Wednesday, November 14, 2012

KENANGAN PAHIT ASEM MANIS BORNEO Bersama CHROMENX

Borneo
April 2007, aku di Tugaskan ke Trakindo cabang Batulicin Kalimantan Selatan dengan Mochamad Ishak Al Bashori.
South Borneo

Suatu hari di hari Jum'at (tanggale lupa), aku dan Chromenx (begitu biasa aku memanggil) dapat Job Install Fuel Injection Pump nya D9R.
Caterpillar D9R

Nama Customernya lupa. yang pasti dulu aku dan dia gak tau arah dan tempatnya dimana. Kami mengikuti mobile Sales,dari trakindo juga. namae Lupa.hehe. Kami bawa kendaraan modelnya seperti di bawah ini :
Ford Ranger


kata mekanik mobil di kantor sih kendaraan ini ok, 4X4 ok, check check oli2 sebentar langsung kami bawa aja deh. Hampir sampai Tempat Kerja, Mobil masuk Lumpur dan ternyata 4X4 nya rusak. Ampun deeh. Akhirnya Kunci2 dan tools lainya kami masukkan tas, FIP gantian mikul, kami jalan. Dari tempat mobil mogok sekitar 1 KM an. tapi medanya yang sssip. Jalan hutan gundul dan bekas galian tambang. rataaa turuuuun lembah dan terlihatlah Caterpillar D9R di atas Bukit. dari lembah kami naik lagi sampai ke bukit. ampuun payaaah. Sepanjang perjalanan terlihat jejak2 kaki Babi.  Sayang waktu itu kami belum punya HP berkamera.hehehe
aku & chromenx suatu sore di Soe

Akhirnya kami pasanglah FIP (the heart of the Engine) dan Caterpillar D9R pun bangundari tidur lamanya. dan kami suruh operatornya untuk menyelamatkan mobil kami yang tenggelam di lumpur. Alhamdulillah akhirnya lolos.hehe. Pulangnya aku yang bawa mobilnya, Ini pengalaman pertama lo bawa Mobil di Kalimantan.hehehe

Penjelajah Muslin Penemu Benua Amerika Sebelum Colombus


Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492.
Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.
Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.
Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam.
Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.
Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.
Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.
Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.
Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.
Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.
Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.
Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah
Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?
Sejarahnya panjang, Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.
Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.
Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).
Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.
Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.
Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.
Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.
Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).
Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.
Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid.
Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.
Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama.
Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.
Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.
Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.
Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.
Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut. Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.
Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?
Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.
Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.
Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.
Fakta Eksistensi Islam di Amerika
Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.
Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.
Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.
Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362).

BUKU BARU DARI UNIVERSITAS HARVARD MEMUAT KARYA HARUN YAHYA


Universitas Harvard, satu dari pusat penelitian ilmiah terkemuka dunia, telah membuktikan bahwa kreasionisme (paham penciptaan) menjadi semakin bertambah kuat di dunia dan bahwa pusat dunia gerakan ini adalah karya Science Research Foundation (BAV)*. Edisi terakhir buku The Creationists, from Scientific Creationism to Intelligent Design (Kreasionis, dari Kreasionisme Ilmiah ke Perancangan Cerdas) menyediakan ruang khusus yang memuat karya BAV dalam menjelaskan fakta penciptaan. Bahasan tersebut terangkum dalam sebuah liputan berjudul“Creation Museums and the Rise of Global Creationism” (Museum Penciptaan dan Bangkitnya Kreasionisme Dunia) sebagaimana berikut:

Sebuah pemandangan yang tidak biasa terlihat, banyak bermunculan baru-baru ini—museum penciptaan. Museum penciptaan pertama Amerika dijadwalkan akan dibuka musim semi ini di Petersburg, Kentucky. Fasilitas senilai 26,4 juta dolar AS menampilkan robot dinosaurus bersuara dan gedung bioskop tercanggih dengan efek khusus (SFX theater), seluruhnya dirancang untuk meyakinkan para pengunjung bahwa Tuhan menciptakan dunia persis sebagaimana dipaparkan di dalam Alkitab.

Dan itu tidak hanya di Amerika Serikat. Sebagaimana segala sesuatu di masa kini, kreasionisme (paham penciptaan) sedang mendunia, sebagaimana dibuktikan oleh adanya kampanye menggelar museum-museum penciptaan dalam ukuran kecil di seantero Turki (satu yang khas, terletak di sebuah warung kebab di Istanbul, menyambut para pengunjung dengan foto Charles Darwin berbingkai darah yang menetes). Matt Mossman melaporkan dalam majalah SEED edisi bulan ini:

“Dalam kampanyenya yang terakhir, BAV [Bilim Arastirma Vakfi, atau "Science Research Foundation"] telah menggelar lebih dari 80 "museum" di rumah-rumah makan, pusat-pusat perbelanjaan, dan balai-balai kota di seluruh Turki, masing-masing musem dilengkapi dengan fosil, poster dan para sukarelawan yang bersemangat. Para pengikut Adnan Oktar [Harun Yahya] menggunakan siasat yang diambil dari organisasi-organisasi di Amerika Serikat seperti Institute for Creation Research di California, dengan memberitahu para pejalan kaki bahwa evolusi tidak mampu menjelaskan kerumitan makhluk hidup dan bahwa evolusi bertentangan dengan firman Tuhan.”

BAV menjalankan pekerjaan yang lumayan canggih, sebagaimana dibuktikan oleh situs internetnya, yang, menurut Mossman, menawarkan presentasi-presentasi Power Point yang dapat di-download dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan para siswa untuk menantang para guru mereka yang cinta evolusi. Dan keterkaitannya dengan para pendukung paham penciptaan asal Amerika Serikat bukanlah sekedar kebetulan –juru bicara BAV pergi ke Amerika Serikat tahun lalu untuk memberikan kesaksian dalam dengar pendapat tentang perancangan cerdas (intelligent design) yang diselenggarakan oleh Kansas Board of Education (Dewan Pendidikan Negara Bagian Kansas). Di luar Amerika Serikat dan Turki, gerakan kreasionis di Inggris dan Australia (yang terlihat kuat secara khusus) mengesankan adanya kecenderungan dunia yang semakin meningkat.

Untuk beberapa lama, paparan rujukan tentang kebangkitan kreasionisme dunia adalah The Creationists: From Scientific Creationism to Intelligent Design (Kreasionis: Dari Kreasionisme Ilmiah hingga Perancangan Cerdas) karya Ronald Numbers. Di bulan November, HUP (Harvard University Press) akan menerbitkan edisi terperinci dari terbitan awal ini, yang melacak perkembangan pemikiran para penganut paham penciptaan selama berabad-abad. Dua bab baru memaparkan rentetan sejarah gerakan perancangan cerdas dan serangan baru kreasionisme dunia, yang dapat kita saksikan dalam contoh-contoh
di atas.

SPESIMEN FOSIL YANG DITEMUKAN DI AMERIKA UTARA DAN SELATAN -1 -



FOSIL-FOSIL YANG DITEMUKAN DI AMERIKA SERIKAT

Berasal dari Zaman Eosen (54 hingga 37 juta tahun silam), lapisan fosil Sungai Hijau adalah salah satu dari lapisan fosil terpenting di Amerika Serikat. Penggalian pertama yang tercatat di kawasan ini berlangsung pada tahun 1850-an. Pada tahun 1856, pakar arkeologi Dr. John Evans mengumumkan fosil-fosil ikan yang telah dikumpulkannya di kawasan itu kepada dunia ilmiah dan Formasi Sungai Hijau pun tercantum dalam kepustakaan ilmiah.

Seekor fosil ikan ditemukan di Sungai Hijau, Wyoming.

Sungai Hijau sebenarnya anak Sungai Colorado. Formasi Sungai Hijau itu sendiri suatu cekungan danau pegunungan yang mencakup sebuah daerah yang membentang melintasi tiga negara bagian. Sebagian terletak di timur Pegunungan Uintah di barat laut Colorado dan bagian yang lebih luas terletak di barat daya Wyoming. Struktur batuan Sungai Hijau terbentuk dari aneka lapisan yang isinya berbeda-beda jika kita semakin dalam menggali. Sebaran fosil juga beragam. Hingga kini, fosil-fosil yang berasal dari sekitar 60 kelompok vertebrata dan tak terhitung fosil invertebrata telah ditemukan pada penggalian-penggalian di Sungai Hijau.

Kiri: batu gamping Kaibab yang berumur rata-rata 250 juta tahun dan membentuk permukaan dataran tinggi Kaibab dan Coconino. Fosil-fosil
yang dapat ditemukan pada layaran ini adalah koral, moluska, bakung laut, cacing dan gigi ikan. Bawah: pengangkutan fosil.

Ohio adalah sebuah negara bagian dengan banyak lapangan fosil terkenal. Penelitian geologis menunjukkan bahwa sekitar 510 juta tahun silam, Ohio terletak di selatan Ekuador. Seraya benua-benua bergeser dan Amerika Utara bergerak menuju kedudukannya saat ini, Ohio mendapati dirinya tenggelam berkali-kali. Hal itu menjelaskan mengapa sejumlah besar fosil yang berasal dari Era Paleozoikum (251 hingga 543 juta tahun silam) ditemukan di Ohio.

Negara bagian lain yang kaya lapisan fosil adalah Utah. Beraneka ragam fosil, dari invertebrata hingga aneka organisme laut dan dari reptil hingga mamalia, telah digali di Utah. Fosil-fosil mikroskopis baru-baru ini ditemukan di Pegunungan Uintah telah mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan fosil di Utah berasal dari Zaman Kambria.

Seperti halnya dengan fosil-fosil yang ditemukan di kawasan-kawasan lain dunia, semuanya menunjukkan sekali lagi bahwa tidak ada perbedaan antara ikan trout, ikan pari, capung, lalat, laba-laba, kepiting, dan kura-kura masa kini, dan hewan-hewan serupa yang hidup jutaan tahun silam. Mahluk-mahluk hidup tidak menjalani perubahan dalam selang ratusan juta tahun-dengan kata lain, tidak mengalami evolusi. Rekaman fosil membantah evolusi dan lagi-lagi menegaskan fakta penciptaan.

Sebuah daerah penelitian fosil di Wyoming.

Taman Nasional Canyonland, Colorado.


IKAN TODAK
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Ukuran: panjang: 39 cm (15,3 inci); matriks: 29 cm x 40 cm (11 inci x 15 inci)
Lokasi: Lincoln County, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen Ratusan fosil ikan todak yang telah dikumpulkan memberikan petunjuk bahwa ikan yang masih ada kini ini tetap tidak berubah selama jutaan tahun. Ikan todak dalam foto, berumur antara 37 dan 54 juta tahun, tidak berbeda dengan yang masih hidup di lautan kita hari ini. Kemiripan persis ini adalah hal yang tidak terjelaskan bagi para Darwinis dan sekali lagi membuktikan fakta penciptaan.

DAUN POPLAR
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Zaman: Eosen
Lokasi: Sungai Hijau, Colorado, Amerika Serikat
Para Darwinis mencoba menjawab pertanyaan bagaimana tetumbuhan muncul dengan menggunakan konsep “kebetulan. ” Mereka menyatakan bahwa rangkaian tanpa akhir beraneka tumbuhan muncul, seiring waktu dan secara kebetulan, dari satu tumbuhan moyang bersel tunggal-yang juga muncul sebagai hasil kebetulan.
Mereka juga bersikukuh bahwa setiap sifat khas spesies, seperti bau, susunan, dan warna, adalah juga hasil ketaksengajaan. Para evolusionis mencoba menjelaskan cara rumput laut berubah menjadi stroberi, atau pohon poplar atau semak mawar, dengan mengatakan bahwa semua percabangan ini hasil suatu keadaan yang terbentuk hanya oleh kebetulan. Namun, tidak ada petunjuk ilmiah untuk mendukung khayalan ini. Di sisi lain, ada tak terhitung data dan temuan ilmiah yang meruntuhkan pernyataan-pernyataan para evolusionis. Tak terhingga contoh ditemukan dalam rekaman fosil yang menunjukkan bahwa ribuan mahluk hidup telah bertahan, sama sekali tak berubah, selama ratusan juta tahun. Fosil daun poplar berumur kira-kira 60 juta tahun ini menyatakan lewat contoh telak bahwa mahluk hidup tidak berevolusi, namun diciptakan.

IKAN PARI
Umur: 54 hingga 37 juta tahun
Ukuran: 8 cm x 3,8 cm (3,2 inci x 1,5 inci); matriks: 12,7 cm x 10 cm (5 inci x 4 inci)
Lokasi: Lincoln County, Wyoming
Zaman: Eosen

Ikan pari adalah ikan bertulang rawan. Jika menghadapi bahaya, ia membela diri dengan sengat di ekornya. Matanya berada di atas tubuh datarnya dan mulutnya di bawah. Seperti juga ikan hiu, ikan ini menemukan makanannya dengan memanfaatkan indra penciuman dan listriknya. Ikan ini umumnya hidup berbaring di lantai samudera, dengan hanya mata dan ekornya terlihat. Fosil dalam foto membuktikan bahwa ikan ini tidak mengalami evolusi. Ikan pari yang hidup 50 juta tahun silam tidak berbeda dengan yang hidup hari ini. Sekalipun jutaan tahun berlalu, tidak ada perubahan terjadi pada struktur ikan pari. Jika evolusi benar-benar berlangsung, maka ikan pari akan melalui beraneka tahap, meninggalkan banyak fosil yang mencatat urutan tahap-tahap itu. Akan tetapi, setiap fosil yang ditemukan mengungkapkan bahwa ikan pari masa kini dan yang hidup di masa lalu sama saja. Semua ini menyangkal pernyataan-pernyataan para evolusionis.

IKAN SARDEN
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Lokasi: Sungai Hijau, Wyoming, Amerika Serikat
Zaman: Eosen

Jika pernyataan-pernyataan evolusioner itu benar, maka pastilah ada perbedaan besar antara fosil ikan sarden yang digali ini dan yang hidup hari ini. Harus ada tanda-tanda dalam fosil ikan sarden apa yang disebut proses evolusioner yang dikatakan terjadi oleh para Darwinis. Akan tetapi, tidak ada jejak apapun dari hal itu pernah ditemukan. Tidak juga mungkin hal itu akan ditemukan di masa depan, sebab kehidupan tidaklah, berlawanan dengan apa yang dicekokkan kaum evolusionis agar kita percayai, hasil dari kebetulan-kebetulan buta. Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu menciptakan semua mahluk hidup.

IKAN HARING
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Ukuran: 9,3 cm (3,7 inci)
Lokasi: Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

“Fosil-fosil hidup” menyingkapkan bahwa spesies-spesies tidak berevolusi, namun diciptakan. Spesies-spesies tidak pernah memeroleh struktur tubuhnya hari ini secara kebetulan, seperti yang dinyatakan para evolusionis. Mereka semua diciptakan tanpa cela oleh Allah Mahakuasa dan telah hidup sepanjang masa keberadaan mereka dengan bentuk saat mereka diciptakan. Fosil ikan haring dalam foto juga membuktikan hal tersebut. Ikan haring tetap sama selama jutaan tahun, memertahankan bentuk dan struktur dengan mana ia awalnya diciptakan. Seperti semua fosil lainnya, ikan haring ini mengungkapkan bahwa teori evolusi itu berdiri di atas dusta.

KEPITING
Umur: 50 juta tahun
Lokasi: Oregon
Zaman: Eosen

Salah satu ciri mencolok tentang rekaman fosil adalah bahwa mahluk-mahluk hidup tidak menjalani perubahan sepanjang aneka zaman geologi. Dengan kata lain, selama puluhan, bahkan ratusan juta tahun, mahluk-mahluk hidup tetap sama seperti saat muncul pertama dalam rekaman fosil. Inilah petunjuk bahwa dulu dan kini, mahluk-mahluk hidup tidak berevolusi. Kepiting yang tetap tak berubah selama 50 juta tahun termasuk di antara bukti-bukti itu. Kepiting hidup hari ini dan dari jutaan tahun lalu mirip adanya.

IKAN PERKHI
Umur: 37 hingga 54 juta tahun Ukuran: 30,4 cm (12 inci)
Lokasi: Kemmerer, Wyoming Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Ikan perkhi (perch) adalah sejenis ikan air tawar yang dapat menyesuaikan diri ke berbagai lingkungan dan suhu air. Pernyataan para Darwinis bahwa mahlukmahluk hidup berevolusi dari satu bentuk ke bentuk lainnya lewat perubahan perlahanlahan dibantah sekali lagi oleh fosil-fosil ikan perkhi. Ikan perkhi yang hidup saat ini
berbagi struktur yang sama dengan mitranya dari 50 juta tahun silam.

DAUN SUMAK
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Ukuran: 25 mm (0,9 inci)
Lokasi: Uintah County, Utah
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Seperti mahluk-mahluk hidup lainnya, spesies tumbuhan juga muncul terbentuk lengkap dengan struktur rumitnya. Hal ini berarti tetumbuhan diciptakan sempurna bersama semua sifatnya. Ratusan ribu fosil tumbuhan di lapisan-lapisan batuan membuktikan pendapat ini. Para evolusionis tidak dapat memberi kita fosil yang setengah pinus, setengah wilow, setengah lumut, setengah anggrek, atau setengah anyelir. Di sisi lain, ratusan ribu fosil menunjukkan bahwa wilow selalu tetap wilow, pinus tetap pinus, cemara tetap cemara, dan pohon gede (plane tree) tetap pohon gede. Masing-masing fosil ini, jutaan tahun umurnya, menyangkal evolusi. Fosil sumak (sumac) berumur antara 37 dan 54 juta tahun ini adalah satu lagi petunjuk yang membuka tipuan para Darwinis.

IKAN TROUT-PERKHI
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Ukuran: 10,6 cm (4,2 inci)
Lokasi: Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Ikan trout-perkhi biasanya hidup di danau. Jika satu dari mahluk ini tetap bertahan hingga hari ini bersama dengan semua ciri tanpa cela yang dimilikinya jutaan tahun lalu, tanpa mengalami perubahan, ia menjadi petunjuk kuat yang menyangkal model “evolusi perlahan” yang diajukan Darwin. Ada bukan cuma beberapa, melainkan jutaan contoh seperti ini di Bumi, yang akan membuktikan pendapat tersebut. Fosil ikan trout-perkhi ini sekadar bagian petunjuk itu.

IKAN HARING
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Ukuran: matriks: 34,2 cm x 43 cm (13,5 inci x
17 inci)
Lokasi: Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Sama seperti mahluk-mahluk hidup lainnya, ikan haring tidak mengalami perubahan selama jutaan tahun. Struktur ikan haring yang hidup 54 juta tahun silam dan hari ini tepat sama. Ini membantah pernyataan para evolusionis bahwa mahluk-mahluk hidup berevolusi pelan-pelan dari satu ke lainnya. Dalam foto adalah dua spesies ikan haring yang terawetkan berdampingan. Ikan-ikan ini, membatu bersama semua rinciannya, menunjukkan bahwa mahluk-mahluk hidup tidak melalui evolusi apapun, namun diciptakan.

TRILOBIT
Umur: 380 juta tahun
Ukuran: 60 mm (2,3 inci)
Lokasi: Sylvania, Lucas County, Ohio
Formasi: Silica Shale
Zaman: Devon

Trilobit adalah salah satu mahluk laut terpenting yang hidup di Zaman Kambria, meninggalkan banyak jejak di berbagai penjuru dunia. Salah satu ciri menakjubkan trilobit adalah struktur mata banyak lensanya, terdiri atas tak terhitung satuan, masing-masing adalah sebuah lensa. Mirip mata “sarang madu” heksagon serangga, masing-masing satuan ini berfungsi sebagai satu lensa mandiri. Masing-masing mengindra citra terpisah dan di otak, citra-citra ini disatukan. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian mata trilobit memiliki lebih dari tiga juta lensa, yang berarti bahwa lebih dari tiga juta citra disalurkan ke krustasea ini. Pendeknya, satu mahluk laut yang hidup 530 juta tahun silam memiliki otak dan mata yang sangat rumit-struktur tanpa cela yang tidak mungkin ada lewat evolusi.

IKAN HARING
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Ukuran: matriks: 31 cm (12,5 inci)
Lokasi: Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Dalam foto adalah beberapa ikan haring yang mungkin terbunuh bersama-sama karena terkubur mendadak. Jejak-jejak membatu ekor dan sirip tidak menunjukkan kerusakan sedikit pun. Lubang mata dan struktur tulang yang terawetkan sempurna sekali lagi menunjukkan bahwa evolusi tidak terjadi pada bagian mana pun masa geologi mereka.

LUING
Umur: 300 juta tahun
Ukuran: 50 mm (1,9 inci); matriks: 58 mm x 33 mm (2,2 inci x 1,2
inci)
Lokasi: Morris, (Mazon Creek), Illinois
Formasi: Francis Creek Shale
Zaman: Pennsylvania

Dalam foto adalah fosil luing berumur 300 juta tahun. Luing ini dan semua luing lainnya yang hidup 300 juta tahun tidak menunjukkan perbedaan sedikitnya pun dengan luing masa kini. Sama seperti mahluk-mahluk hidup lainnya, luing juga tidak berevolusi, melainkan diciptakan.

KELINCI MUDA
Umur: 30 juta tahun
Lokasi: Lusk, Wyoming
Formasi: Sungai Putih
Zaman: Oligosen

Fosil-fosil berumur 30 juta tahun yang mirip dengan mahluk-mahluk hidup masa kini membantah teori evolusi. Temuan-temuan fosil mengungkapkan bahwa kelinci selalu kelinci sejak dulu.

IKAN TROUT-PERKHI
Ukuran: panjang 65 mm (2,5 inci); matriks: 90 mm x 45
mm (3,5 inci x 1,7 inci)
Lokasi: Fossil Lake, Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Ikan trout-perkhi terdiri atas beberapa jenis. Hampir semuanya ada dalam rekaman fosil, yang menunjukkan bahwa mereka tetap sama selama jutaan tahun dan tidak berevolusi.

BULU BABI
Umur: 295 juta tahun
Ukuran: matriks: 110 mm x 163 mm (4,3
inci x 6,4 inci)
Lokasi: Brown County, Texas
Formasi: Winchell
Zaman: Karbon

Bulu babi Pennsylvania adalah ekinodermata yang dapat ditemukan hari ini di semua lautan di dunia. Fosil bulu babi yang berasal dari 300 juta tahun silam mengungkapkan bahwa invertebrata ini bersama dengan struktur rumitnya telah ada selama jutaan tahun. Selama masa itu, tidak ada perubahan terjadi pada strukturnya dan bulu babi tidak mengalami tahap-tahap peralihan. Para Darwinis berputus asa ketika dihadapkan dengan fosil-fosil ini, sebab fosil-fosil ini membuktikan bahwa proses evolusi tidak pernah ada.

DAUN SIKAMOR
Umur: 50 juta tahun
Ukuran: daun: 15 cm x 15 cm (6 inci x 6 inci) ukuran dari
cuping kiri ke ujung tangkai; matriks: 20,3 cm x 22,8 cm (8 inci x
9 inci)
Lokasi: Douglas Pass-Rangely, Colorado
Zaman: Eosen

Dengan meneliti sejarah fosil dan ciri-ciri struktural tetumbuhan yang hidup di darat, kita sampai kepada fakta yang tidak selaras dengan apa yang dinyatakan teori evolusi. Tetumbuhan yang diperlihatkan di hampir semua buku biologi tidak memiliki rekaman fosil yang membenarkan apa yang dikatakan sebagai proses evolusi. Kebanyakan spesies masa kini telah meninggalkan sisa-sisa yang sangat memuaskan di dalam rekaman fosil dan satu pun menunjukkan ciri-ciri yang menegaskan sebuah peralihan dari satu spesies ke spesies lain. Semuanya adalah spesies tersendiri, diciptakan bersama ciri-ciri khas mereka dalam bentuknya yang asli dan tidak meninggalkan kaitan peralihan sebagaimana dinyatakan. Seperti diakui ahli paleontologi evolusionis EC Olson, kebanyakan kelompok tumbuhan muncul mendadak, tidak meninggalkan moyang. (EC Olson, The Evolution of Life, New York: The New American Library,1965, h. 9)
Fosil daun sikamor (sycamore) berumur 50 juta tahun dalam foto juga membenarkan fakta ini.

IKAN PASIR
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Lokasi: Lincoln County, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Ikan pasir dalam foto berumur 37-54 juta tahun dan tidak mengalami perubahan selama waktu
itu. Fosil ini, sama dengan ikan pasir yang hidup di laut hari ini, menyanggah teori evolusi.

IKAN HARING
Umur: 55 juta tahun
Ukuran: matriks: 35 cm (13,7 inci x 23 cm (9 inci)
Lokasi: Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Fosil hidup tidak berbeda dengan mitranya yang hidup di masa sangat silam dan menawarkan petunjuk bahwa spesies-spesies tidak mengalami evolusi selama jutaan tahun. Ikan-ikan haring dalam foto adalah sebagian fosil hidup.

DAUN GINGKO
Umur: 54 hingga 65 juta tahun
Ukuran: 12 cm (4,8 inci)
Lokasi: Almont, North Dakota
Formasi: Sentinel Butte
Zaman: Paleosen

Tetumbuhan dalam rekaman fosil muncul dengan ciri-ciri yang mirip dengan tetumbuhan hidup masa kini. Ini menunjukkan bahwa mereka diciptakan, sama seperti mahluk-mahluk hidup lainnya. Daun gingko dalam foto berumur 65 juta tahun, membuktikan bahwa gingko tidak berevolusi. Garis-garis umum daun dan struktur nadinya telah membatu. Fosil berukuran 12 cm (4,8 inci) ini menunjukkan bahwa gingko tetap sama selama jutaan tahun. Tidak Anda perbedaan antara gingko kini dan yang tumbuh di masa silam.

IKAN HARING
Umur: 55 juta tahun
Ukuran: 12 cm (4,8 inci)
Lokasi: Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Walaupun para Darwinis memilih tidak mengakuinya, faktafakta yang diperlihatkan rekaman fosil itu jelas. Jutaan fosil yang dikumpulkan dari seluruh dunia menegaskan bahwa mahluk-mahluk hidup tidak berevolusi, namun diciptakan. Satu contoh yang menunjukkan fakta ini adalah ikan haring dalam foto. Ikan-ikan haring yang tetap sama selama jutaan tahun sekali lagi menunjukkan bahwa teori evolusi adalah sebuah tipuan.

IKAN MOLA-MOLA
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Ukuran: 17,2 cm (6,8 inci)
Lokasi: Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Lautan di zaman kita memiliki banyak spesies ikan mola-mola (sunfish). Fosil dalam foto menunjukkan
bahwa ikan mola-mola belum pernah berevolusi. Selama jutaan tahun fisiologi mereka tetap sama. Tampang dan struktur ikan mola-mola yang hidup 55 juta tahun silam sama seperti yang hidup saat ini.

IKAN LAMPREY
Umur: 300 juta tahun
Ukuran: lebar 43 mm (1,6 inci), pada sepasag bongkahan 73 mm x 48 mm (2,8 inci x 1,8 inci)
Lokasi: Pit 11,Francis Creek Shale, Braidwood, Illinois
Zaman: Pennsylvania

Tambang batubara Braidwood kaya akan fosil. Ikan lamprey dalam foto adalah satu spesies yang tidak memiliki tulang rahang. Walaupun umumnya hidup di air dangkal, beberapa spesies melakukan perjalanan jauh di samudera. Fosil ini adalah sebuah petunjuk bahwa ikan-ikan lamprey tidak mengalami perubahan selama kira-kira 300 juta tahun. Sekalipun waktu berlalu, ikan-ikan lamprey tetap sama. Tidak ada perbedaan antara seekor lamprey yang hidup jutaan tahun silam dan yang hidup hari ini.

IKAN TROUT-PERKHI
Umur: 50 juta tahun
Ukuran: 9,4 cm (3,7 inci); matriks: 17,5 cm x 12,3 cm (6,8 inci x 4,8 inci)
Lokasi: Fossil Lake, Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Para evolusionis menyatakan bahwa ikan berevolusi dari invertebrata seperti pikaia; bahwa amfibi dan ikan masa kini telah berevolusi dari apa yang disebut ikan moyang. Reptil berevolusi dari amfibi, burung dan
mamalia berevolusi dari reptil dan akhirnya, manusia dan kera maa kini berevolusi dari satu moyang bersama. Namun, untuk membuktikan pernyataan ini, mereka harus mampu menunjukkan fosil-fosil “rantai
hilang” peralihan ini. Namun, sebagaimana telah dikatakan, tidak ada jejak dari mahluk-mahluk khayalan ini.
Di sisi lain, ratusan juta fosil mengungkapkan bahwa apa yang disebut proses evolusi tidak pernah terjadi. Fosil-fosil ini membuktikan bahwa ikan selalu menjadi ikan, burung tetap burung, reptile dulunya juga reptil,
mamalia tetap mamalia dan manusia tetap manusia. Ikan trout-perkhi berumur 50 juta tahun dalam foto ini juga memperlihatkan bahwa mahluk-mahluk hidup tidak berevolusi, namun diciptakan.

EKOR IKAN TROUT
Umur: 15 juta tahun
Lokasi: Stewart Springs Flora, Stewart Valley, Nevada
Zaman: Miosen

Sebagian fosil memertahankan hanya bagian tertentu tubuh hidupnya. Dalam foto adalah ekor ikan trout berumur 15 juta tahun. Sebagaimana terlihat, tidak ada perbedaan antara ekor ikan trout 50 juta tahun lalu dan ikan trout yang masih hidup hari ini.

DAUN POPLAR
Umur: 15 juta tahun
Lokasi: Stewart Springs Flora, Stewart Valley,
Nevada
Zaman: Miosen

Pohon poplar dari keluarga Salicaceae tetap tak berubah selama jutaan tahun. Tidak ada perbedaan antara ciri-ciri organik dan susunan yang mereka miliki dulu dan yang mereka miliki sekarang. Fosil daun poplar yang berumur 15 juta tahun ini membuktikannya.

AYAK-AYAK
Zaman: Era Kenozoikum, Epos Eosen
Umur: 37 hingga 48 juta tahun
Lokasi: Amerika Serikat

Sama seperti spesies-spesies lain, kemantapan teramati sepanjang waktu keberadaan ayak-ayak ini adalah bukti bahwa pernyataan-pernyataan evolusioner itu salah. Teori evolusi diajukan di zaman yang secara ilmiah primitif di abad ke-19, dianut sekadar akibat kebodohan, namun runtuh di hadapan ilmu pengetahuan abad ke-20 dan ke-21.

BENIH SEPRUS
Umur: 15 juta tahun
Lokasi: Stewart Springs Flora, Stewart Valley, Nevada
Zaman: Miosen

Seprus (spruce, sejenis cemara) adalah istilah umum yang diberikan kepada 35 spesies pohon berlainan yang tetap hijau sepanjang tahun. Rekaman fosil memperlihatkan bahwa pohon-pohon ini sama selama jutaan tahun dan tidak mengalami evolusi apapun. Fosil benih seprus dalam foto berasal dari 15 juta tahun silam. Sebagaimana ditegaskan olehnya, jutaan tahun telah lewat, seprus selalu tetap sama. Tidak ada perbedaan antara seprus di masa kita dan yang hidup 15 juta tahun silam.

IKAN LENTERA
Umur: 5 hingga 23 juta tahun
Ukuran: 3,8 cm (1,5 inci)
Lokasi: California, Amerika Serikat
Formasi: Puente
Zaman: Miosen

Ikan lentera adalah ikan kecil yang hidup di samudera dalam dan menghasilkan cahaya dalam tubuhnya, umumnya di perut. Karena hidup di air yang dalam dan kelam, ikan ini menggunakan cahayanya untuk menerangi lingkungan sekitarnya dan menakuti musuh-musuhnya. Bahwa tubuh ikan ini struktur yang maju dan rumit yang dapat menghasilkan cahaya dalam tubuhnya jutaan tahun silam tak terjelaskan bagi para evolusionis.

DAUN PINUS PONDEROSA
Umur: 15 juta tahun
Lokasi: Stewart Springs Flora,
Stewart Valley, Nevada
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Miosen

Daun jarum pinus dalam foto berumur 15 juta tahun. Daun pinus 15 juta tahun silam dan daun pinus hari ini sama. Fakta bahwa pinus tetap sama sekalipun jutaan tahun telah berlalu sekali lagi membuktikan bahwa evolusi tidak pernah berlangsung.

IKAN PERKHI
Umur: 37 hingga 54
juta tahun
Lokasi: Fossil Lake,
Kemmerer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Menurut pernyataan para evolusionis, moyang ikan adalah invertebrata yang tak memiliki tulang punggung. Akan tetapi, para evolusionis gagal menjawab bagaimana moyang berusuk namun tidak bertulang mengembangkan tulang punggung. Itu karena mahluk-mahluk hidup ini harus melalui suatu perubahan demikian besar sehingga cangkang keras di sekeliling tubuh mereka harus lenyap sementara rangka muncul di dalam. Untuk alih rupa seperti itu, harus ada penghubung di antara kedua bentuk. Akan tetapi, para evolusionis gagal menunjukkan bahkan satu saja fosil bentuk peralihan antara vertebrata dan invertebrata. Di sisi lain, jutaan fosil menunjukkan bahwa ikan selalu tetap ikan, fosil perkhi berumur 37-54 juta tahun ini salah satunya.

IKAN HARING
Umur: 55 juta tahun
Ukuran: 21 cm (8,25 inci)
Lokasi: Kemerrer, Wyoming
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Paleosen

Ikan-ikan haring hidup di air dangkal dan tenang, sebagian besar di Atlantik Utara dan Laut Baltik. Ikan-ikan haring memiliki kira-kira 200 spesies yang hampir serupa. Semuanya berwarna perak dan memiliki sirip tunggal di punggung. Fosil ikan haring di dalam foto ini berukuran 21 cm (8,2 inci). Ia digali dari Sungai Hijau dari kedalaman 2200 meter (7217 kaki). Sebagaimana dengan rekaman fosil lainnya, fosil ikan haring ini menyingkapkan bahwa mahluk-mahluk hidup tidak menjalani evolusi. Para evolusionis kehilangan akal di hadapan rekaman fosil dan setiap temuan baru memperkuat keputus-asaan mereka.

DAUN WILOW
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Lokasi: Uintah County, Utah
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Eosen

Sebagaimana halnya dengan semua mahluk hidup lainnya, rekaman fosil mengungkapkan bahwa tetumbuhan tetap tak berubah selama jutaan tahun. Tetumbuhan masa kini memiliki sistem dan mekanisme yang sama dengan yang mereka miliki jutaan tahun silam. Fosil daun wilow dalam foto ini adalah bukti bahwa pohon wilow tetap sama selama 37 hingga 54 juta tahun. Jutaan fosil yang digali dari seluruh dunia membantah teori evolusi, mengungkapkan bahwa tetumbuhan tidak melalui suatu evolusi melainkan diciptakan.

DAUN POPLAR
Zaman: Era Kenozoikum, Epos Eosen
Umur: 37 hingga 54 juta tahun
Lokasi: Amerika Serikat

Spesimen fosil ini, petunjuk fakta bahwa poplar
selalu ada sebagai poplar, berusia sekitar 50 juta tahun. Poplar, tidak mengalami perubahan apapun selama 50 juta tahun, mengungkapkan bahwa teori evolusi bukan apa-apa melainkan sebuah tipuan dan bahwa evolusi tidak pernah terjadi. Alam semesta, bersama dengan semua mahluk hidup yang dikandungnya, adalah karya Allah Mahakuasa.

ATLAS PENCIPTAAN




150 tahun yang lalu, Charles Darwin, seorang ilmuwan alam dari Inggris, mengajukan sebuah teori yang didasarkan pada berbagai pengamatan yang ia lakukan selama perjalanannya, namun yang tidak dapat disokong oleh temuan-temuan ilmiah sesudahnya. Pada intinya, teori evolusi Darwin terdiri atas beragam skenario, asumsi, dan penyimpulan (konjektur) yang dilamunkan olehnya dalam angan-angannya.

Charles Darwin


Mikroskop lensa tunggal yang digunakan Darwin mengungkapkan alat-alat teknologi yang terbatas dan belum berkembang di masa itu.

Menurut skenario evolusinya, zat-zat mati bersatu secara kebetulan untuk membangkitkan sel hidup pertama. Tidak pelak lagi bahwa pernyataan ini sangat tidak cermat dan sesuatu yang tidak bisa diperkuat oleh petunjuk atau temuan ilmiah. Kemudian, menurut mitos itu, wujud kehidupan bersel tunggal ini pelan-pelan-dan lagi-lagi secara kebetulan-berubah menjadi spesies mikroba hidup pertama-dengan kata lain, berevolusi. Menurut kesalahkaprahan evolusi ini, semua bentuk kehidupan di Bumi, dari bakteri hingga manusia, muncul sebagai hasil proses khayali sedemikian.

Pernyataan Darwin tentulah didasarkan tidak atas petunjuk atau temuan ilmiah. Namun, karena pemahaman ilmiah dan peralatan teknologi yang tersedia saat itu boleh dikatakan masih sederhana, makna sepenuhnya pendapat Darwin yang ganjil dan tidak realistis itu tak sepenuhnya jelas terpampang. Dalam keadaan seperti itu, skenario Darwin mendapat pengakuan umum dari sejumlah besar kalangan. Landasan teori evolusi Darwin adalah materialisme. Karena itu, tidak perlu waktu lama bagi teorinya untuk dianut para materialis. Karena menolak fakta penciptaan, kalangan materialis membuta dalam merengkuh teori evolusi, bahkan menyatakan bahwa teori itulah yang diyakini sebagai dasar ilmiah dari pandangan dunia mereka.

Dengan melakukan sejumlah besar penelitian dan penyelidikan serta membangun lingkungan buatan di laboratorium-laboratorium, mereka mencoba menghadirkan temuan-temuan yang akan menguatkan teori Darwin. Akan tetapi, setiap keping penelitian dan setiap temuan baru yang mereka peroleh hanyalah menyusun petunjuk yang membantah alih-alih menegaskan teori. Ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kemajuan pesat sejak awal abad ke-20 dan membantah teori evolusi. Semua cabang ilmiah yang berkaitan dengan pokok itu-seperti mikrobiologi, biomatematika, biologi sel, biokimia, genetika, anatomi, fisiologi, antropologi, dan paleontologi-menyingkapkan tak terhitung bukti yang semuanya melemahkan teori evolusi.

Salah satu temuan besar yang membantah teori evolusi adalah rekaman fosil, yang engungkapkan bahwa struktur spesies-spesies hidup tetap tak berubah selama puluhan juta tahun. Dalam foto dalah seekor serangga yang hidup di masa kita dan fosilnya yang berumur 50 juta tahun. Spesies ini, yang tetap sama setelah 50 juta tahun, membantah evolusi.


Fosil salamander berumur 125 juta tahun dan mitra masa kininya


Pakis telah memertahankan struktur yang sama sejak hari diciptakan. Pakis yang tetap sama selama kira-kira 300 juta tahun adalah sepotong petunjuk yang menguatkan ketidaksahihan teori evolusi.


Rekaman fosil mungkin merupakan petunjuk terpenting yang meruntuhkan pernyataan-pernyataan teori evolusi. Fosil-fosil mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk kehidupan di Bumi tidak pernah mengalami bahkan secuil pun perubahan dan tidak pernah saling berkembang ke satu sama lain. Dengan meneliti rekaman fosil, kita mengetahui bahwa mahluk-mahluk hidup saat ini persis sama dengan mahluk-mahluk hidup jutaan tahun silam-dengan kata lain, mereka tidak pernah mengalami evolusi. Bahkan selama zaman-zaman paling kuno, bentuk-bentuk kehidupan muncul mendadak beserta segenap struktur rumitnya-dengan ciri-ciri sempurna dan unggul, sebagaimana keturunannya hari ini. Ini menunjukkan satu fakta tak terbantahkan. Mahluk-mahluk hidup tidak muncul lewat proses khayali evolusi. Semua mahluk hidup yang pernah ada di Bumi diciptakan oleh Allah. Fakta penciptaan ini tersingkap sekali lagi dalam jejak-jejak yang ditinggalkan oleh mahluk-mahluk hidup yang tanpa cela. Buku ini akan memberikan Anda bukan hanya informasi tentang apa itu fosil dan di mana serta bagaimana ditemukan, namun juga penelitian lebih dalam beragam spesimen fosil yang jutaan tahun umurnya dan tetap mampu menyerukan, “Kami tidak pernah mengalami evolusi; kami diciptakan. ” Fosil-fosil yang dibahas dan diuraikan di buku ini hanya sebagian kecil contoh dari ratusan juta spesimen yang membuktikan fakta penciptaan. Dan bahkan sedikit contoh ini sudah cukup membuktikan bahwa teori evolusi itu kebohongan dan tipuan besar dalam sejarah ilmu pengetahuan.

APAKAH FOSIL ITU?

Menurut definisi terluasnya, fosil adalah sisa mahluk hidup yang hidup dulu sekali dan masih ada hingga hari ini karena terawetkan oleh keadaan alam. Fosil-fosil yang sampai kepada kita adalah bagian-bagian tubuh suatu organisme, atau sisa-sisa yang ditinggalkan saat mahluk hidup terkait masih hidup (yang terakhir ini disebut fosil jejak). Fosil terbentuk ketika binatang atau tumbuhan mati terawetkan sebelum sempat membusuk sempurna, lalu menjadi bagian dari batuan endapan Bumi. Agar proses pemfosilan berlangsung, binatang atau tumbuhan harus cepat-cepat terkubur-biasanya dengan cara dibungkus lapisan lempung. Secara umum, hal itu diikuti oleh proses kimiawi, dengan mana pengawetan terjamin lewat cara perubahan mineral yang terjadi pada jaringan-jaringan asli.


FOSIL KODOK BERUMUR 50 JUTA TAHUN Tidak ada perbedaan antara kodok ini, yang hidup 50 juta tahun silam, dan yang hidup hari ini.


1.Umumnya, setelah kematian suatu organisme hidup, pertama-tama jaringan lunak menjadi rusak dan membusuk. Lalu, bagian-bagian keras seperti tulang dan gigi bertahan. Penguburan harus terhadap cukup cepat untuk mencegah kerusakan tulang.
2. Setelah waktu yang lama, tulang menjadi terkubur di bawah lapisan-lapisan dasar endapan dan di situlah sisa-sisa mahluk hidup menjadi membatu.
3.Seraya tanah di atasnya perlahan-lahan terkikis, lapisan batuan tempat fosil terbentuk mulai muncul ke permukaan.
4. Fosil yang mencapai permukaan muncul sendiri atau ditemukan oleh para ahli palentologi selama penyelidikan mereka.

Fosil adalah petunjuk terpenting rincian kehidupan prasejarah. Dari berbagai kawasan dunia, ratusan juta fosil telah diperoleh dan semuanya memberikan sebuah jendela untuk melihat sejarah dan struktur kehidupan di Bumi. Jutaan fosil menandakan bahwa spesies-spesies muncul mendadak, terbentuk sempurna dan beserta struktur rumitnya, dan tidak mengalami perubahan apapun selama jutaan tahun setelah itu. Inilah bukti penting bahwa kehidupan dimunculkan dari ketiadaan-dengan kata lain, kehidupan itu diciptakan. Spesimen-spesimen fosil yang dinyatakan para evolusionis sebagai “fosil antara” sedikit jumlahnya dan ketidaksahihannya telah dibuktikan secara ilmiah. Pada saat yang sama, sebagian spesimen yang digambarkan sebagai fosil antara telah terungkap sebagai pemalsuan, menunjukkan bahwa para Darwinisdemikian berputus asa sampai-sampai berpaling ke penipuan.

Fosil kepiting yang hidup antara 38 dan 23 juta tahun silam.

Selama 150 tahun terakhir atau lebih, fosil-fosil hasil penggalian yang dilakukan di seluruh dunia membuktikan bahwa ikan itu selalu dulunya ikan, serangga itu selalu dulunya serangga, burung selalu burung, dan reptil selalu reptil. Tidak satu fosil pun yang menunjukkan suatu peralihan di antara spesies-spesies mahluk hidup-misalnya, dari ikan ke amfibi, atau dari reptil ke burung. Pendeknya, rekaman fosil telak-telak menghancurkan pernyataan dasar teori evolusi bahwa spesies-spesies turun dari satu sama lain melalui perubahan-perubahan selama masa waktu yang panjang.

Di samping informasi tentang bentuk kehidupan, fosil juga memberikan data penting tentang sejarah planet, seperti cara gerakan lempeng benua mengubah permukaan Bumi dan jenis perubahan iklim yang terjadi di masa silam.

Fosil pohon birk dari Zaman Paleosen (65,5 hingga 55 juta tahun silam) yang ditemukan di Montana adalah fosil tiga dimensi.


Fosil telah menarik minat para peneliti sejak zaman Yunani Kuno, walau penelitian fosil sebagai cabang ilmu tersendiri baru dimulai di pertengahan abad ke-17. Ini diikuti oleh karya-karya peneliti Robert Hooke (pengarang Micrographia di tahun 1665 dan Discource of Earthquakes di tahun 1668) dan Niels Stensen (yang lebih terkenal sebagai Nicolai Steno). Pada saat Hooke dan Steno melakukan penyelidikan mereka, kebanyakan pemikir tidak memercayai bahwa fosil sebenarnya sisa mahluk hidup yang pernah hadir di masa lalu. Di tengah perdebatan tentang apakah fosil itu benar-benar sisa mahluk hidup ada ketakmampuan menjelaskan letak fosil ditemukan secara geologis. Fosil sering ditemukan di daerah pegunungan, dan pada saat itu, mustahil menjelaskan cara seekor ikan, misalnya, memfosil di lapisan batuan yang demikian tinggi dari permukaan laut. Sebagaimana pernah disarankan oleh Leonardo Da Vinci, Steno bersikukuh bahwa permukaan laut telah menurun selama perjalanan sejarah. Hooke, di sisi lain, mengatakan bahwa pegunungan terbentuk sebagai akibat pemanasan di dalam Bumi dan gempa di lempeng-lempeng benua.

Seorang peneliti fosil sedang bekerja di Formasi Ediacara di Australia.

Setelah uraian-uraian Hooke dan Steno, yang menjelaskan bahwa fosil sebenarnya adalah sisa mahluk hidup yang hidup di masa lampau, geologi berkembang selama abad ke-18 dan 19, lalu pengumpulan dan penelitian fosil mulai berubah menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip yang diletakkan Steno diikuti dalam pengelompokan dan penafsiran fosil. Mulai abad ke-18, perkembangan dunia pertambangan dan meningkatnya pembangunan rel kereta api memungkinkan penyelidikan yang lebih luas dan terinci mengenai apa yang terkubur di bawah permukaan tanah.

Geologi modern menyingkapkan bahwa kerak Bumi terdiri atas ruas-ruas besar yang disebut dengan “lempeng, ” yang bergerak melintas permukaan bola dunia, mengusung benua dan membentuk samudera. Semakin besar gerakan lempeng, semakin banyak perubahan dalam geografi Bumi. Untaian pegunungan adalah hasil tumbukan antara lempeng-lempeng raksasa. Perubahan dan tonjolan dalam geografi Bumi yang terjadi selama jangka waktu yang panjang juga menunjukkan bahwa lapisan-lapisan yang saat ini menyusun bagian-bagian pegunungan suatu saat berada di bawah permukaan air.

Bintang laut berumur antara 443 dan 490 tahun ini mengungkapkan bahwa bintang laut tetap sama selama ratusan juta tahun dan tidak berevolusi.


SEMUT BERSAYAP YANG HIDUP ANTARA 20 HINGGA 15 JUTA TAHUN SILAM Fosil-fosil yang terperangkap dalam damar oleh pengerasan getah juga membantah teori evolusi.


Udang yang hidup 250 juta dan 70 juta tahun silam sama dengan yang hidup di zaman kita. Udang yang tetap tak berubah selama jutaan tahun menunjukkan bahwa evolusi tidak pernah terjadi.



Temuan-temuan fosil mengungkapkan bahwa mahluk-mahluk khayalan dalam gambar-gambar ini tidak pernah ada. Mahlukmahluk hidup lainnya muncul mendadak dalam rekaman fosil, lengkap dengan semua ciri-cirinya, dan sepanjang hidup mereka, spesies-spesies ini tidak mengalami perubahan apapun.

Para Darwinis menyatakan bahwa dengan mengalami perubahan-perubahan kecil, mahluk-mahluk hidup berevolusi dari satu spesies ke spesies lainnya selama jutaan tahun. Menurut pernyataan yang dibantah temuan-temuan ilmiah ini, ikan beralihrupa ke amfibi, dan reptil beralihrupa
ke burung. Proses yang disebut alihrupa ini, yang dikatakan berlangsung jutaan tahun, seharusnya meninggalkan sangat banyak petunjuk dalam rekaman fosil. Dengan kata lain, selama penelitian mereka yang sungguh-sungguh selama seratus tahun terakhir, para penelitian seharusnya menyingkap banyak mahluk hidup amat ganjil seperti setengah ikan setengah kadal, setengah laba-laba setengah lalat atau setengah kadal setengah burung. Akan tetapi, sekalipun hampir setiap lapisan Bumi telah digali, tidak satu juga fosil telah ditemukan yang dapat dipakai para Darwinis
sebagai petunjuk dari yang mereka sebut peralihan.
Di sisi lain, ada tak terhadap fosil yang menunjukkan bahwa laba-laba selalu laba-laba, lalat selalu lalat, ikan selalu ikan, buaya selalu buaya, kelinci selalu kelinci dan burung selalu burung. Ratusan juta fosil jelas-jelas menunjukkan bahwa mahluk-mahluk hidup tidak mengalami evolusi, namun diciptakan. Ratusan juta fosil membuktikan bahwa mahluk-mahluk hidup tidak berevolusi, melainkan diciptakan.

1- Dalam foto adalah seekor trilobit yang hidup di zaman Ordovisi (490 hingga 443 juta tahun silam) dan seekor gastopoda dari zaman Silur (443 hingga 417 juta tahun silam). Dari fosil-fosil ini, kita dapat menduga bahwa lapisan batuan tempatnya berada berumur kirakira 442 hingga 448 juta tahun.
2-Fosil-fosil yang digunakan untuk menentukan tanggal formasi batuan disebut fosil indeks. Sebagian besar spesies ini adalah yang hidup hanya di zaman tertentu, tersebar luas dan mudah dikenali.


Penelitian-penelitian geologi menunjukkan bahwa lapisan-lapisan Bumi bergerak dan pegununganpegunungan terbentuk sebagai akibat gerakan dan tumbukan lempeng-lempeng tektonik besar. Dalam gambar di atas, sejarah formasi Himalaya dilukiskan. Ketika kawasan India mulai bergerak ke arah Euroasia kira-kira 145 juta tahun silam, lantai samudera tergelosor ke bawah Euroasia. Bergabungnya India dengan Euroasia menyebabkan lapisan-lapisan lantai samudera terperangkap di antara kedua benua dan pada gilirannya, menjadi terdesak ke atas, menghasilkan timbulnya pegunungan Himalaya masa kini.


Lewat cara inilah fosil-fosil yang terlihat dalam lapisan batu tampil sebagai salah satu cara utama mendapatkan informasi tentang beraneka zaman sejarah Bumi. Informasi geologis menunjukkan bahwa sisa-sisa mahluk hidup yang setelah mati terawetkan dalam endapan -alias fosil-muncul di lapisan batu yang tergelar selama masa waktu yang sangat panjang. Sebagian batuan tempat fosil ditemukan berasal dari masa ratusan juta tahun.

Selama kajian-kajian itu, teramati juga bahwa spesies fosil tertentu hanya ditemukan di lapisan dan jenis tertentu batuan. Lapisan batuan yang berurutan tampak mengandung kelompok khas fosil yang boleh dianggap sebagai “tandatangan” bagi lapisan itu. “Fosil tandatangan” ini dapat beragam; sesuai dengan waktu, zaman, atau daerah. Misalnya, dua keadaan lingkungan dan jenis endapan yang berbeda-ambil contoh dasar danau kuno dan gugus karang-dapat ditemukan di lapisan penyimpan fosil yang sama yang berasal dari zaman geologi yang sama. Sebaliknya, orang dapat menemukan fosil “tandatangan" yang sama pada dua lapisan batuan yang terpisah berkilo-kilometer jauhnya. Dari informasi yang disampaikan oleh sisa-sisa ini, para ilmuwan menentukan kerangka waktu zaman geologi yang masih kita pakai hari ini.