak-undak seperti situs di atasnya.
Dibawah bidang ini struktur lapisan tidak kalah unik. Ada lapisan melintang yang memotong lapisan-lapisan horizontal yang tidak mungkin merupakan struktur geologi untuk lingkungan di bukit ‘vulkanik’. Singkatnya, penampang georadar sangat mendukung adanya struktur bangunan sampai kedalaman 20 m.
Tim juga kemudian melakukan survey geolistrik 3-D di atas situs yang dimaksudkan untuk mendapatkan sub-surface structure yang lebih detil sampai kedalaman 25 meteran. Survey 3-D berhasil meng-iluminasi struktur di bawah situs dengan baik. Salah satu hasil yang membuat kami terperangah adalah kenampakan tiga tubuh “very-high resistivity” (lebih dari 50.000 ohm.m) di bawah situs. Dengan nilai resistivitas setinggi ini kemungkinannya ada dua: tubuh yang sangat solid/pejal atau merupakan ruang (“CHAMBER”).
Dalam konteks-nya dengan struktur disekitarnya yang paling mungkin adalah merupakan ruang kosong atau chamber. Dimensi chamber tersebut kelihatannya sangat besar. Ada satu yang kira-kira 10x10x10 meter. yang menakjubkan adalah hasil survey geomagnet memperlihatkan ada anomaly magnetic yang tinggi di beberapa lokasi. Salah satunya yang besar terletak persis disamping struktur yang diduga chamber besar. Anomali magnetic tinggi bisa berasosiasi dengan timbunan barang-barang terbuat dari bahan metal/logam.
Penelitian belum selesai, namun dimensi kerakyatan dari penelitian ini semakin menjadi jadi. Secara kongkrit belum akan disimpulkan dan disampaikan. Namun hipotesis bahwa kita berada dikawasan yang memiliki peradaban adiluhur sudah menjadi cakrawala kami.
Yang baru kami lakukan barulah mendorong prinsip kesimbangan antara scientific progress dan publikasi umum dari peneliitian Gunung Padang. Kami meyakini bahwa sebelum teks dan menjadi referensi atas pemikiran dan pendekatan terhadap sejarah dan budaya, ada konteks yang memulai, ada rakyat dengan sistem yang melingkupinya.
Sebelum kita dekati “batu bisu” dengan “teori sejarah”, mengapa kita tidak mulai dengan “batu bicara” tentang “sejarah teori”, mulainya kemakmuran lantas kemunduran dikelak kemudian, dengan bencana yang bersifat katastrof sebagai fakta “keras” hidup dalam geohazard yang terbuka.
Dr. Dani Hillman Natawidjaja dan tim sedang menuntaskan penelitian, mari kita tunggu kemajuannya.
Kita Bisa Karena Merdeka, salam
Andi Arief

Ditulis Oleh:Andi Arief

Wednesday, October 17, 2012

PLATO TIDAK BOHONG ATLANTIS ADA DI ZAMAN PRA-SEJARAH INDONESIA: Membedah Timiaeus - Critias dan Buku Santos "Atlantis: The Lost Continent Finally found"



 OLEH:

DR. Danny Hilman Natawidjaja  dan Tim Katastrofi Purba

Plato adalah filosof dan ilmuwan besar yang hidup pada masa  masa 424 s/d 347 Sebelum Masehi.   Dia adalah murid Socrates yang tidak kalah hebatnya.   Dua konsep Plato yang sampai sekarang menjadi acuan dunia adalah konsep negara replubik (dari bukunya yang berjudul “Republic”) dan konsep tentang empat unsur utama pembentuk alam, yaitu: Api, Air, Tanah, dan Udara.  Peninggalan Plato lain yang tidak kalah terkenalnya tapi sangat kontroversial adalah tentang kisah Kerajaan Atlantis yang dituangkan dalam Dialog Timaeus dan Critias.  Untuk memahami Atlantis harus mempelajari sumber aslinya langsung tidak hanya membaca pembahasan Atlantis di berbagai buku, termasuk Karya Santos.  Anda akan terkejut bahwa  hampir semua kontroversi itu jawabannya ada dalam dua Dialog Plato tersebut.
Dalam Dialog Plato dikatakan bahwa Kisah Atlantis berdasarkan fakta bukan fiktif, dan sudah diakui kebenarannya oleh Solon, seorang legislator Yunani yang sangat dihormati dan paling bijak yang hidup 150 tahun lalu sebelum zaman Plato (A-1).    Solon mendapatkan naskah ini ketika berkunjung ke Kota Sais di Mesir dari para pendeta tinggi di sana.  Sumber asli-nya adalah prasasti dalam huruf sangat kuno (“hierroglyphs”?) yang  diterjemahkan ke dalam bahasa Mesir waktu itu oleh para pendeta tersebut (A-2).   Kemudian oleh Solon Naskah itu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Yunani dan kemudian diberikan kepada sahabatnya Dropides, kakek buyut Plato (A-2).  Selanjutnya naskah asli terjemahan Solon itu  jatuh ke tangan Critias, kakek Plato, dan kemudian diserahkan ke Plato dan dipelajarinya sejak kecil (A-2,3).
Ada sebagian orang yang menyangka bahwa Atlantis hanya ada dalam imajinasi Plato belaka sebagai negeri ideal yang diuraikan dalam buku Republiknya.  Ini sangat gegabah dan tidak berdasar.  Sama saja mengatakan bahwa Plato bohong.  Bagaimana mungkin seorang  Plato bisa berbohong tanpa alasan yang kuat ?  Ini tidak masuk akal.   Negeri Atlantis yang sangat dikagumi Plato dalam Timaeus dan Critias tidak mirip dengan negeri ‘Republik’nya Plato, bahkan merupakan anti-thesisnya.  Negeri Republik-idealnya Plato mungkin lebih mengacu ke ‘Athena purba’ yang dalam Dialog Timaeus dikatakan mempunyai sistem konstitusi yang luarbiasa (A-9). Sebaliknya  Atlantis adalah negeri dengan sistem kerajaan yang diperintah oleh kekuasaan absolut dari para rajanya (A-37).
Timaeus dan Critias tidak semata-mata berkisah tentang Atlantis, tapi mungkin pada awalnya malah ditujukan untuk menceritakan kepahlawanan  pasukan Athena kuno yang menang perang melawan pasukan Atlantis di wilayah Mediteranian (A4,10,12).   Raja Atlantis dan pasukan tempur maritimnya datang menyebrangi Samudra 'Atlantic' untuk menaklukan seluruh wilayah Eropa dan Afrika (A10).  Banyak wilayah Eropa dan Afrika yang sudah ditaklukan tapi pasukan gabungan negara-negara Yunani yang dipimpin Athena tetap berperang dengan gigih melawan pasukan Atlantis (Timaeus).  Pada akhirnya pasukan Athena menang (A.10), sehingga wilayah yang tadinya sudah takluk terhadap Atlantis bebas, khususnya Mesir (Timaeus).  Para pendeta tertinggi Mesir memberikan naskah kuno tersebut kepada Solon sebagai penghargaan terhadap jasa para pahlawan Athena yang dulu pernah membebaskan Mesir dari kekuasaan Atlantis (A1).   Jadi Dialog Plato tidak melulu bercerita tentang Atlantis tapi juga tentang kebesaran Athena purba (A.9).  Perlu digaris-bawahi bahwa yang dimaksud dengan Athena (oleh Plato) bukan Athena yang dikenal masyarakat pada waktu itu tapi peradaban kuno yang menjadi leluhur bangsa Athena dan juga Mesir, yang juga sudah tidak dikenal lagi (A9).
Lebih jauh, Plato menguraikan suatu kearifan yang luarbiasa bahwa sesungguhnya peradaban manusia dulu sudah banyak yang lebih maju tapi selalu dimusnahkan oleh bencana katastrofi yang terjadi berulang-ulang dalam perioda yang sangat panjang  sehingga hilang tidak berbekas (A5,6,7,8).  Misalnya dikatakan Plato bahwa dulu (pada Zaman Atlantis/Athena Purba) orang bisa melintasi Samudra Atlantic, tapi pada zamannya sudah tidak mampu lagi (A-10).  Alasannya karena para ilmuwan dan teknokrat masa purba yang tinggal diperkotaan mati oleh bencana, yang tersisa biasanya adalah golongan yang berpendidikan rendah, seperti para petani dan peternak yang hidup di desa-desa (A6,7).  Selain itu, tidak banyak catatan tertulis tentang tradisi dan IPTEK yang sudah dicapai pada masa purba sehingga  generasi selanjutnya harus kembali belajar dari nol, tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi di masa dahulu kala (A5,7,8).  Itu pula sebabnya kenapa orang tidak tahu tentang kisah Atlantis dan Athena purba. Plato kemudian mengatakan bahwa generasi dia atau yang akan datangpun bisa mengalami nasib yang sama.
Di mana lokasi Negeri Atlantis?  Yang pasti bukan di sekitar wilayah Laut Tengah (Mediteranian), yaitu: Eropa , Asia (Turki) dan Mesir (Afrika Utara).  Semua kandidat Atlantis yang diajukan dari wilayah Mediteranian ini, termasuk Crete - Minoan, Cyprus, dll tidak ada yang cocok dengan deskripsi dalam Dialog Plato, kecuali sebagian saja.  Selain itu jelas dikatakan bahwa Raja Atlantis dan pasukan tempur-maritimnya datang dari Samudra Atlantic untuk menyerang Eropa dan Asia, bukan berasal dari wilayah ini (A.10).  Jadi, pasukan Maritim Atlantis kemungkinan besar masuk via Selat Gibraltar terus ke Laut tengah (Mediteranian).
Pada Zaman Plato orang Eropa tidak ada yang bisa berlayar menyebrangi Samudra Atlantic  sehingga tidak ada orang yang tahu sampai mana batas Samudra Atlantic dan ada apa di seberang sana.   Apakah mungkin Daratan Atlantis itu berada di Samudra Atlantic menurut pengertian kini?  Ini juga tafsiran yang salah kaprah.  Istilah/nama pada zaman dahulu belum tentu sama dengan arti pada zaman sekarang.   Santos menghabiskan satu bab dalam bukunya untuk menguraikan bahwa yang disebut Samudra Atlantic oleh orang-orang Eropa pada  zaman Plato adalah samudra yang mengelilingi seluruh dunia.  Selanjutnya Santos menguraikan berbagai peta dan naskah kuno yang memperlihatkan tidak ada pembagian Samudra seperti sekarang (Atlantic, Pasific, Hindia).  Satu kasus menarik dalam sejarah adalah tentang  Christoper Colombus yang mengarungi Samudra Atlantic (dari Eropa/Mediteranian) untuk mencari 'The East Indies' (konon "hidden agenda" Colombus adalah mendapat mandat dari Kerajaan Inggris untuk mencari Tanah Surga Atlantis - WallahuAlam).  Namun Colombus terdampar di Benua Amerika.  Ini berarti sampai masa Colombus orang Eropa tidak mengetahui keberadaan Benua Amerika, disangkanya  dengan menyebrang Samudra Atlantic akan sampai ke East Indie tersebut.   Itu sebabnya kenapa penduduk asli Amerika disebut sebagai 'Indian' oleh Colombus karena ketidaktahuannya.   Jadi mencari Atlantis hanya di Samudra Atlantic sekarang adalah kesalahan besar, apalagi sampai ngotot membuat hipotesa konyol tentang benua hilang di tengah-tengah Samudra Atlantik yang dari sudut pandang ilmu geologi adalah hal mustahil.
Untuk memahami dan mencari lokasi Atlantis yang sebenarnya kita harus mencermati ciri-ciri kondisi alam nya yang diuraikan dengan cukup rinci dalam Dialog Timaeus dan Critias.  Saya membantu merangkumnya, sebagai berikut:
  1. Negeri Atlantis berada di sebuah pulau/daratan di seberang Samudra Atlantic dari Eropa Barat.  Pulau tersebut terletak di muka selat-selat yang disebut sebagai "Pillar Heracles" (A.10).  Luas pulau ini lebih besar dari Libya dan Asia pada waktu itu.  Wilayah di dalam atau diantara selat-selat Heracles itu hanya ada laut dangkal dan pelabuhan dengan akses kanal yang sempit, tapi yang diluar selat adalah benar-benar lautan luas yang diujungnya dibatasi oleh benua tak bertepi.
  2. Bahwa pulau/daratan  yang dimaksud di-poin 1 sebenarnya merupakan semenanjung besar/panjang  yang menjorok  ke arah lautan dari bagian pinggiran sebuah benua.  Semenanjung besar ini dikelilingi oleh lautan dalam (A14).
  3. Di tengah-tengah Pulau Atlantis ada wilayah dataran luas yang terindah di dunia dan tidak ada yang mengalahkan kesuburannya (A16).  Morfologi dataran itu sangat rata, berbentuk persegi panjang dengan ukuran: panjang 555 km dan lebar 370 km (A30).  Tanah datar ini dikelilingi oleh wilayah pegunungan dengan gunung-gunung/bukit-bukit  yang yang berbagai ukuran dan terkenal sangat indah(A31).  Dari wilayah pegunungan ini mengalir banyak sungai-sungai ke arah dataran, kemudian sungai tersebut mengalir meliuk-liuk di wilayah dataran (aluvial).  Semua aliran sungai ini bersatu dan masuk ke wilayah kota metropolis Atlantis yang dibangun di atas wilayah dataran ini, dan kemudian induk sungai itu mengalir ke laut (A33).
  4. Tanah Negeri Atlantis sangat subur, terbaik di dunia,  yang menghasilkan buah-buahan sangat berlimpah dan banyak sekali macamnya (A13);  termasuk jenis buah yang kulit luarnya keras yang bisa diminum airnya, dimakan dagingnya, dan juga dimanfaatkan minyaknya, alias KELAPA  (A20).  Tanah pertaniannya selalu mendapat kecukupan air dengan memanfaatkan air hujan ketika musim hujan dan kanal-kanal irigasi air dari banyak aliran sungai ketika musim kemarau.  Hasilnya dipanen dua kali dalam setahun (A35). 
  5. Selain pertanian banyak tumbuh  pohon-pohon besar-tinggi yang menambah keindahan alam (A28), disamping juga menghasilkan berbagai macam kayu untuk bahan mebel dan bangunan (A18).
  6. Tanah Atlantis adalah sumber dari segala wewangian yang berasal dari akar-akaran, tanaman herbal dan berbagai macam kayu, atau konsentrat  minyak wangi yang didestilasi dari buah-buahan dan bunga-bungaan (A20). 
  7. Fauna di Negeri Atlantis luar biasa banyak populasi dan ragamnya. Terdapat populasi gajah yang sangat banyak, dan berbagai jenis binatang yang menghuni wilayah danau-danau, rawa-rawa, sungai-sungai, dan juga yang hidup di wilayah pegunungan dan dataran (A19), baik yang liar ataupun yang dipelihara (A18).    Diantara binatang buas ada yang terkenal paling besar dan terganas  sedunia(A19).  Di perairannya terdapat banyak ikan lumba-lumba yang diilustrasikan sangat akrab dengan penduduk Atlantis. Kuda-kuda pun sangat  banyak.  Di wilayah dataran dibangun arena pacuan kuda yang sangat besar, di sepanjang Pulau (ratusan kilometer) dengan lebar arena pacu  ~200 meter (A28).
  8. Tanah Atlantis juga sangat kaya dengan sumber daya mineral dan logam.  Ada banyak macam batu-batuan beraneka warna yang dipakai untuk membangun berbagai bangunan, istana-istana, dan kuil-kuil (candi-candi)  (A24).  Tanah Atlantis juga penghasil banyak sekali emas, perak, tembaga, dan "orichalcum" (logam mulia sejenis campuran emas-tembaga yang bercahaya merah).  Semua bahan logam ini sudah ditambang dan digunakan untuk berbagai keperluan termasuk untuk membuat hiasan dan patung-patung, juga untuk melapisi dinding dan lantai bangunan (A24,26). 
  9. Selain itu di Negeri Atlantis banyak terdapat sumber-sumber mata air panas dan dingin yang dibuat menjadi pancuran di dalam gedung-gedung untuk tempat bersantai dan mandi-mandi yang dilengkapi dengan berbagai tanaman disekitarnya (A27).
Peradaban Atlantis diilustrasikan sangat maju.  Dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah, Atlantis mampu membangun banyak kuil/candi tempat beribadah, istana-istana, dan pelabuhan-pelabuhan (A21).  Keahlian yang sangat menonjol terutama dalam membuat kanal-kanal besar di seluruh wilayah negerinya.   Di sekeliling dataran Atlantis dibangun kanal besar dengan lebar 1 stadia (185m) dan dalamnya 100ft (~35m) membentuk lingkaran konsentris sepanjang  1000 stadia (1850 km).  Kemudian dibangun juga jaringan kanal-kanal selebar 100 ft dari wilayah hulu sungai (di pegunungan) sampai ke dataran, terus sampai ke kota untuk membawa berbagai hasil hutan/pertanian (kayu dan buah-buahan).  Jarak antara jaringan kanal-kanal adalah 100 stadia (~18.5km)  yang terhubung satu sama lain (A34).  Wilayah hulu-hulu sungai (pegunungan) dihuni oleh para pemilik dan pengolah tanah pertanian dan peternakan yang kaya raya.  Mereka mensuplai berbagai kebutuhan pangan untuk penduduk negeri. (A31)

Di wilayah dataran ini terdapat Ibu Kota Metropolis Atlantis yang besar, canggih, dan sangat elok (A22-29.   Arsitekturnya kota juga didominasi oleh teknologi kanal dan jembatan.  Di tengah kota terdapat pulau utama yang berdiameter 5 stadia (~1km).  Di tengah pulau tersebut terdapat Istana Poseidon yang sangat megah.  Pulau utama tersebut dikelilingi oleh selang-seling zona tanah dan air yang konsentris membentuk lingkaran sebanyak 10 lapis.  Zona paling luar selebar 50 stadia (~9.2km) adalah tempat pusat kota Atlantis yang dipinggirannya dibangun  benteng tersusun dari batu yang membatasinya dengan wilayah sekitar.    Di satu sisi benteng yang menuju lautan lepas dibangun kanal utama yang memotong zona paling luar tersebut menuju pelabuhan utama Atlantis.  Lebar kanal adalah 300 ft (100m) dengan kedalaman sekitar 100ft (35m) sepanjang 9.2km.  Dua zona tanah dan air di sebelah dalam dari pelabuhan selebar 3 stadia (555m).   Empat zona tanah dan air berikutnya mempunyai lebar 2 stadia   (370m). Kemudian dua zona tanah dan air yang langsung mengitari pulau utama mempunyai lebar masing-masing 1 stadia (185m).  Semua zona yang melingkar konsentris tersebut dihubungkan dengan jembatan dan kanal.
Ringkasnya, uraian di atas di atas jelas ciri-ciri alam daratan Atlantis menunjukkan ciri-ciri alam tropis yang sangat subur dan mempunyai kekayaan sumber daya alam luarbiasa, termasuk keragaman flora-fauna, pertanian, hasil hutan, dan pertambangan logam.   Daratan tersebut bukan pulau terpisah tapi anjungan besar dari sebuah benua, dimana di tengahnya terdapat dataran rendah yang luas dan landai dikelilingi oleh jalur pegunungan dengan gunung-gunung api aktif.  Kemudian geografisnya juga  dicirikan oleh dataran besar aluvial landai yang berdimensi 555 x 370 km berada di tengah daratan dan dialiri sungai (sangat besar) yang hulu-hulunya berasal dari pegunungan yang  mengelilinginya.  Sumber daya alam yang luarbiasa tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk membangun sebuah negeri maritim yang besar dan elok dan sangat tinggi peradabannya.  Kekuasaan Atlantis meliputi pulau besar yang diuraikan di atas ditambah pulau-pulau lainnya dan juga sebagian wilayah benua (A10).   Jadi bukan hal aneh apabila sisa-sisa peradaban Atlantis ini ditemukan hampir diseluruh dunia, termasuk wilayah di benua Amerika, Asia, dan Afrika.  Pada zaman Atlantis, sebelum 11.600 tahun lalu, ketika  dunia masih berada dalam zaman es, dikatakan bahwa negeri di wilayah tropis ini jauh lebih subur dan nyaman dibanding sekarang (Zaman Solon-Plato) karena iklimnya berbeda, temperaturnya beberapa derajat lebih dingin.  Pada zaman es wilayah ini merupakan yang terkaya, terindah dan ternyaman di muka bumi, seperti yang diilustrasikan oleh Dialog Plato, namun sudah mengalami  degradasi akibat erosi, sedimentasi dsb. (A-15).
Kemudian diceritakan bahwa pada masa kejayaan,  penduduk negeri Atlantis sangat patuh pada aturan, taat beribadat, sangat menjunjung tinggi budi pekerti yang luhur, dan tidak kemaruk oleh keduniawian walaupun berlimpah harta dan emas-permata.  Namun akhirnya mereka lupa diri, kemudian berambisi ingin menaklukan siapa saja di seluruh dunia.  Sampai akhirnya tidak lama setelah kalah perang melawan Athena Purba, sekitar 11.600 tahun lalu (BP),  Negeri Atlantis musnah oleh bencana katastrofi.  Peristiwa ini dimulai dengan  hujan yang sangat lebat mengguyur Negeri Atlantis selama satu malam. Setelah itu datanglah bencana gempabumi yang sangat dahsyat yang diikuti oleh banjir besar (=tsunami)  yang hempasan gelombangnya menginundasi daratan sampai jauh ke dalam (A-11,37) memusnahkan Negeri Atlantis hanya dalam sehari-semalam.  Dikatakan bahwa Negeri Atlantis (seperti) hilang tenggelam di bawah laut, dan setelah itu laut di sekitar Pulau Atlantis yang ‘tenggelam’ jadi sukar untuk dilayari karena banyak  tumpukan lumpur (A-37).
Perlu dikaji bahwa ekspresi ‘Pulau Atlantis tenggelam dalam sehari-semalam’ tidak harus diinterpretasikan secara literal.  Ingat bahwa setelah bencana tsunami di Aceh tahun 2004.  Orang sering mengekspresikan bahwa ‘Kota Banda Aceh tenggelam’ oleh tsunami.  Memang benar Banda Aceh tenggelam seketika di-inundasi gelombang tsunami, tapi air laut surut lagi.  Namun, tanah Banda Aceh  turun sampai setengah meter akibat tektonik (“tectonic subsidence”) sehingga bagian pantainya tetap di bawah air.  Banda Aceh juga dipenuhi oleh lumpur beserta berbagai sampah yang dibawa oleh air.  Jadi deskripsi kondisi Banda Aceh setelah tsunami ada kemiripan dengan  deskripsi kondisi Atlantis setelah ‘gempa dan banjir’ tersebut, yaitu dikatakan tenggelam dan penuh lumpur, yang dalam hal ini yang dimaksud adalah bagian dataran rendahnya saja di mana Kota Metropolis Atlantis berada.
Pada masa Solon (600 M) Pulau Atlantis memang sudah benar-benar tenggelam di bawah laut, tapi tenggelamnya daratan Atlantis di bawah laut tidak terjadi dalam sehari-semalam karena bencana banjir besar yang terjadi pada 11.600 tahun lalu tersebut,  melainkan melalui proses alam yang perlahan dan sangat lama.  Hal ini diilustrasikan dalam Dialog Plato dengan mengilustrasikan terjadinya proses erosi dan  sedimentasi secara perlahan-lahan selama ribuan tahun sehingga terjadi akumulasi tebal (yang menutupi apapun yang di bawahnya) dan berbarengan dengan itu air laut terus naik (atau bisa juga diekspresikan dengan ‘tanahnya yang terus turun’), sehingga akhirnya pulau besar Atlantis seperti  hilang dari pandangan, tapi masih menyisakan tulang-tulang daratan (wilayah pegunungan) yang masih terlihat di atas muka laut berupa pulau-pulau yang lebih kecil (A-15).  Nah, dengan pengetahuan ini pencarian daratan Atlantis menjadi lebih mudah lagi, bukan?
Jadi, “to the point” saja, di mana Atlantis? Ah, tidak perlu jenius untuk menjawab hal ini.  Silahkan membuka peta dunia dan mencari sendiri wilayah mana yang memenuhi kriteria Tanah Atlantis di wilayah Tropis, tidak banyak pilihannya.  Ya, benar,  tidak ada pilihan lain kecuali “Sundaland”,  daratan yang dulu lebih luas dari ‘Lybia’ (Afrika Utara)+ ‘Asia’(=Turki)  tapi sudah tenggelam sehingga hanya kelihatan ‘tulangnya’ saja, yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.   Daratan besar lain yang berada di zona Tropis adalah di bagian tengah dari Benua Afrika (Kongo, Tanzania, Kenya, Uganda, dll) dan Bagian Selatan Benua Amerika (Brasil, Peru, Equador, Kolombia, Venezuella).  Tapi dua lokasi daratan ini tidak tenggelam dan tidak pernah tenggelam sejak 20.000 tahun lalu, juga ciri-ciri geografisnya tidak memenuhi deskripsi Plato.  Sundaland 100% cocok dengan semua deskripsi tentang Pulau/Daratan Atlantis yang diuraikan dalam Timaeus dan Critias.  Sundaland pada masa 11.600 tahun lalu adalah daratan yang notabene merupakan semenanjung besar yang menjorok dari Benua Asia.  Semua ciri-ciri alam, termasuk jenis flora-faunanya dan sumber daya mineral-logam (emas, perak, tembaga) yang disebutkan dalam Critias dipunyai oleh Sundaland.   Ditambah lagi uraian tentang adanya dataran aluvial besar di tengah-tengah tanah Atlantis yang hulu-hulu sungainya dari pegunungan di sekitarnya sangat pas dengan keberadaan Sungai Sunda purba di perairan Laut Jawa dan Selat Malaka yang anak-anak sungainya bermuara di punggungan Sumatra, Jawa, dan Kalimantan yang mengelilinginya.   Jadi kalau dikatakan sungai purba di Sundaland bukan bukti adanya peradaban Atlantis memang bukan bukti langsung atau yang berdiri sendiri melainkan salah satu faktor utama untuk memenuhi kriteria Atlantisnya Plato.  Lebih lanjut lagi, dimensi tanah landai dimana terdapat Kota Metropolis Atlantis, yaitu 555 x 370 km, pas juga dengan dimensi Laut Jawa, bekas dataran aluvial landai yang sudah tenggelam; silahkan diukur sendiri supaya yakin.
Atlantis = Sundaland, itu juga yang diteriakkan oleh Santos dalam bukunya : “ATLANTIS  the Lost Continent Finaly found”.  Uraiannya cukup ruwet dan berliku-liku dan terkadang seperti tidak masuk akal, tapi ide utama yang dikemukakan sebetulnya simpel dan brilian.  Sebelumnya sudah banyak berbagai kandidat Atlantis yang diajukan tapi tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat dan anehnya tidak ada satupun yang melirik Sundaland.  Apakah memang tidak ada orang yang serius membaca Timaeus dan Critias, atau barangkali disengaja untuk mengecoh orang  dengan membuat banyak “decoy-decoy” yang tidak masuk akal apapun tujuannya, Wallahualam.  Santos punya kesalahan cukup fatal  karena menafsirkan Pulau Atlantis benar-benar tenggelam dalam sehari-semalam, seperti banyak ditafsirkan oleh banyak orang.   Oleh karena itu dia mengajukan hipotesa yang seolah-olah sudah benar-benar dia yakini bahwa yang menghancurkan dan menenggelamkan Pulau Atlantis adalah letusan gunung api Krakatau Purba yang kemudian memicu massa es di bumi mencair seketika sehingga menaikkan air laut sampai puluhan meter hanya dalam sehari-semalam.  Alasan ini  tentu tidak bisa diterima oleh ilmu geologi  karena letusan katastrofi tidak membuat es mencair, tapi sebaliknya malah menurunkan temperatur  bumi  seperti halnya letusan Toba yang menurunkan temperatur bumi beberapa derajat selama 6 tahun.  Disamping itu dalam Timaeus-Critias tidak menyinggung fenomena bencana letusan gunung api.  Walaubagaimanapun, karya Santos sangat berjasa dalam membukakan ide tentang lokasi Atlantis yang lebih masuk akal ini.  Selain itu dia terutama sudah bekerja keras mengumpulkan banyak mitos, tradisi, peta dan catatan kuno, serta berbagai literatur untuk memperkuat bukti bahwa bukan hanya Plato yang mengatakan tentang adanya  ‘Tanah Surga Purba - Pusat Peradaban Dunia’ tapi juga diceritakan oleh banyak sumber yang meskipun nama sebutannya  berbeda-beda tapi deskripsinya banyak kemiripan dengan deskripsi Atlantis-nya Pluto.  Misalnya adalah cerita dari ahli sejarah Yunani terkenal yang hidup pada Abad satu sebelum Masehi, yaitu Diodorus Sicculus, tentang “Islands of Heliads” atau Negeri Matahari jauh di selatan di wilayah lautan di Selatan India; atau tentang Negeri “PUNT”orang Mesir yang dikatakan sebagai negeri pertama para leluhurnya yang terletak jauh di timur.
Nama pusat peradaban kuno yang cukup terkenal selain Atlantis adalah LEMURIA atau Tanah Mu (“The Land of Mu”).  Kisah Mu pertamakali dikemukakan oleh Le Ploengon (1825-1907) setelah dia kembali dari perjalanannya melihat sisa-sisa reruntuhan peradaban Maya di Yucatan, Mexico.  Dari berbagai relief bangunan,artefak,  simbol-simbol, dan tulisan hieroglpyhs yang ditemukan di sana Le Ploengon berkesimpulan bahwa peradaban (leluhur) bangsa Maya lebih tua dari peradaban Mesir dan Yunani, bahkan lebih jauh lagi menginduk ke peradaban sangat kuno dari satu daratan yang dulu tenggelam karena bencana.  Salah satu leluhur dari daratan tenggelam itu adalah ‘Ratu Moo’ yang membangun peradaban di Mesir dan Yunani.  Le Ploengon kemudian menginterpretasikan bahwa daratan yang dimaksud bangsa Maya adalah sama dengan tanah Atlantis di dalam Timaeus dan Critias yang menurut keyakinannya ada di tengah Samudra Atlantic .  Le Ploengon adalah juga seorang pioneer dalam penggunaan kamera foto (termasuk teknik foto 3-D) untuk mendokumentasikan reruntuhan Maya tersebut.   Dokumen foto-foto nya menjadi data yang sangat berharga karena sekarang banyak sisa-sisa reruntuhan Maya yang sudah rusak atau dimusnahkan (oleh Spanyol).  Koleksi Foto-foto, catatan harian dan berbagai catatan-analisa Le Ploengon yang asli sekarang tersimpan di Museum Getty, Los Angeles.
Kemudian, James Churchward (1851–1936) lebih mempopulerkan lagi ide-nya Le Ploengon tersebut dalam satu seri buku-nya yaitu: Lost Continent of Mu, the Motherland of Man (1926), kemudian di-edit lagi menjadi The Lost Continent Mu (1931), dan seterusnya ditulis dalam buku populer berjudul  The Children of Mu (1931) dan The Sacred Symbols of Mu (1933).  Churhward meng-klaim bahwa urain didalam buku-bukunya tersebut adalah dari transkrip huruf kuno pada dua buah tablet tanah yang diperlihatkan oleh pendeta tinggi di India (ketika dia sedang berdinas sebagai militer di sana) dan juga dari 2500 tablet batu bertulis dari reruntuhan Maya di Meksiko yang dikumpulkan oleh William Niven.  Tapi, konon, 2500 tablet batu itu sayangnya raib ketika sedang dikirim dari Meksiko ke USA.  Singkatnya Churchward menguraikan bahwa di Tanah Mu atau Le-MU-ria  ada peradaban tinggi bangsa “Naacal” yang berkembang sejak 50.000 tahun lalu sampai 12.000 tahun lalu, yaitu saat musnah karena bencana alam.  Ketika terjadi benjana besar tersebut populasi bangsa  Mu sudah mencapai  64 juta penduduk dan meninggalkan banyak kota-kota besar dan koloni-nya diberbagai tempat di dunia.  Salah satu ciri khusus dari peninggalan bangsa Mu atau Naacal ini adalah simbol (Dewa) Matahari dan (manusia) burung yang terukir diberbagai artefak dan peninggalan megalitik di banyak tempat di dunia, termasuk patung-patung batu besar (Moai) di Pulau Easter, Polinesia.   Namun, berbeda dengan interpretasi Le Ploengon, Churhward percaya bahwa daratan besar yang tenggelam dari leluhur bangsa Maya (dan juga bangsa-bangsa lainnya, termasuk Mesir dan Yunani) adalah di tengah-tengah Samudra Pasific, bukan di Samudra Atlantic.
Baik karya Le Ploengon ataupun Churchward dua-duanya banyak dicemoohkan oleh kalangan ilmiah.  Yang Menarik, alasan utama kenapa karya mereka ‘dibuang’ adalah karena berhipotesa tentang benua yang tenggelam di tengah samudra , yang satu bilang di Atlantic lainnya di Pasific, karena ini adalah hal yang mustahil untuk dunia ilmiah, khususnya menurut ilmu geologi.  Gara-gara interpretasi yang sembrono inilah maka kerja keras mereka yang sesungguhnya menjadi ikut dianggap sampah, sama seperti halnya Santos yang membuat hipotesa konyol tentang letusan gunung berapi yang mencairkan es.  Aneh juga kalau dipikir sepintas lalu bahwa mengajukan benua (khayalan) yang tenggelam di tengah Samudra sepertinya dianggap lebih masuk akal dibandingkan mengusulkan daratan yang benar-benar pernah ada, yaitu Sundaland.  Tapi harus diingat bahwa ketika zaman Le Ploengon dan Churchward, perihal geologi dari Sundaland belum banyak diketahui dan dipahami orang.
Cerita daratan besar tenggelam lain yang tidak kalah menariknya adalah “Kumari Kandam” yang disebut dalam literatur kuno Sangam-Tamil (tertulis pada awal Masehi), India (http://en.wikipedia.org/wiki/Kumari_Kandam) .  Diceritakan bahwa dulu ada Kerajaan kuno Pandiyan yang berada di dataran antara Sungai Besar Pahruli dan Kumari dengan wilayah pegunungan disekitarnya.  Kemudian ‘laut yang kejam’ mengambil (=menenggelamkan) dataran dan sungai besar itu sehingga sang raja Pandiyan  menaklukan tanah raja Chola dan Chera (di India) sebagai penggantinya.  Menarik untuk dicatat bahwa sungai purba besar di Sundaland pun ada dua, yang satu berada di Selat Karimata sekarang dan bermuara ke Laut Cina Selatan, dan satu lagi berada di Laut Jawa sekarang dan bermuara ke timur, yaitu di selatan Selat Makasar.   Lokasi dari Tanah Pandiyan itu dideskripsikan berada di ‘selatan’ semenanjung India yang kemudian oleh kongres nasionalis Tamil, Kumari Kandam ini tidak lain adalah LEMURIA, pusat peradaban dunia, dan letaknya di tengah Samudra Hindia.  R. Mathivanan, kepala editor “Etymological Dictionary Project dari Pemerintahan Tamil Nadu, meng-klaim bahwa dia bisa memecahkan transkrip kuno dalam artefak Indus yang isinya antara lain menginformasikan bahwa peradaban Kumari Kandam (sebagai leluhur bangsa Tamil) mulai berkembang sejak 50 ribu tahun lalu sampai tenggelamnya karena banjir besar (sejak) 16 ribu tahun lalu; kemudian 6 ribu SM Raja Pandiya  dari Kumari Kandam mulai mendirikan kerajaan kedua di tanah barunya, yaitu di wilayah India sekarang, dsb.dst.  Yang sangat janggal, kongres tamil ini bersepakat bahwa lokasi Kumari Kandam itu di tengah-tengah Samudra Hindia yang jelas-jelas tidak bisa diterima oleh sejarah geologi karena di situ tidak pernah ada tanah tenggelam ribuan-puluhan ribu tahun lalu.  Yang benar, sejarah tektonik mengatakan bahwa pulau India itu 90 JUTA tahun lalu lokasinya memang berada di Samudra Hindia sekarang, kemudian karena proses tektonik lempeng daratan ini melaju ke utara dengan kecepatan sampai 20 centimeter/tahun sampai akhirnya mulai menabrak Benua Asia sekitar 50-45 JUTA tahun lalu yang karenanya pegunungan Himalaya sekarang ada.  Jadi kalau dikaitkan dengan geologi maka kisah daratan Kumari Kandam di Samudra Hindia waktu kejadiannya kekurangan tiga angka NOL.  Apakah Kongres Tamil waktu itu tidak terpikir untuk melirik ke daratan tenggelam yang lebih masuk akal yaitu Sundaland? Boleh jadi bersikap nehi-nehi terhadap kemungkinan itu karena sampai saat ini Bangsa India dikenal sebagai pembina peradaban Indonesia,  masa iya harus mengakui sebaliknya,  Wallahualam.
Sampai saat ini bencana katastrofi yang menghancurkan Atlantis, dari sudut pandang ilmiah, tetap masih merupakan misteri yang harus diteliti serius.  Timaeus dan Critias hanya mengatakan bahwa bencana itu dimulai dengan satu malam diguyur hujan yang sangat lebat kemudian datanglah bencana gempa dan banjir atau tsunami, diikuti oleh gejala penurunan tanah.  Apakah maksudnya gempa tektonik?  Di Sundaland gempa dan tsunami besar hanya bisa dihasilkan oleh zona subduksi, atau disebut juga sebagai “megathrust”, seperti halnya yang menyebabkan tsunami Aceh tahun 2004, Pangandaran tahun 2006 dan tsunami di Pagai, Mentawai tahun 2010.  Apabila Kota Metropolis  Atlantis itu berada di dekat Selat Sunda, maka sumber gempa mautnya kemungkinan besar adalah megathrust  dengan skala sangat besar di wilayah Selat Sunda, katakanlah sampai 9.5 SR atau lebih, sehingga memecahkan batas lempeng dari mulai barat Sumatra – Selat Sunda – sampai ke Selatan Jawa.  Apakah goyangan dari gempa  seperti ini cukup untuk merontokkan Atlantis dan membangkitkan tsunami yang menenggelamkan Kota Metropolisnya?   Mungkin saja, tapi taksiran saya mungkin harus dibarengi dengan longsoran besar di bawah laut di dekat  Selat Sunda untuk  bisa membangkitkan tsunami sampai lebih dari seratus meter.  Dan boleh jadi juga keberadaan kanal-kanal air di wilayah dataran Atlantis ini menjadi jalan bagi gelombang tsunami untuk merambat jauh ke daratan.  Perlu ada  pemodelan tsunaminya untuk bisa lebih kuantitatif dan pasti.  Gempa Megathrust di zona Subduksi Sumatra-Selat Sunda-Jawa juga dapat menyebabkan penurunan tanah atau “tectonic subsidence” di wilayah Selat Sunda ke timur.  Jadi hipotesa ini kelihatannya cocok dengan deskripsi dalam Dialog Plato.  Kalau benar ada gempa raksasa yang pernah terjadi di wilayah Selat Sunda, maka hal ini cukup menakutkan karena segmen megathrust di wilayah Selat Sunda statusnya “seismic gap” (tidak pernah mengeluarkan gempa besar) dalam perioda yang sangat panjang,  alias dicurigai sudah mengumpulkan energi yang sangat besar sehingga siap memuntahkan energinya seperti pada masa purba untuk menghancurkan wilayah Kota Metropolis saat ini, yaitu Jakarta.
Walaupun demikian hipotesa bencana letusan gunung api tetap tidak bisa sama sekali diabaikan.  Dengan asumsi bahwa keterangan dalam Dialog Plato tidak lengkap sehingga tidak menyinggung ada fenomena ini, atau barangkali saja ada dalam Dialog Plato yang terputus atau hilang.  Selain itu gempa tektonik bisa juga memicu letusan gunung api.  Gunung api serta bumbungan letusannya ke angkasa banyak diasosiasikan oleh orang dengan istilah “Pillars of Heracles”.  Dari jejak kaldera yang terlihat sekarang bisa disimpulkan bahwa Krakatau Purba dulu lebih besar dari Krakatau yang meletus dahsyat tahun 1883.  Bahkan, ada yang menduga diameternya sampai 50 km melewati Gunung Sibesi – Rajabasa, Pulau Sangiang – Anyer – Komplek Krakatau yang aktif sekarang.  Letusan yang menghasilkan kaldera sebesar ini tentu benar benar katastropik, tidak hanya memusnahkan Atlantis tapi merupakan bencana global seperti halnya Letusan Toba sekitar 70.000 tahun lalu.  Namun, sejarah geologi letusan Krakatau pada masa purbakala masih gelap, sehingga saat ini kita hanya bisa berandai-andai saja.
Selain gunung api, orang bisa juga berhipotesa bahwa gempa yang dimaksud dalam Dialog Plato bukan gempa tektonik ataupun vulkanik, tapi karena ada tumbukan meteor besar.  Kalau ini yang terjadi, tsunami yang dibangkitkan bisa sangat besar, sampai ratusan meter.  Tumbukan meteor juga menimbulkan dampak iklim global yang mematikan, seperti halnya yang pernah terjadi 60juta tahun lalu yang memusnahkan hampir semua mahluk hidup di dunia termasuk dinosaurus.  Singkatnya, bencana yang pernah menghancurkan Atlantis di masa Pra-Sejarah adalah hal yang masih harus diteliti dan dicari fakta-faktanya.
Selanjutnya, kronologi kejadian tenggelamnya Atlantis pada 11.600 tahun lalu yang dikatakan dalam Dialog Plato sangat menarik karena pada masa itu pengetahuan geologi tentang adanya Zaman Es dan kenaikkan muka airlaut dari  20.000 tahun BP sampai 8000 tahun BP belum ada.  Jadi bagaimana orang bisa ‘berkhayal dengan cerdik’ dengan menempatkan waktu musnahnya peradaban Atlantis pada perioda terjadinya kenaikkan muka airlaut global tersebut?  Ada tiga kali pulsa perioda kenaikkan air laut yang relatif sangat cepat, yaitu yang disebut sebagai Melt Water Pulse (MWP) 1a, 1b, 1c pada sekitar 15.000-14.000 BP, 13.000-12.000 BP dan 11.000-8.000 BP. Timing 11.600 tahun lalu kira-kira ada diantara MWP 1b dan 1c.  Data detail tentang sejarah geologi kenaikkan muka airlaut sejak 20.000 tahun lalu di Sundaland masih sangat minim sehingga resolusinya masih rendah.  Denga kata lain seberapa cepat air laut bisa naik karena es meleleh, atau keberadaan naik air laut yang tiba-tiba pada MWP 1a,b,c masih harus diteliti lebih lanjut.  Apalagi kalau misalnya ada kenaikan air laut tiba-tiba yang sangat besar tapi hanya “spike” alias banjir besar dalam perioda yang singkat (karena surut lagi), maka hal ini tidak akan terekam dalam sejarah geologi kecuali kita punya rekaman data alam yang resolusinya tinggi, misalnya harian, mingguan, bulanan, atau juga tahunan.  Rekonstruksi yang ada sekarang adalah kenaikkan muka air laut yang resolusinya rendah, dan bukan berasal dari data di Laut Jawa.
Jadi apa kesalahan hipotesis Sundaland adalah Atlantis?  Tidak ada cela bahwa Sundaland memenuhi semua kriteria yang diberikan Plato, meskipun tentu saja semua itu harus diteliti dan dicari fakta-fakta di lapangannya.  Mungkin yang bisa dianggap kekurangan Sundaland  sebagai Atlantis adalah karena ‘fakta’ bahwa sejarah Nusantara baru diketahui mulai sekitar Abad 4 Masehi.  Zaman sebelum itu oleh para arkeolog dianggap masih primitif.  Meskipun nyatanya banyak tinggalan megalitikum yang hebat-hebat dari zaman pra-sejarah di Indonesia yang masih misterius asal-usul dan umurnya, termasuk  tinggalan megalitik yang sangat berlimpah di wilayah Pagar Alam, atau batu-batu Menhir besar yang menakjubkan di Lembah Bada, Sulawesi Tengah.  Itu baru yang terlihat di permukaan, belum yang masih tertimbun dibawah tanah.  Dengan kata lain belum ada data (yang cukup) tentang peradaban di zaman pra-sejarah tidak bisa diartikan menjadi tidak ada peradaban di zaman pra-sejarah.  Hal sama juga menyangkut keberadaan peradaban Athena purba  dalam Dialog Plato karena dari pengetahuan arkeologi yang diyakini “mainstream”, tidak ada peradaban di Yunani 11.600 tahun lalu, bahkan di Eropa atau di seluruh dunia.  Jadi ini masalah dunia.  Meneliti keberadaan peradaban tinggi pada zaman pra-sejarah Indonesia adalah satu tahap yang sangat penting.
Pendapat umum kalangan arkeologi di Indonesia meyakini bahwa populasi manusia dan peradaban Nusantara berasal dari daratan besar Cina yang dibawa oleh imigran via Taiwan ke selatan sekitar 6000-5000 tahun lalu.  Namun, Teori “Out of Taiwan” yang  dipelopori oleh Peter Bellwood ini sekarang sudah mulai banyak dianggap tidak cocok dengan berbagai hasil penelitian dan temuan baru sehingga mulai dikembangkan teori tandingannya yaitu “Out of Sundaland” yang sebaliknya mengatakan bahwa asal mula peradaban dari bangsa-bangsa didaratan Asia (dan juga dunia) adalah dari Asia Tenggara atau Sundaland.  Salah satu yang terkenal mendukung “Out of Sundaland” ini adalah Stephen Oppenheimer dengan berbagai makalah ilmiah dan juga buku populernya “Eden in The East”.  Awalnya Oppenheimer tergerak untuk meneliti ini karena dia melihat Asia Tenggara adalah wilayah yang mempunyai keragaman dan kekayaan budaya yang tiada duanya di dunia, sehingga kenapa selama ini para ahli memandangnya sebelah mata dan sepert percaya buta begitu saja  dengan Out of Taiwannya Bellwood yang memposisikan budaya Asia tenggara hanya sebagai cabang sekunder dari peradaban daratan Asia.
Penelitian Oppenheimer yang keahlian dasarnya adalah seorang dokter dan ahli biomolekuler  menunjukkan bahwa nenek moyang dari kebanyakan bangsa Indonesia yang hidup sekarang sudah tinggal di sini sejak 50.000 tahun lalu.  Kemudian dari penelusuran arkeologi, anthropologi, linguistik, dan bahkan sampai berbagai tradisi dan mitos-mitos, Oppenheimer berkesimpulan bahwa  Sundaland atau Asia Tenggara sekarang adalah pusat budaya Austronesia dan polinesia.  Teknologi peternakan dan pertanian sudah ada di Sundaland jauh sebelum orang-orang dari Taiwan datang ke Nusantara, 6000-5000 tahun lalu.  Bahkan teknologi pelayaran itu pertama dikembangkan di Bumi Nusantara antara 16.000 – 8.000 tahun lalu.  Dia berpendapat bahwa kemampuan berlayar ini ‘terpaksa’dikembangkan untuk menghadapi tiga episoda banjir besar.  Pendapat ini ditunjang oleh hasil pemetaaan DNA yang mengindikasikan ada penyebaran populasi di wilayah Sundaland ketika tiga kali episoda banjir tersebut.  Ekspansi populasi dan peradaban dari Sundaland akibat iklim global dan kenaikkan muka airlaut ini juga sejalan dengantemuan-temuan penelitian lintas disiplin keilmuan dari Universitas Leeds, Belanda yang dipimpin oleh Martin Richards, professor pertama di bidang “archeo-genetics”.   Jadi singkatnya, Oppenheimer dan sejumlah pendukung Teori “Out of Sundaland” memang tidak langsung mengkaitkan temuannya  dengan isyu Atlantis atau LEMURIA dan untuk pembahasan ilmiah memang tidak perlu dikait-kaitkan; namun opsi Sundaland sebagai pusat peradaban yang lebih tua dari peradaban yang dibawa oleh “Out of Taiwan” ini akan membuka pintu lebih lebar untuk menguak tabir misteri Atlantis.
Pembuktian langsung bahwa ada peradaban (tinggi) di zaman pra-sejarah adalah apabila ditemukan monumen besar dan hebat dari zaman pra-sejarah, seperti dikatakan Plato bahwa sebagai bukti dari Atlantis maka disuruh mencari “sacred monument” yang biasanya didirikan di dekat mata-mata air di wilayah pegunungan (A-38).  Siapa tahu Situs Megalitik Gunung Padang adalah salah satu kuncinya.  Akhir kata, menarik untuk menyimak kata-kata mutiara dari Dr. J. Robert  Oppenheimer, Direktur Project Manhattan – Bom Nuklir USA di bawah ini terasa mengena untuk mendorong pemikiran-pemikiran baru dalam sains dan penelitian, termasuk yang kontroversial atau bahkan yang terlihat tidak masuk akal sekalipun:
“There must be no barriers to freedom of inquiry.  There is no place for dogma in science. The scientist is free, and must be free to ask any question, to doubt any assertion, to seek for any evidence, to correct any errors. Where science has been used in the past to erect a new dogmatism, that dogmatism has found itself incompatible with the progress of science; and in the end, the dogma has yielded, or science and freedom have perished together”. (J.R. Oppenheimer, 1949).

Thursday, October 11, 2012

Musnahnya Atlantis Nusantara



Ilmu pengetahuan sudah mendeteksi letusan katastropik Toba 75 ribu tahun yang lalu, Namun masih ada Pro Kontra tentang Letusan Katastropik Krakatau 11.600 tahun lalu) Acording to Santos, Atlantis had advanced machinery and weapons. They had air-based vimanas or vehicles so large that they could transport thousands of people, homes, and environments from one side of the world to another, as well as nuclear weapons and warheads that hastened their demise. The continent of Atlantis was hit by a massive tsunami that was over a mile high after a Krakatoa volcanic explosion, and millions died, Hoff continued in his detailing of Santos’ accounts, adding that subsequently the continent was engulfed by rising sea levels between 11,000 to 12,000 years ago. Santos also believed that around 75,000 years ago, Atlantis’ predecessor, Lemuria, was destroyed by the Toba volcano, and the survivors spent the next 60,000 years rebuilding and migrating to other lands such as the Indus Valley, and South America. Appearing for a segment in the second hour, Dr. Robin Harge r, talked about his collaborations with Prof. Santos, and how he was able to confirm Santos’ findings by locating craters on Google Earth in the Sunda Strait that were large enough to have played a role in the demise of Atlantis
LETUSAN KATASTROPIK Toba Dan Krakatau Purba Kunci Menemukan Peradaban lemuria Dan Atlantis Kesimpulan dari Prof santos adalah: Atlantis memiliki mesin-mesin canggih dan senjata. Mereka memiliki udara berbasis vimana atau kendaraan begitu besar sehingga mereka bisa mengangkut ribuan orang, rumah, dan lingkungan dari satu sisi dunia yang lain, serta senjata nuklir dan hulu ledak yang mempercepat kematian mereka.

Benua Atlantis dilanda tsunami besar yang lebih dari satu mil tinggi setelah ledakan gunung berapi Krakatau, dan jutaan mati, Hoff dilanjutkan dalam detail nya rekening Santos ', menambahkan bahwa selanjutnya benua itu ditelan oleh naiknya permukaan air laut antara 11.000 sampai 12.000 tahun yang lalu.

Santos juga percaya bahwa sekitar 75.000 tahun yang lalu, pendahulunya Atlantis ', Lemuria, dihancurkan oleh gunung berapi Toba, dan selamat menghabiskan 60.000 tahun ke depan membangun kembali dan bermigrasi ke negeri-negeri lain seperti Lembah Indus, dan Amerika Selatan.



Monday, September 17, 2012

Persamaan Piramid Gunung Padang dan Piramid Bosnia


Gunung Padang di Cianjur diperkirakan merupakan pyramid kuno yang usianya bisa mencapai 4700 hingga 10,000 tahun. Itu menurut Andi Arif, staf khusus presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam yang sekarang juga menjadi Dewan Pengarah di Tim Terpadu Mandiri Gunung Padang. Andi Arif yang dalam pekerjaannya dibidang bansos dan bencana alam melakukan pencitraan digital untuk areal-areal bencana menyadarai bahwa terdapat unsur logam dibawah permukaan gunung padang. Asumsi Andi logam itu mungkin saja emas. Kalaupun ternyata bukan emas logam tersebut menunjukkan adanya peradaban maju berumur 8000 tahun yang sudah bisa mengolah logam. Andi Arief juga yakin jika asumsinya terbukti benar maka hal itu akan mengguncang sejarah umat manusia dan “ganjarannya adalah hadiah Nobel”. (sumber dari sini ). Pendapat kontroversial tentang peninggalan masa lalu yang sangat maju ini didukung oleh komunitas tarekat. Andi Arif juga mengakui bahwa “Penerawangan ahli tarekat juga begitu”.
situs megalitikum Situs Megalitikum Gunung Padang, Gambar dari flickr


Dalam siaran pers dari Tim Riset Gunung Padang dikatakan bahwa bangunan di lapisan atas Gunung Padang diperkirakan telah ada sejak 2800 – 4500 tahun SM. Penentuan umur didasarkan pada carbon radiometric dating terhadap sampel serpihan karbon dari situs di kedalaman tiga hingga empat meter lapisan atas gunung Padang. Struktur ini adalah punden berundak raksasa dengan disain arsitektur konstruksi canggih setara dengan konstruksi bangunan Machu Pichu di Peru.(sumber tempo )


Tidak semua ahli setuju dengan pendapat controversial Andi Arif. Profesor Dr RP Koesoemadinata seorang professor geologi menulis pendapatnya tentang situs Gunung Padang. (disini). Melihat serakan bebatuan yang bentuknya sangat seragam dia menyimpulkan bebatuan itu ‘in situ’ yang digeser-geser manusia sehingga menjadi agak beraturan terutama dengan menancapkannya dalam posisi vertikal. Beliau meragukan adanya peradaban yang berhubungan dengan Pajajaran. Yang ada adalah peninggalan budaya megalith yang tidak memerlukan peradaban. Dia berasumsi mungkin orang sunda jaman dahulu secara kebetulan menemukan batuan dengan “columnar joints / sendi berbentuk kolom” berserakan di puncak Gunung Padang. Hal yang menakjubkan ini dianggap sebagai adanya sesuatu yang ajaib. Dengan sedikit menggeserkan dan menancapkan kolom batuan jadilah suatu tempat pemujaan.


Disisi lain dunia ada juga klaim piramida di Bosnia. Di Wikipedia ini istilah piramida Bosnia digunakan untuk bentuk formasi batuan alami yang disebut flatirons dikawasan Visoko, Bosnia. Pada tahun 2005 Bukit bernama Visočica menjadi pusat perhatian dunia karena diberitakan media dengan gencar bahwa bukit itu buatan manusia dan merupakan pyramid terkuno di dunia. Setelah situs itu dianalisa oleh geologist, arkeologis dan ilmuwan lain disimpulkan bahwa bukit itu merupakan bentukan alami dan tidak ada tanda-tanda manusia yang membuatnya. Para ilmuwan juga mengkritik pemerintah Bosnia yang mendukung klaim adanya pyramid banhwa “hal ini merupakan hoax kejam pada masyarakat yang awam dan tidak punya tempat dalam dunia ilmu pengetahuan sejati”. Gagasan bahwa bukit itu merupakan pyramid pertama kali dicetuskan oleh seorang penulis dan pandai besi Semir Osmanagić. Dalam penggaliannya di situs tersebut ia mengklaim sebuah alun alun pintu masuk dan terowongan-terowongan, juga semen dan blok blok batu yang dikatakannya pernah menutupi struktur tersebut. Penggalian dimulai pada tahun 2006 dan malahan membentuk bukit itu sehingga menyerupai pyramid bertingkat suku Maya.


Piramida Sunca

Bukit ‘Piramida Matahari’ Visoko, Bosnia. Gambar dari flickr




Dapat disimpulkan bahwa piramida Gunung Padang dan Piramida Bosnia mempunyai satu kesamaan: kekaguman dan keheranan manusia pada bentukan gunung yang ‘aneh’, pyramidal dan tampak terlalu teratur untuk menjadi bentukan natural. Setelah itu pikiran manusia lah yang membentuk asumsi-asumsi sebelum fakta ditemukan. Selain itu keduanya mempunyai kesamaan, ‘penemuan’ ini menjadikan situs-situs itu sebagai tempat pariwisata yang menghasilkan uang. Jika salah satunya diklaim dalamnya mengandung emas, itu kejeniusan. Banyak orang menginginkan balok emas jatuh didepan mata. Kesamaan lain: keduanya merupakan hoax. Sebetulnya situs Gunung Padang ini sudah merupakan situs sejarah megalitikum yang sangat menarik, tanpa harus mengaitkannya dengan klaim piramida.

Arkeolog Temukan Saluran Air Kuno di Kediri








Kompas.com/M. AGUS FAUZUL HAKIM


Petugas BP3 Trowulan melakukan pendataan terhadap situs yang diduga saluran air kuno di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (9/9/2012).
Selama sepekan ini beberapa arkeolog dari balai pelestarian peninggalan purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, melakukan ekskavasi situs di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kediri, Jawa Timur.Penggalian yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari 13 orang itu menemukan struktur bangunan yang mirip saluran air peninggalan zaman kerajaan.
Struktur yang terbangun dari susunan batu bata merah tersebut mempunyai tinggi 150 cm dan terkubur dalam tanah sedalam 3 hingga 4 meter.
Petugas melakukan penggalian sporadis hingga sebanyak 9 titik dengan radius 1 kilometer untuk mendapatkan alur saluran air tersebut.
"Fungsi utamanya belum jelas karena kita belum dapat gambaran detailnya. Namun, kita asumsikan struktur ini merupakan saluran air karena mempunyai kemiripan dengan saluran air yang ditemukan di Magetan, Ponorogo, maupun Pasuruan," kata Danang Wahyu Utomo, salah seorang arkeolog, saat ditemui di lokasi penggalian situs, Minggu (9/9/2012).
Saluran air tersebut terhubung dari sumber mata air di desa tersebut, yang terdapat pohon beringin besar. Namun sayang, para arkeolog masih belum terpuaskan karena belum menemukan muara salurannya.
Penelusuran hingga 1 kilometer itu hanya menemukan struktur saluran air. "Asumsi saya pasti ada kolamnya. Tapi di mana, ini yang masih terus kita cari," imbuh Danang.
Selain itu juga belum diketahui pasti dari zaman kerajaan apakah saluran itu dibangun. Selama penggalian, petugas tidak menemukan adanya penemuan benda yang spesifik dan simbolis yang dapat menguatkan ciri-ciri sebuah benda dibuat pada masa tertentu, seperti gerabah ataupun keramik.
Petugas hanya menemukan struktur batu atau pendapa, dan korelasinya dengan saluran air itu juga belum diungkap. Penelitian terhadap batu bata sebagai material yang digunakan dalam struktur bangunan juga memerlukan proses uji laboratorium sehingga memakan waktu cukup panjang.
Batu bata tersebut terdiri dari dua ukuran. Ukuran pertama dengan panjang 42 cm, tinggi 8 cm, dan lebar 20 cm. Ukuran kedua dengan panjang 38 cm, tinggi 7 cm, dan lebar 20 cm.
Penggalian perdana yang dilakukan di areal pekarangan warga dan aliran sungai tersebut difokuskan pada pembersihan dan pemetaan situs.
Ke depannya, ekskavasi lanjutan akan dilakukan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang bentuk maupun fungsi bangunan tersebut.

KESIMPULAN SEMENTARA TIM TERPADU RISET MANDIRI: GUNUNG PADANG “truly extraordinary”

KESIMPULAN SEMENTARA TIM TERPADU RISET MANDIRI: GUNUNG PADANG “truly extraordinary”
1. Bahwa situs Gunung Padang yang tadinya hanya dianggap yang diatasbukitnya saja berupa teras-teras dari tumpukan batu yang disusun secarasederana ternyata tidaklah demikianr. Tim sudah membuktikan bahwa situs GunungPadang adalah sebuah struktur punden-berundak raksasa yang menutuplereng-lereng bukitnya dan dibuat dengan desain arsitektur-konstruksi yang”advance” – bisa kita bilang setara/mirip dengan “Konstruksi Bangunan” Michu-Pichu di Peru.










2. Bahwa hasil survey pencitraan bawah permukaan dengan metoda Geolistrik,Georadar, dan Geomagnet menunjukan ada geometri-konstruksi bangunan di bawahsitus Gunung Padang. Bangunan ini paling tidak menempati sekitar 15 meter bagian puncaknya. Bangunan di bawah teras-teras Gunung Padang inikelihatannya mempunyai chamber-chamber besar (ditunjukkan oleh struktur veryhigh resistivity dari hasil survey geolistrik). Bagian kecil dari salahsatu chamber yang berada di teras 5 (bagian selatan Situs) ini sudahdibuktikan dengan pemboran, dan ternyata memang benar sebuah rongga, tapidiisi oleh pasir (dengan butiran seragam), sepertinya untuk menyimpan sesuatu.



3. Perkiraan umur situs Gunung Padang di lapisan paling atas secaraarkeologi (berdasarkan kesamaan bentuk artefak) diduga sekitar 2800 SM.Dari penentuan umur absolut berdasarkan analisa carbon radiometric datingumur sampel serpihan karbon dibawah lapisan atas situs pada kedalaman 3-4meter didapat umur maksimum (paling tua) 4500 SM. Dengan kata lainperkiraan umur dari bangunan di lapisan atas adalah sekitar 2800 – 4500 SM.

4. Bangunan di bawah permukaan situs diduga kuat merupakan bangunan yang lebih tua karena hasil penentuan umur carbon radiometricdating dari sampel serpihan karbon yang terdapat pada pasir di rongga yangdi-bor di Teras 5 tersebut, yaitu pada kedalaman antara 8-10 meter menunjukkan umur (maksimum) sekitar 10.500 SM. Umur ini memang belum bisa dipastikan umur bangunannya karena bisa saja merupakan umur dari material pasir-nya itu (yang di bawa dari tempat lain). Tapi paling tidak umur ini sudah membuktikan bahwa lapisan batuan-tanah sampai kedalaman 15 metera adalah sebuah konstruksi bangunan bukan lapisan batuan alamiah (yang seharusnya berumur jutaan tahun berdasarkan data geologi di wilayah ini).

Target Ke depan:

1. Melakukan analisis penentuan umur lapisan dan pemeriksaan lab dari materialnya, termasuk untuk memastikan apakah situs Gunung Padang danbangunan di bawahnya itu merupakan produk satu peradaban atau lebih dari satu peradaban yang kurun waktunya berbeda.

2. Melakukan survey analisis lanjutan untuk mem-visualisasikan lebih jelaslagi arsitektur bangunannya, termasuk chamber-chamber yang ada di dalamnyadan juga melanjutkan membukai akses masuknya.

3. Meng-eksplorasi lebih luas dan dalam lagi struktur bukit Gunung Padangkarena berdasarkan survey pencitraan bawah permukaan yang sudah dilakukanada indikasi bahwa struktur bangunan tidak terbatas hanya setinggi 15 meteran di bagian atasnya saja tapi sampai setinggi 100 meteran ke bawahnya(sampai level parkir-pintu masuk), atau bahkan sampai 300 meteran ke Level Sungai Cimanggu. Hal ini memang masih perlu survey yang lebih komprehensif,tapi kalau ternyata hal ini benar maka merupakan sesuatu yang “truly extraordinary”.

Singkatnya, Situs Gunung Padang ini bukan produk artefak dari masyarakatpurba yang masih primitif tapi merupakan produk dari peradaban tinggi ataumerupakan bukti nyata Mahakarya Arsitektur dari zaman pra-sejarah Nusantara.Jadi Gunung Padang dapat menjadi ICON dan Titik Tolak untuk membuka lebih banyak lagi jejak peradaban nusantara yang gemilang di masa purba.

Oleh karena itu penelitian akan terus dilanjutkan . Sejalan dengan itu, berdasarkan temuan-temuan yang sudah ada dengan kaidah scientific yang dilakukan beberapa lintas ilmu, mengharapkan Instansi yang terkait dengan situs Gunung Padang serta Pemda setempat serta masyarakat untuk berembug bersama dan diharapkan lahir rekomendasi untuk melakukan pembukaan tutupan tanah yang hanya setebal beberapa puluh sentimeterdilereng-bukitnya, kalau dipandang baik dan positif, dapat mulai dilakukan untuk membuka dan memugar struktur teras-teras batu-nya yang sudah selama riset terbukti ada teras-teras baru. Terima Kasih (TIM TERPADU RISET MANDIRI).

Penelitian Situs di Gunung Padang Dilanjutkan

Rabu, 15 Agustus 2012

JAKARTA, (PRLM).-Penelitian Situs Megalithicum Gunung Padang di Kab. Cianjur, Jawa Barat terus berlanjut. Tim Penelitian Mandiri Situs Megalithicum Gunung Padang akan mengirimkan beberapa sampel batuan di gunung tersebut ke laboratorium di Miami Amerika Serikat (AS) untuk mengetahui umur situs tersebut.

Sampel tersebut ditemukan oleh tim dalam proses eskavasi beberapa waktu lalu. Paparan riset sementara menyimpulkan bahwa besar kemungkinan Situs Gunung Padang adalah situs prasejarah terbesar di dunia.

Pakar Geoteknik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Danny Hilman mengatakan hasil analisa carbon radiometricdating (preliminary) menunjukan umur lapisan di bawah situs kedalaman 4 meter yaitu 6.700 tahun yang lalu. Sedangkan umur sampel karbon dari pasir yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter yaitu 13.600 tahun yang lalu.

“Sampel akan dikirim ke Miami untuk meneliti radiocarbon untuk menentukan umur batuan. Jika disebut tertua, tidak bisa juga karena di dunia ada situs Gobekli Tepe, di Turki yang sudah 11.600 SM,” ujarnya dalam Paparan Riset Gunung Padang yang berlangsung di Gedung Krina Bhakti, Sekretariat Negara, Jln. Veteran III, Jakarta Pusat, Selasa (14/8).

Pakar Prasejarah dari Universitas Indonesia, Dr. Ali Akbar mengatakan proses riset tersebut sebaiknya diteruskan untuk mengungkap keberadaan ruang kosong di dalam bangunan situs.

Menurut dia, hingga saat ini, tim baru mengetahui struktur bangunan hingga kedalaman 15 meter. Sementara, kedalaman bangunan itu diperkirakan 100 meter. “Ini ukurannya lebih besar dari Candi Borobudur. Untuk sementara, kita bisa mengklaim bahwa ini bangunan prasejarah terbesar di dunia,” katanya.

Ali Akbar menambahkan, hasil penelitian sementara dari aspek arkeologis yaitu bahwa situs ini bukan tempat tinggal, melainkan pemujaan utama terhadap kekuatan alam, yaitu roh di Gunung Gede-Pangrango. Pemujaan lainnya terhadap nenek moyang, yaitu roh di Gunung Karuhun.

Sementara itu, pemerintah mendorong kelanjutan penelitian situs megalithicum Gunung Padang di Kab. Cianjur, Jawa Barat. Penelitian-penelitian yang mengungkap peradaban maju di masa lalu membutuhkan telaah geologi yang mengungkap sejarah bencana besar yang diduga berpengaruh terhadap eksistensi peradaban tersebut.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti menyambut baik dan mendorong terbentuknya tim penelitian terpadu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Ia mengaku Kemdikbud telah menerima pengajuan penelitian dari berbagai tim untuk meneliti sejarah candi di wilayah Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera.

“Kebesaran peradaban ini harus terus diungkap. Kemdikbud menyambut baik keinginan masyarakat untuk mengungkap misteri peradaban ini selama penelitian itu bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan, metode ilmiah,” ujarnya.

Menurut Wiendu, puluhan ribu candi yang ada di berbagai wilayah Nusantara diduga berkaitan erat dengan peradaban bangsa yang hilang akibat bencana-bencana besar mengingat posisi Indonesia yang berada di cincin api bumi.

“Ada lebih dari 65.200 candi, monumen bersejarah, patung, yang semuanya bisa dilihat keterkaitannya secara langsung dengan ring of fire (cincin api) tadi,” ujarnya. (A-156/A-89)***


Situs Gunung Padang Bukti Peradaban Kuno Indonesia Telah Maju

Kamis, 9 Februari 2012



Hasil pengeboran tim Peneliti Bencana Katastropik Purba (BKP) menunjukkan pada kedalaman hingga 20 meter ditemukan jejak hasil buatan manusia.

Situs megalitik Gunung Padang di Cianjur, yang diperkirakan dibangun pada 1500-1000 sebelum masehi, adalah situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara dan merupakan contoh bangunan masa prasejarah punden berundak dalam skala besar.

Megalitikum adalah suatu kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar.

Batu-batu tersebut diratakan secara kasar untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan.

Menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, dan arca adalah berbagai hasil terpenting dari kebudayaan megalitikum.

Situs Gunung Padang, yang ditemukan pada 1979 oleh penduduk setempat, dinilai memiliki informasi luar biasa mengenai peradaban Indonesia ribuan tahun lalu.

Diyakini, bangunan tersebut dahulunya adalah tempat peribadahan zaman kerajaan Pajajaran.

Hasil pengeboran tim Peneliti Bencana Katastropik Purba (BKP) menunjukkan pada kedalaman hingga 20 meter ditemukan jejak hasil buatan manusia.

“Dicurigai ada tiga titik dimana ada ruangan yang kemungkinan berisi dokumen. Salah satunya berukuran hingga 10 kali 20 m. Dari hasil pengeboran 1-20 m kami melakukan tes carbon dating yang menunjukkan pondasi telah ada sejak tahun 4700 sebelum masehi,” kata Dr. Danny Hilman dari Geotek, LIPI, Selasa (7/2).

Penemuan ini mencengangkan karena piramid Giza Mesir baru ada sejak 3500 SM.Hal ini membuktikan adanya peradaban yang sudah maju, karena pembangunan situs tersebut dinilai bukanlah pekerjaan ringan.”Kami belum menemukan adanya artefak atau tulisan yang bisa membuktikan seberapa maju peradaban tersebut,” ujar Danny.

Harta Karun

Ketua Exploration Think Tank Indonesia (ETTI), Dr. Andang Bachtiar, mengatakan memang terdapat harta karun yang tersimpan di situs tersebut.

“Ilmu adalah harta karunnya. Kita dibilang masih zaman batu saat zaman kekaisaran Romawi. Katanya baru setelah letusan Krakatau di abad IV, masyarakat kita menetap dan membuat kerajaan. Masa sih sebelum itu tidak ada apa-apa?,” kata Andang.

Andang menyebut kemungkinan besar bencana besar masa lalu yang menyebabkan peradaban prasejarah Indonesia terus-terusan musnah.”Hipotesis kami, ketika ada peradaban dan sudah maju, dihajar oleh bencana tsunami atau gunung meletus sehingga musnah. Muncul kembali dan mulai dari nol kemudian hal serupa terjadi lagi,” kata Andang.

Hal ini tidak mengherankan karena Indonesia adalah rumah dari ratusan gunung api dan tercatat sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia.Terlebih lagi, posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia lebih rentan terhadap berbagai bencana alam.

Presiden Mendukung

Andang mengungkapkan penelitian itu terwujud karena berawal dari hobi.”Alat kita pinjam. Dana kita patungan,”ujarnya.

Andang dan timnya kini semakin bersemangat untuk terus menggali situs Gunung Padang, untuk itu ada gagasan membuat suatu yayasan untuk mewadahi kegiatan tersebut.

Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, mengatakan presiden sangat mendukung kegiatan yang dilakukan ETTI.”Pak SBY bilang untuk melanjutkan penelitian. Mau salah atau benar, kata beliau itu urusan belakangan,” kata Andi.

Andi menunjukkan kebanggaannya untuk pertama kalinya sejumlah tim yang seluruhnya terdiri dari Indonesia berhasil membuka situs bersejarah yang sangat besar.Andi juga menyangkal adanya campur tangan dari pihak asing dalam penelitian ini.”Kita tolak. Join riset boleh, tapi untuk keseluruhan kita masih mampu,” kata Andi.