Showing posts with label mistery. Show all posts
Showing posts with label mistery. Show all posts

Tuesday, November 6, 2012

Phantom Pyramid "Piramida Hantu di Atas Gunung"




Phantom Pyramid atau piramida hantu ialah sebuah fenomena misterius yang menakjubkan dan mengagumkan. Biasanya fenomena ini akan terlihat ketika kita mendaki pegunungan, dan ketika kita mengambil foto disaat matahari terbit, phantom pyramid akan muncul. 
Sebenarnya, berbeda dengan namanya yang misterius, phantom pyramid hanyalah sekedar bayangan yang nampak seperti piramida.
Bayangan ini bisa muncul akibat perpekstif pengambilan gambar dan juga bayangan gunung yang terbentuk secara selaras hinga menyerupai piramida. Berikut ini beberapa gambar phantom pyramid.

Penemuan Kayu dan Goa Misterius di Mars




Gambar yang diambil NASA ini menunjukkan adanya sebuah gua seperti pintu yang misterius pada dasar sebuah formasi bukit di Mars. Orang yang pertama mengidentifikasi pintu tersebut bukanlah ilmuwan NASA melainkan seorang pembaca web Cnews dari Rusia bernama Alexander Novgorodov. Ia melihat sebuah struktur seperti buatan manusia di kaki bukit. Gambar ini diambil oleh pesawat Reconnaissance Orbiter.
Para peneliti mengemukakan kemungkinan bahwa pintu tersebut adalah sebuah hasil dari erosi iklim. Namun tetap saja pintu itu menjadi perbincangan hangat mengingat bentuknya yang unik.
Bentuk bukit yang seperti air mata ini terletak di tengah-tengah wilayah beku planet Mars. Mars adalah rumah dari gunung terbesar di seluruh planet dan lembahnya adalah yang terdalam dari seluruh planet yang pernah ditemukan. Dan Mars juga satu-satunya planet yang paling mungkin dapat menampung kehidupan manusia. Beberapa tanaman terbukti dapat hidup pada tekanan CO2 rendah seperti atmosfer Mars.
Kayu ?
Foto dibawah ini diambil oleh Mars Rover, dan yang terekam di dalam foto tersebut membuat para ahli kebingungan. Apakah itu sepotong kayu ? Foto itu pertama kali dirilis pada tahun 2004.
Segera dunia internet menjadi ramai dengan perbincangan dan teori konspirasi. Sebuah situs bernama TheCrit.com bahkan mengatakan bahwa NASA pernah menyatakan bahwa Mars adalah sebuah dunia gurun yang memiliki hutan lebat. Dan itu tidak pernah dibuka kepada publik.
Para peneliti yang skeptis menyatakan bahwa gambar kayu tersebut kemungkinan didapat dari hasil pareidolia - sebuah stimulus acak yang dipersepsikan memiliki signifikasi bentuk. Seperti awan yang kadang terlihat memiliki bentuk tertentu.

Misteri Danau Tengkorak Roopkund




Terselip di sudut terpencil di Himalaya pada ketinggian 5.029 meter (16.500 kaki) di negara India Uttarakhand, Roopkund memegang misteri yang telah menarik generasi busters mitos. Lebih dikenal sebagai 'Danau Tengkorak' sejak penjaga taman nasional datang ke tempat ini dan menemukan sebuah kuburan massal berisi sekitar 300-600 kerangka. Setelah penemuan mengagumkan tahun 1942 ini , danau tengkorak Roopkund telah menghasilkan sensasi fenomenal. Sebuah danau beku yang jauh dan tak dihuni, yang membutuhkan empat hari perjalanan untuk mencapainya dari lokasi desa yang terdekat, telah menjadi hotspot untuk studi dan spekulasi baru.



Proses penanggalan karbon dilakukan pada kerangka kerangka ini mengungkapkan bahwa kerangka kerangka manusia ini mati sekitar abad ke-12 sampai 15. Pada dasarnya, diasumsikan bahwa kematian tersebut disebabkan oleh beberapa bentuk bencana alam seperti longsor, badai salju atau epidemi. Namun, kontroversi, masih berkembang hingga saat ini dikalangan penduduk lokal, antropolog dan sosiolog.
Sebagian orang menghubungkannya dengan cerita rakyat lokal. Yang Lain memperkirakan bahwa kerangka kerangka tersebut berasal dari berbagai sebab seperti orang-orang dari Tibet yang mengembara atau pedagang yang telah tersesat, dan orang yang melakukan bunuh diri ritual, serta tentara yang kalah, dll.
Pada tahun 2004, sebuah tim ilmuwan Eropa dan India dikirim oleh National Geographic Channel mengunjungi Roopkund untuk melanjutkan penelitian. Penelitian mereka telah menggali petunjuk menarik dan informasi. Bagian dari temuan mereka termasuk harta antropologis seperti mayat yang terawat baik, perhiasan, tulang dan tengkorak.
Dengan melakukan tes DNA pada kerangka kerangka ini para ahli telah menemukan bahwa kerangka kerangka ini milik dua kelompok yang berbeda. Satu kelompok ditandai dengan perawakannya lebih pendek dilihat dari kerangkanya sementara yang lain secara signifikan lebih tinggi. Kelompok pertama kemungkinan adalah pengrajin lokal atau porter, sementara yang termasuk kelompok kedua kemungkinan anggota dari klan yang sama dengan kelompok pertama.
Penanggalan radiokarbon yang lebih baru yang dilakukan tim NGC, mengungkapkan bahwa telah ada kesalahan data kronologis pada penanggalan yang dilakukan sebelumnya. Kerangka kerangka ini dianggap berasal dar abad ke 9. Sahabat anehdidunia.com para ilmuwan dari London dan Hyderabad memeriksa tengkorak untuk mengetahui apakah kerangka kerangka tersebut mengalami patah tulang, yang mereka anggap sebagai hasil dari hujan badai yang disertai bola bola es (hailstorm) secara tiba-tiba. Bola es yang terjadi disini volumenya luar biasa besar - rata-rata seukuran bola tenis.
Tidak heran bahwa siapa pun yang terkena Hailstorm di Garhwal Himalaya tanpa ampun akan binasa. Udara beku dan hantaman bola bola es besar memberikan kontribusi terhadap holocaust mereka. Dan diperkirakan bahwa lebih dari satu longsor telah melanda Roopkund sejak kematian orang orang itu. Longsor inilah yang mengubur beberapa mayat ke dasar danau, dimana mayat mayat tersebut masih ditemukan utuh, terawetkan di bawah es.
Jika pun teori penyebab kematian tragis ini benar, ada satu pertanyaan lagi yang menyusul dan membingungkan. Yaitu tentang kemana orang-orang ini pergi. Roopkund bukanlahh sebuah daerah historis signifikan dan tidak ada jejak dari setiap rute perdagangan ke Tibet telah ditemukan disini. Roopkund juga bukani situs untuk ziarah yang menarik sekelompok besar orang.
Namun, film dokumenter 'Danau Tengkorak' yang dibuat oleh National Geographic Channel (NGC) telah mementahkan asumsi ini. Di Film ini NGC mengklaim bahwa Roopkund adalah tempat untuk festival agama Garhwali yang disebut 'Nanda jaat yatra' yang diadakan di setiap 12 tahun. Sebuah prosesi yang terdiri dari seekor domba jantan bertanduk empat yang baru lahir dianggap sebagai titisan seorang Dewi diarak dari desa terdekat dan dibawa menuju Roopkund.
Kemungkin kerangka kerangka di danau ini adalah mereka para pemuja yang berpartisipasi dalam prosesi massal beberapa abad yang lalu. Dari cerita rakyat, mengatakan bahwa seorang raja tertentu telah berpartisipasi dalam ritual 'yatra' dengan membawa para penari perempuan. Ini telah menyinggung Nanda Sang Dewi, sehingga menimpakan hailstorm kepada mereka.
Cerita rakyat tersebut mungkin hanyalah dongeng belaka, tetapi sangat mungkin bahwa setidaknya tubuh yang lebih tinggi adalah tubuh para anggota kerajaan dan tubuh yang lebih pendek, yang terserak di seluruh danau adalah porter lokal - semuanya tewas terkena hailstorm. Apapun penyebab kematian mereka - tidak ada yang benar benar tahu apa yang menyebabkan begitu banyak orang melakukan sebuah perjalanan yang jauh dan melelahkan berabad abad lalu.

Misteri topeng Hijau Gua Made




Penelitian arkeologi di Goa Made mulai dilakukan oleh para arkeolog Indonesia dibantu Anacleto Spazzapan ahli geometri Italia di tahun 2006. Sebenarnya sebelum penggalian arkeologi tahun 2006 telah banyak ditemukan topeng perunggu oleh penduduk setempat. Topeng-topeng tersebut bentuknya bermacam-macam, namun sebagaimana topeng, maka yang digambarkan hanyalah bagian penutup wajah saja. Ada juga yang wujudnya patung dada jadi digambarkan kepala hingga dadanya (patung torso), dan terdapat pula topeng yang menggambarkan kepala hingga leher. Sahabat anehdidunia.com ukurannya bervariasi pada setiap topeng, untuk jelasnya perhatikan beberapa contoh topeng pada foto-foto berikut:
Artefak perunggu dari Goa Made tahun 2006 dan 2007 Goa Made, di Desa Made, Kecamatan Kudu, jumlahnya lebih dari 100 macam benda, umumnya berupa topeng, namun ada juga artefak lainnya seperti:
1. hewan gajah,
2. babi hutan yang ditunggangi manusia,
3. tabung silindris dengan puncak kepala manusia ganda (menghadap ke depan-belakang),
4. kelompok wadah seperti: bejana upacara, kendil, kendil bercucuk, dan lainnya
5. figur perempuan yang sedang menyusui anaknya,
6. gajah sedang mengamuk, belalainya membelit dan menginjak orang-orang, di punggungnya digambarkan ada pengendaranya yang sedang meniup terompet
7. Kereta dikendarai beberapa orang yang sedang ditarik gajah, dan sebagainya
Temuan yang paling menarik jelas topeng perunggu yang sebagian berwarna hijau karena menunjukkan peran penting wilayah ini pada zaman dulu.
Dengan beranekanya temuan benda perunggu yang terdapat di situs Goa Made dan sekitarnya, menunjukkan bahwa areal situs tersebut di masa silam mempunyai peranan penting dalam aktivitas manusia. Pembicaraan selanjutnya adalah perihal topeng perunggu saja, karena topeng seperti itu tidak pernah dikenal dalam khasanah arkeologi Indonesia, sedangkan mengenai benda-benda lainnya akan dijelaskan dalam kajian selanjutnya.
Apabila diperhatikan secara sepintas, maka raut wajah yang digambarkan oleh topeng- topeng tersebut banyak yang bukan memperlihatkan wajah orang Jawa atau orang Indonesia pada umumnya. Wajah-wajah topeng umumnya digambarkan dengan:
mata yang salah satu sudutnya (sudut luar) lebih naik dari sudut lainnya yang dekat dengan pangkal hidung
beberapa topeng jelas digambarkan dengan mata yang sempit,
alis di atas mata juga digambarkan melengkung naik mengikuti mata yang digambarkan miring, hal itu mirip dengan raut wajah orang-orang Asiatic Mongoloid.
Oleh beberapa arkeolog Indonesia situs Goa Made dihubungkan dengan periode Majapahit, alasan mereka adalah terdapatnya artefak perunggu dan batu yang dapat diidentifikasikan dari era Majapahit. Artefak-artefak khas Majapahit itu justru ditemukan dalam penggalian arkeologi tahun 2006 yang lalu. Penggalian itu dilakukan atas kerja sama antara arkeolog Indonesia dan ahli dari Italia, hasil penggalian menghasilkan bermacam temuan antara lain topeng perunggu, fragmen benda-benda perunggu, dan juga pecahan clupak batu (lampu minyak).
Selain itu dari temuan lepas yang berasal dari sekitar situs Goa Made pun mengindikasikan bahwa banyak artefak perunggu justru berasal dari zaman Majapahit, seperti patung gajah, perempuan menyusui, perempuan dan anak-anaknya dalam perahu yang dihias bentuk kepala berang-berang, kereta yang ditarik gajah, dan sebagainya, jelas menunjukkan dari zaman Majapahit. Hal yang menarik adalah ditemukan arca bhiksu- bhiksu dan dewa-dewa Buddha yang khas bergaya Cina, dan itu pun dapat dipastikan berasal dari sekitar abad ke-13-14, artinya sezaman dengan perkembangan Majapahit.
Perkara yang justru penting dan harus dijelaskan adalah banyaknya temuan artefak yang berwujud topeng dengan wajah yang umumnya berbeda dengan wajah-wajah orang Melayu (Malayan-Mongoloid). Sahabat anehdidunia.com penggambaran wajah-wajah yang tidak bercirikan wajah Melayu terdapat juga pada beberapa artefak batu dan nekara perunggu dari masa prasejarah dalam zaman megalitik Indonesia, artinya jauh dari masa perkembangan Majapahit.
Topeng perunggu artefak yang ditemukan di Goa Made, Kabupaten Jombang, materinya campuran antara tanah liat (keramik) dan logam (metal). Bahan ini lazim dikenal dengan cermet (ceramic-metal) yang saat ini dipakai untuk membuat chip komputer. Analisis kimiawi itu dilakukan Laboratorium Arkeologi Eksperimental Giuseppe Pulitani di Colonna, Roma. Pada zamannya, material cermet merupakan satu-satunya di dunia. Bukan apa-apa, kebanyakan temuan topeng di situs arkeologi terbuat dari emas dan kayu. "Ini rediscovery." Dari segi teknologi pembuatan. Mereka membuat cetakan sehingga sejumlah topeng bentuknya sama.
Adonannya berasal dari tanah liat dicampur dengan bubuk metal. Bahan tanah diambil dari persawahan di Jombang yang terkenal subur. Asal logam diduga dari koin-koin Kekaisaran Cina yang ditumbuk halus.
Pada Mei 2011 Laboratorium Metal di Milano melansir temuannya bahwa artefak Goa Made tersebut berumur 3.000 tahun sebelum Masehi. Jika benar, hasil ini mencengangkan karena Jombang bakal mengubah peta peradaban dunia. Jombang bisa dianggap tempat penyebaran manusia ke Asia Tenggara dan Austronesia, bukannya Yunan di Cina selatan.
Temuan tersebut menjadi bahan diskusi ilmuwan internasional di Departemen Arkeologi, Universitas Bologna, Italia. Dari Indonesia hadir arkeolog UI Agus Aris Munandar dan Wanny Rahardjo. Dan Ternyata hasil lab Milano keliru.
Dari cerita warga Desa Made, goa tersebut merupakan tempat mengungsi pejabat Majapahit ketika kerajaan ini mulai runtuh. Untuk mengamankan barang-barang penting mereka menanamnya di Goa Made. Masalahnya, topeng perunggu tersebut tidak ditemukan di Trowulan yang menjadi ibu kota Majapahit. Kalau usianya lebih tua lagi, jelas bukan bagian dari Kerajaan Majapahit.
Hasil penelitian terbaru yang ditulis oleh AM Steiner dan M Vidale dan dimuat di majalah Archeo yang terkenal di Italia, mengatakan bahwa topeng hijau gua made berasal dari abad ke10 SM. Dan hasil ini jelas membuat para sejarawan harus menulis ulang asal manusia di pulau pulau Asia Tenggara, membuka lembaran sejarah baru yang tak terduga tentang masa lalu yang hilang dari Eurasia.

Tuesday, October 23, 2012

Rahasia Tersembunyi Bani Jawi (Bangsa Melayu/Nusantara)


Alter Terahsia BangsaMelayu
Mengapa Israel bersusah-payah
membina pangkalan dan
pengaruhnya di Singapura?
Apa kaitan Cina Singapura dengan
Yahudi Zionis?
Adakah terdapat apa-apa
perancangan ketika Stamford Raffles
menjejakkan kakinya di Pulau
Singapura?
Apa hubungan Bangsa Melayu dengan Bangsa Yahudi?
Apakah dia alter terahsia BangsaMelayu?.
Apa yang terjadi 2000 tahun sebelum Masehi di antaraMelayu dan Yahudi?
Semua persoalan ini akan terjawab di dalam siri artikel yang penuh dramatik ini.
Artikel ini berasal dari kompilasi tulisan Lodgekeeper dan temuramah-temuramah yang
dibuat dalam masa yang berasingan.
Selamat Membaca.
ALTER TERAHSIA BANGSA MELAYU
“…sent them away from his son Isaac to the land of the east.”
(Genesis 25:6 New International Version)
Di atas adalah petikan dari Kitab Kejadian dari Kitab Injil yang merupakan penyimpan
rahsia terbesar berkenaan satu bangsa yang bergerak ke Timur dunia bagi
mengembangkan keturunan manusia seperti yang diperintahkan Tuhan.
Bangsa terahsia inilah yang menurunkan pelbagai bangsa Asia dari tempat asal mereka
iaitu Asia Barat dan Asia Tengah di mana dari situlah bermulanya peradaban manusia.
Bangsa ini, yang merupakan pemegang rahasia akhir zaman adalah satu bangsa besar
yang pernah membina kota-kota purba dan menyertai peperangan-peperangan agung
sejak surutnya Banjir Besar bersama-sama bangsa agung yang telah pupus seperti
Sumerian dan Akkadian.
Sesungguhnya kisah pengembaraan bangsa ini merupakan satu epik yang teramat
panjang,lebih panjang dari epik Homer,The Iliad and the Odyssey.
Untuk mengkaji sifat dan karakter bangsa misteri ini,perlulah dicari dan dirintis sejarah
panjang pengembaraan mereka dan apakah yang ditemui mereka di sepanjang epik
perjalanan mereka itu.Faktor yang mewujudkan kepelbagaian dari segi wajah,bahasa
dan personaliti bangsa ini.Faktor yang menjadi sumber ALTER TERAHSIA bangsa
misteri ini.
Apakah yang dimaksudkan dengan alter? Alter dalam bahasa mudah adalah personaliti
tambahan atau pun personaliti lain yang selalunya akan muncul apabila di’suis’ dalam
keadaan tertentu.Istilah alter sebenarnya berasal dari istilah mindcontrol di mana alter
ini muncul setelah seseorang individu mengalami teknik mindcontrol tertentu contohnya
teknik berasaskan-trauma.
Contoh yang paling mudah ialah apabila seseorang dikejar oleh anjing yang
garang.Secara tiba-tiba orang tadi akan berlari sepantas-pantasnya sehingga dia sendiri
merasa hairan dengan kemampuan dirinya yang luarbiasa itu.Padahal setiap kali pertandingan larian 100 meter,dialah yang tercorot (misalnya).
Juga jika seseorang yang dianggap lemah dalam sesuatu perkara,secara tiba-tiba menjadi
begitu bersemangat dan gagah bila menyentuh perkara yang lain.
Satu contoh yang baik tentang alter ialah dalam buku Norman Cousins berjudul
Anatomy of an Illness, yang menceritakan kisah yang penuh dengan maklumat tentang
Pablo Casals,salah seorang pemuzik yang terhandal dalam abad ke 20.Cousins
menceritakan pertemuannya dengan Casals tidak lama sebelum hari jadinya yang ke 90
pemain celo yang handal itu.Cousins mengatakan bahawa adalah sangat menyiksakan
untuk melihat orang tua itu semasa dia memulakan harinya.
“Dia sangat lemah dan artritisnya tambah melemahkannya sehinggakan dia
memerlukan pertolongan untuk memakai pakaian.Emfisemanya sangat jelas semasa dia
bertungkus lumus untuk bernafas.Dia berjalan dengan mengheretkan kakinya,badannya
bongkok dan kepalanya menjunam ke depan.Tangan-tangannya membengkak dan jarijarinya
menggenggam.Dia kelihatan seperti seorang yang amat tua,dan tersangat letih”.
“Sebelum waktu makan,dia berjalan ke arah piano,iaitu salah satu alat muzik yang
Casals cekap bermain.Dengan bersusah payah dia membetul-betulkan dirinya di atas
kerusi piano.Dia nampaknya bersusah-payah berusaha untuk membawa jari-jarinya
yang bengkak lagi tergenggam itu ke papan tanda.”
Kemudian sesuatu yang menakjubkan berlaku.Casals dengan tiba-tiba betul-betul dapat
mengubah dirinya di depan mata Cousins.Dia telah masuk ke dalam keadaan yang
pintar akal,dan semasa dia melakukannya,fisiologinya berubah ke tahap di mana dia
mula bergerak dan bermain,menunjukkan di kedua-dua badan dan piano hasil yang
sepatutnya hanya berlaku pada seorang pemain piano yang sihat,kuat dan
fleksibel.Seperti yang dinyatakan oleh Cousins,
“Jari-jarinya terbuka dengan perlahan-lahan dan mencapai ke arah mata piano seperti
tunas-tunas pokok bergerak ke arah cahaya matahari.Belakangnya ditegakkan.Dia
nampaknya bernafas dengan lebih mudah”.
“Tubuh badannya tidak lagi kaku dan susut tetapi lemah lembut dan benar-benar bebas
daripada lingkaran hidup atritisnya.Apabila dia meninggalkan piano,dia kelihatan benar-benar berubah daripada orang yang mula-mula duduk bermain.Dia berdiri dengan lebih tegak dan lebih tinggi;dia berjalan tanpa ada tandatanda mengheretkan kakinya.Dia serta-merta berjalan ke meja sarapan pagi,makan bersungguh-sungguh,dan kemudian keluar berjalan-jalan di
sepanjang pantai”.Alter selalunya tersembunyi dibelakang personaliti utama yang membayangi alter-alter
tadi.Tetapi apabila subjek berada dalam keadaan tertentu di mana personaliti utama
tidak mampu menanganinya,alter ini akan tiba-tiba muncul dan beraksi.Maka subjek
tadi akan berubah menjadi alter lain,berbeza dari alter utama(personaliti utama).Tidak
mustahil pula alter ini menggantikan pula alter sebelumnya sebagai personaliti utama
subjek tersebut. Alter inilah yang tersembunyi di dalam setiap orang Melayu yang kenal dirinya,asalusulnya
dan siapa dirinya yang sebenar. ‘Melayu’ adalah bangsa misteri yang
dimaksudkan,telah banyak berubah dari karakter asal mereka ketika berada di wilayah
Kanaan dan Sumeria (Mesopotamia) akibat perjalanan masa yang amat panjang selama
beribu-ribu tahun dahulu,serta perubahan akibat cuaca dan pengembaraan yang
merentasi beratus kilometer menuju ke arah timur untuk menuju ke arah ‘The Promised
Land’ seperti yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Ibrahim a.s.
Menurut kajian geneologi setakat ini,Nabi Ibrahim (Abram,Abraham) mempunyai tiga
orang isteri,iaitu Sarah,Hajar dan yang terakhir Keturah.Sarah telah melahirkan Ishak
(Isaac) manakala Hajar (Hagar) pula melahirkan Ismail (Ishmael).Keturah pula
melahirkan enam orang anak iaitu Zimran,Jokshan,Medan,Midian,Ishbak dan
Shuah.Nabi Ishak menurunkan bangsa Yahudi manakala Nabi Ismail menurunkan
bangsa Arab.Kebanyakan teks-teks Judeo-Kristian mahupun Islam banyak menceritakan
riwayat kedua-dua orang isteri Nabi Ibrahim ini tetapi lain pula dengan Keturah,isteri
bongsu Nabi Ibrahim.Sarah,iaitu mempunyai pertalian keluarga dengan Nabi Ibrahim
diketahui jelas berasal dari Tanah Kanaan iaitu tempat Nabi Ibrahim tinggal,manakala
Hajar pula berasal dari keluarga diraja FiraunMesir.Namun majoriti teks-teks Yahudi
dan Kristian mendefinisikan Keturah sebagai ‘unknown nationality’.
Persoalannya, “Siapakah Keturah ini?”
Dari mana dia berasal?.Telah ditakdirkan dari perut Keturah ini lahirlah bangsa-bangsa
agung penakluk seperti Chaldea,Media dan Parsi yang mewarisi bangsa
Sumeria,Akkadia,Assyria,Babylon dan lainnya dari kalanganMelayu cucu cicit Nabi
Nuh dari jurai keturunan Heth bin Kanaan bin Ham bin Nuh a.s di mana di dalam teks
Yahudi Kuno mengatakan kelak akan lahir bangsa-bangsa penakluk yang menjadi
musuh orang Israel dari saudara mereka sebelah Keturah.
Selama beribu-ribu tahun bangsa Yahudi diperangi,dibuli dan dikacau oleh bangsabangsa
ganas dan kejam yang teramat gagah ini sehingga dibayangkan di dalam hikayathikayat
mereka sebagai ‘raksasa’,'orang gasar(barbarian)’,'kaum yang ganas’ dan
sebagainya.Jika kita lihat kisah NabiMusa yang ingin kaumnya memasuki Tanah
Palestin,di mana kaum Yahudi berkeras tidak mahu memasukinya kerana terdapat
‘kaum yang ganas’ di dalam Palestin dan sanggup mengeluarkan kata-kata,
“Biarlah engkau saja yang pergi berperang dengan mereka bersama Allah,dan kami
menunggu di sini” (Kisah NabiMusa)
Perlu diingat,akibat trauma dengan sejarah pedih bangsa mereka yang dibuli oleh
saudara mereka yang ramai dari sebelah ibu tiri mereka Keturah,rabbi-rabbi Yahudi
telah membeza-bezakan taraf isteri-isteri nabi Ibrahim di mana hanya Sarah saja disebut
sebagai isteri (wife) manakala Hajar dan Keturah disebut gundik (concubine).Kita boleh
lihat di dalam Perjanjian Lama (Taurat) dan Perjanjian Baru (Injil),di mana mereka
telah mengubah tafsiran isteri-isteri nabi Ibrahim.Sesungguhnya Nabi Ibrahim selaku
Rasul Allah yang teramat alim dan warak tidak pernah membeza-bezakan
isterinya,meskipun di dalam peristiwa menghantar Siti Hajar dan anaknya Ismail ke
lembah gersang diMekah.Betapa pilu dan hancur hatinya melihat isterinya dan anaknya
yang masih kecil terdampar di tengah padang pasir yang panas.Namun perintah Tuhan
tetap dilaksanakan mengingatkan tanah yang dipijak Ismail ketika itu adalah Rumah
Tuhan yang akan dibangunkannya bersama anaknya Ismail kelak.Adakah hanya Siti
Khadijah sahaja sebagai isteri NabiMuhammad s.a.w manakala isteri-isterinya yang
lain hanya layak disebut gundik?TIDAK SAMA SEKALI.Walhal pada asalnya Siti
Sarah adalah wanita yang mandul,sebelum Allah s.w.t mengurniakan Nabi Ishak
kepadanya pada saat umur yang terlampau tua.Sebab itulah Siti Sarah berkeras mengahwinkan Siti Hajar (yang disangka hamba
perempuan Firaun) dengan suaminya bagi meneruskan keturunan.Bukan sahaja disebut
gundik,malah perasaan rasis mereka terhadap keturunan Keturah meleret-leret dengan
mengheret keturunan Siti Hajar bersama-sama.Siti Hajar dikatakan hamba Firaun
manakala sumber lain pula menyatakan ‘gundik Firaun’.Padahal Siti Hajar adalah
PUTERI FIRAUN yang diserahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menebus rasa bersalah
Firaun ketika itu yang ingin memperkosa Siti Sarah semasa Nabi Ibrahim dan Siti Sarah
di dalam tahanannya .Dengan kuasa Allah setiap kali Firaun datang untuk memperkosa
Siti Sarah,perbuatannya terhalang secara aneh berkat doa Nabi Ibrahim.
Dari situ barulah Firaun sedar bahawa Nabi Ibrahim bukanlah sebarangan orang dan
mungkin berasal dari orang suci yang harus dihormati.Akibat rasa bersalah yang teramat
sangat,maka bukan sahaja Firaun membebaskan kedua-duanya malah membekalkan
mereka dengan seorang perempuan muda yang bertutup wajahnya sebagai ‘kifarat’ dan
hadiah kepada Nabi Ibrahim.Rahsia perempuan muda itu terbongkar ketika perjalanan
pulang di mana Nabi Ibrahim membuka tutup kepala perempuan itu sambil bertanyakan
asal-usulnya yang pada awalnya disangka seorang hamba yang dihadiahkan kepada
mereka.Alangkah terkejutnya Nabi Ibrahim dan Siti Sarah bila mendengar pengakuan
dari perempuan itu bahawa dia adalah anak perempuan Firaun bertaraf puteri diraja.
Tersentuh hati Nabi Ibrahim sambil mengucapkan kesyukuran kepada Allah s.w.t yang
sememangnya berkehendak menjaga keturunannya sebaik-baiknya.Jadi keturunan Nabi
Ismail yang turun kepada NabiMuhammad s.a.w adalah berketurunan diraja dari
empayar agung Firaun yang pengaruhnya melewati Anatolia dan Kanaan ketika itu
(Firaun ini berbeza langsung dengan Firaun di zaman NabiMusa kerana Firaun ini
hidup lebih lama dari Ramses II kerana sezaman dengan Nabi Ibrahim).
Perlu dingatkan bahawa semasa zaman Nabi Ibrahim tidak ada bangsa yang disebut
sebagai Yahudi.Dan sesungguhnya Nabi Ibrahim bukanlah seorang Yahudi.Nabi
Ibrahim adalah berasal dari satu kaum purba yang sezaman dengan bangsa Hittites yang
telah pupus dan bangsa misteri diMesir (Firaun tadi) yang mungkin mewariskan rahsia
Piramid dan teknologi canggih zaman itu kepada bangsa Qibti yang menjadi pemerintah
selepas itu termasuklah Ramses II di zaman NabiMusa,dalam Alquran ada disebut: “Wahai ahli-ahli Kitab!Mengapa kamu berani bertengkar mengenai agama Ibrahim,
pada hal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan kemudian daripada zaman
Ibrahim; patutkah kamu berdegil sehingga kamu tidak mahu menggunakan
akal?….Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi dan bukanlah juga
baginda seorang Kristian”.
(Ali Imran: 65 - 68)
Bangsa Yahudi diturunkan dari jurai keturunan Nabi Ishak di mana anaknya Yaakub
telah digelar sebagai isra’ yang bermaksud suka berjalan malam akibat dari kegemaran
Nabi Yaakub yang berjalan malam.Dari Nabi Yaakub ini turunlah anak-anaknya
termasuk Levi,Yusuf,Bunyamin dan Yahudza.Di sini kita dapat mengesan perkataan
yang memaparkan karakter Yahudi seperti Levi dan Yahudza.Bunyamin (Benjamin)
pula adalah adik kesayangan Nabi Yusuf,yang kembali bertemu dengan Nabi Yusuf
setelah sekian lama terpisah ketika Nabi Yusuf pada waktu itu menjawat jawatan tinggi
dalam kerajaan Raja Mesir (dalam hal ini pemerintah Mesir pada waktu itu digelar al-
Aziz bermaksud raja).
Pada waktu itu bangsa Yahudi masih menjadi bangsa belasahan dan di bawah
pemerintahan bangsa purba lain sehinggalah menjadi semakin kuat dan berjaya
menubuhkan kerajaan sendiri sepertimana di era Nabi Sulaiman dan Nabi Daud.Dalam
pada itu keturunan dari saudara -saudara mereka yang enam orang tadi dari sebelah
Keturah telah membina kekuatan yang amat dasyat,pada masa yang sama mereka telah
mula maju sedikit demi sedikit lebih pantas dari bangsa Yahudi,mencipta pelbagai ilmu
sains dan teknologi yang canggih,membina negarakota-negarakota yang bertembok
tinggi dan tebal,membina organisasi-organisasi moden yang sistematik serta menyusun
balatentera yang gagah dan teknik peperangan yang maju.
Perlu dingat ketika ini dunia di sebelah lain seperti di Tanah Besar Cina dan Benua
Kecil India masih mundur dan kurang berpenghuni.Adakalanya kaum-kaum dari
sebelah Barat ini,(di mana pusat ketamadunan manusia purba bermula dari sini di
sekitar Mesopotamia) telah mengembara ke India dan China untuk menangkap kaum
asli yang masih bercawat di dalam hutan untuk dijadikan hamba atau buruh kasar
membina tembok-tembok dan kota (peristiwa ini dapat dihayati jika kita menonton filem
Apocalypse arahan Mel Gibson atau 1000000 B.C).Pada masa yang sama bangsa
Yahudi masih ditakuk lama,hidup bermalas-malasan sambil mengharap belas ihsan
bangsa-bangsa yang lebih gagah dari mereka.Sehinggalah mereka bertembung kembali dengan bangsa-bangsa keturunan Keturah sepertiMedia (Madyan) dan Babilon (Babil) serta Chaldea (Kaldan) yang mula merampas tanah-tanah mereka dan mula mengganas memusnahkan kediaman mereka.Bangsa Yahudi menjadi bangsa hamba dibawah pemerintahan bangsa-bangsa hebat yang menjajah mereka berkurun lamanya secara bersilih ganti.Bangsa ini pernah dibawa beramai-ramai ke kota Babilon untuk dijadikan hamba,pencacai,buruh kasar,kuli dan orang gaji dibawah kekuasaan Emperor Nebuchadnezzar (Buktanassar) dalam keadaan hina dengan dirantai kaki dan tangan mereka.Pada masa ini semua suhuf-suhuf dan Taurat telah dibakar oleh pemerintah dan hanya segelintir dari mereka berjaya menyimpan dan menghafal isi kitab itu secara sembunyi-sembunyi. Diwaktu pemerintahan Babilon inilah bangsa Yahudi telah banyak tersesat jauh dengan mengamalkan sihir dan penyembahan syaitan akibat kekurangan ajaran agama dan tekanan hidup yang tinggi.Mereka mula mengabdikan diri kepada amalan spiritual yang pelik-pelik dengan harapan syaitan akan membantu mereka melepaskan mereka dari penderitaan di bawah penjajahan bangsa Babilon.Disinilah bermulanya amalan ‘Babilonian Magic’ yang menjadi asas Sihir Gematria,Necronomicon,Kultus Pentagram,Ramalan Tarot dan Persaudaraan Ular Iblis menyebabkan terjadinya insiden Harut danMarut seperti yang dikisahkan dalam AlQuran. Kegilaan bangsa Yahudi ini dalam mempelajari sihir telah menjauhkan mereka dari hidayah Tuhan dan menyebabkan ramai nabi diutus kepada mereka bagi membetulkan akhlak mereka.Bangsa Yahudi adalah bangsa spiritual.Mereka peka kepada perkara-perkara bersifat ghaib dan misteri.Mereka percaya kepada makhluk halus dan kuasa
sakti.Mereka gemar mempelajari sisi spiritual dari bangsa-bangsa gagah yang menjajah
mereka silih berganti. Berbalik kepada wanita misteri yang menjadi isteri ketiga Nabi Ibrahim,tidak banyak
diketahui tentang kehidupannya malah berasal dari kawasan mana ataupun dari jurai
keturunan mana walaupun sudah pasti berasal dari kelompok pengikut Nabi Nuh
mahupun mungkin terus berasal dari kaum kerabat Nabi Nuh sendiri.Sumber-sumber
kuno Yahudi juga masih samar-samar dalam membicarakan asal-usul Keturah,si wanita
misteri ini.Tetapi jika disusur dari kehidupan Nabi Ibrahim sebagai ‘patriarch’ (gelaran
yang diberikan kepada lelaki yang menjadi ketua keluarga yang sekaligus sebagai
pemimpin atau raja bagi kaum kerabatnya yang terhormat dan besar) memungkinkan
baginda hanya berkahwin dengan suku terhormat sahaja.Tambahan pula Keturah telah
melahirkan anak-anaknya yang gagah-gagah dan hebat.
*Keturah di khemah sebelah kanan bersamasama
6 anaknya.Diambil dari teks Yahudi kuno.
Keturah bermaksud kemenyan atau pun wangi-wangian yang kadangkala digunakan
dalam upacara ritual.Dari sini kita dapat menyelusuri susurgalur bangsa Melayu sebagai
bangsa spiritual.Tidak diketahui siapakah ibu bapa Keturah.Tetapi terdapat sumber yang
mengatakan kemungkinan Keturah berasal dari kaum kerabat raja agung Sargon yang
memerintah Akkadia (namun begitu teori yang paling meyakinkan setakat ini ialah
Keturah berasal dari Timur Jauh;tempat di mana keturunan nabi Ibrahim diarahkan
menyebar selepas itu).Jika demikian maka sahlah bangsa misteri ini sememangnya
berasal dari keturunan raja-raja agung sepertimana Arab Quraisy yang berketurunan dari
Raja Mesir dari bangsa misteri yang memerintah Sungai Nil ketika itu.Sesungguhnya
Piramid Agung bukanlah dibina ketika pemerintahan Firaun Khufu (Cheops) tetapi
telah dibina berkurun sebelumnya oleh kerajaan-kerajaan silam yang lepas.Firaun-firaun
Mesir hanyalah membaikpulih sahaja piramid-piramid ini yang diwarisi mereka.Hakikat ini lama-kelamaan disedari oleh ramai pengkaji tetapi terlampau lama untuk dapat
dipercayai oleh masyarakat dunia.
Anda boleh tonton filem 1000000 B.C dimana terdapat kaum yang membina Piramid
ditengah-tengah padang pasir untuk mendapatkan gambaran tentang hal ini.Arkiteknya
dalam menentukan lokasi piramid terpaksa melihat jarak bintang dilangit dan koordinasi
buruj-buruj dimana pada masa yang sama dia juga adalah ahli astronomi dan ahli nujum
Istana.Kedudukan ketiga-tiga piramid termasuk Piramid Agung Giza adalah bertepatan
dengan kedudukan buruj Orion di langit,dan mengarah tepat ke arah kiblat.Ini antara
misteri paling terbesar dalam sejarah kemanusiaan.Siapakah bangsa agung yang mulamula
merencanakan pembinaan Piramid?
Sesungguhnya PiramidMesir adalah penunjuk kiblat paling besar yang terdapat dibumi
di mana Allah Yang Maha Agung telah menciptakan bintang-bintang Orion sebagai
tanda kiblat dilangit.Piramid Mesir adalah penunjuk arah ke Baitullah di bumi manakala
bintang Orion adalah penunjuk arah ke Baitul Makmur di langit.Maha Suci Allah yang
menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia.Bangsa misteri yang membina piramid terawal
sudah tentu sebuah bangsa yang teramat bijak dan genius dan di zaman itu kemajuan
material adalah setanding malah lebih maju dari apa yang kita dapati hari ini.Tidak
percaya?.Cuba anda bayangkan kehidupan manusia sebelum Banjir Besar di zaman
Nabi Nuh.Bayangkan kehidupan mereka adalah teramat canggih dengan kereta-kereta
mewah dan kotaraya-kotaraya bercahaya serta pesawat-pesawat terbang seperti UFO
yang bersimpang siur di udara.
Setiap rumah ada sistem komputer yang canggih dan kemudahan internet kelajuan
tinggi.Tetapi adakah semua itu berguna setelah banjir besar melanda seluruh
dunia.TIDAK…TIDAK SAMA SEKALI.Nabi Nuh terpaksa memuatkan kapalnya
dengan manusia,haiwan-haiwan yang
berpasangan serta spesis-spesis tumbuh-tumbuhan
yang terpilih.Di sini kita dapat mengetahui
bahawa profesion Nabi Nuh bukan sahaja seorang
pengembang agama tetapi juga pakar sains zoologi
yang handal
Nabi Nuh boleh membina kapal yang teramat
besar hanya berbekal pengikut yang tidak sampai
100 orang?FIKIRKAN.100 orang itupun ada yang wanita dan kanak-kanak jadi jumlah pekerja untuk membina bahtera nabi Nuh
teramatlah sedikit.Malahan pula para pengikut nabi Nuh terdiri dari orang miskin yang
lemah dan melarat sahaja.Nabi Nuh juga membina kapalnya dalam jangka masa yang
terhad (sesetengah pendapat mengatakan dalam beberapa minggu sahaja).Misteri ini
benar-benar memeningkan pengkaji malah ada pengkaji Barat mengatakan Bahtera Nabi
Nuh dibina oleh makhluk asing.
Sebenarnya kita tidak akan hairan dengan kemampuan Nabi Nuh ketika itu jika kita
membayangkan kemajuan manusia sebelum Banjir Besar adalah seperti kemajuan pada
masa kini sekurang-kurangnya.Kita boleh membayangkan yang Nabi Nuh membina
bahtera di dalam hangar kapal yang besar berserta peralatan dan mesin-mesin yang
canggih dibantu sistem perkomputeran yang termaju.Masih tidak percaya?.Kalau kita lihat kronologi kemajuan manusia pun kita dapat
melihat logik atau tidak kenyataan ini.Biar kita ambil jangkamasa dari lahirnya Nabi Isa
mengikut kalendar Masehi iaitu 1 Masehi hingga 2009Masehi.Bagaimana kehidupan
manusia di zaman Nabi Isa hidup.Bagaimana kemajuan manusia selepas 2000 tahun
selepas kelahiran Nabi Isa?Berapakah jangkamasa Adam manusia pertama sehingga
peristiwa Banjir Besar di zaman Nabi Nuh.Katakanlah lebih kurang 2000 tahun (ini
anggaran yang amat minimum memandangkan jangkamasa dari manusia pertama turun
ke Bumi sehingga Banjir Besar boleh memakan masa beribu-ribu tahun),maka logiklah
kemajuan manusia mencapai tahap terhebat dan maju ketika Banjir Besar. Maka jika berfikir seperti ini,kita tidak akan terkejut dengan kisah-kisah seperti Atlantis
dan Lemuria serta Kerajaan Rama yang mempunyai pesawat-pesawat terbang seperti
UFO.Peperangan pun melibatkan kuasa nuklear seperti kesan-kesan yang ditemui di
Mohenjo-Daro dan Harappa.TETAPI ADAKAH SEMUA KEMAJUAN ITU
BERGUNA APABILA TIBA BALA BENCANA?Semua kemajuan itu habis tenggelam
bersama-sama orang musyrik yang mengingkari perintah Allah s.w.t setelah hanyut
dalam arus kemajuan material dan kecanggihan teknologi yang mengkhayalkan.
Manusia ketika itu semakin rakus dengan kebendaan dan berbuat maksiat secara terangterangan.
Tidak hairan jika terdapat parti bogel di sana-sini.Pesta-pesta mandi buih
acapkali diadakan di festival-festival besar.Konsert-konsert muzik yang mengkhayalkan
seringkali diakhiri dengan pesta seks yang menghairahkan dihadapan sembahansembahan
berhala yang mereka pertuhankan.Dakwah Nabi Nuh dikesampingkan
walaupun sering keluar di media-media antarabangsa.
Mungkin anda berasa lucu dengan senario yang dipaparkan di sini.Ini kerana anda
memikirkan Nabi Nuh hidup seperti orang gua,bercucuk tanam dan mengembala
kambing sahaja.TIDAK SAMA SEKALI.Lihatlah lukisan-lukisan misteri di dinding
kuil-kuil Firaun yang menceritakan satu mitos purba tentang penghasilan tenaga elektrik
siap dengan lukisan kabel bawah tanah dan filemen elektrik.
Penemuan bateri purba di Iraq dan cakera padat purba Dropa (sehingga kini tidak
diketahui sama ada ia berbentuk CD,CD-RW,DVD,DVD-RWatau sebagainya) di
China.Dan yang paling menggemparkan adalah penemuan loji nuklear berusia lebih 2
juta tahun di Afrika!Apa maksud semua ini?Berapa umur Bumi sebenarnya?Berapa
umur umat manusia sebenarnya?.Kita tidak boleh menganggarkannya berdasarkan
kajian Barat yang dipengaruhi oleh The Hidden Hand seperti Illuminati dan
Freemason.Mereka ada sebab untuk mengelirukan manusia.Segala kenyataan
sebenarnya amat jauh dari apa yang kita dapat bayangkan.
Maka setelah Banjir Besar,para pengikut Nabi Nuh pun bertebaranlah di muka bumi
sehelai sepinggang setelah meninggalkan kehidupan moden dan canggih mereka ditelan
banjir.Mereka kembali menjadi orang gua dan mula berburu,bercucuk tanam dan
mengail ikan.Di waktu-waktu malam mungkin mereka berkumpul di tepi unggun api
sambil mendengar cerita orang-orang tua dikalangan mereka tentang kehidupan moden
dan canggih mereka suatu ketika dahulu seperti menaiki bas dan komuter (kebanyakan
pengikut Nabi Nuh adalah miskin) dan ada juga yang pernah menaiki kereta.

Out of Asia: Indian Amerika adalah Keturuan Bangsa Austronesia (Nusantara).


Review ilmiah dan artikel berita tentang pengujian dna dan genetika populer
http://dnaconsultants.com/_blog/DNA_Consultants_Blog/post/Out_of_Asia/

Out of Asia

Jumat, September 7, 2012
“Semua lampu di Rumah para imam besar Antropologi Amerika berada di luar, semua pintu dan jendelanya tertutup rapat (mereka tidak tidur dengan jendela terbuka karena takut ide baru mereka mungkin bisa terbang), kami telah membuyikan lonceng Nalar Akal , kami telah menggedor pintu mereka dengan Logika, kami telah melempar kerikil Bukti terhadap jendela mereka, tetapi satu-satunya tanda kehidupan di rumah mereka suara mendengkur dari Dogma mereka. Kami sangat takut bahwa tidak ada dari mereka yang akan turun dan membiarkan kami masuk ke dalamnya ke dalamnya, ruang pengap hangat di mana ide-ide lama yang terhormat dipaku ke dinding. “

Kata-kata yang menggigit ditulis oleh Harold Sterling Gladwin dalam bukunya yang berjudul “Men out of Asia”, arkeolog terkenal yang paling populer , pekerjaannon-teknis . Diterbitkan pada tahun 1947, buku Gladwin yang menyajikan pandangan maverick tentang penempatan penduduk dari Amerika mengidentifikasi lima migrasi dari ras yang beragam termasuk Negrittoes dan Austronesia ke Dunia Baru. Secara bid’ah, ia menempatkan migrasi pertama sedini 25.000 tahun yang lalu dan berpendapat bahwa koloni paling awal Benua Amerika adalah Australoid.
Reaksi dari rekan-rekannya dalam kemapaman ilmu antropologi adalah diam membatu, dengan menyembunyikan kebanggaannya yang terluka, ilustrasi untuk “Men out of Asia” -nya Gladwin dengan membuat gambar kartun kampungan oleh Campbell Grant yang mengolok-olok para penjaga suci ilmu pengetahuan di Museum Peabody di Harvard, Carnegie Foundation dan Smithsonian Institution.
Dalam satu kartun , dekan arkeologi Southwest dan Maya: Alfred V. Kidder digambarkan sebagai Dr Phuddy Duddy yang duduk dengan jubah akademik di atas peluit membunyikan alarm dari kronologi tidak logis. Di lain gambar , seorang temannya Gladwin yang berkacamata dan tweedy Profesor Hooton Earnest dari Harvard diperlihatkan sebagai anjing akademis di rumah ”by request.”
Kaum mapan ini masih tidak nyaman tentang Gladwin, yang meninggal pada tahun 1983 setelah karirnya dibedakan lebih dari 60 tahun. Meskipun mereka masih bersedia untuk memuji kerja lapangan penelitiannya tentang Hohokam di Snaketown dan menuntut dikembangkan metodologi di pusat penelitian yang didirikan di luar Pueblo Gila Globe, Arizona, mereka tidak tahu apa yang harus kukatakan tentang kesimpulan dan hipotesis, yang tumbuh lebih bersikeras terhadap tujuan.
Malaikat penghancur teori ortodoks, Stephen Williams dari Museum Peabody, hanya dapat berpikir bahwa Gladwin menyerah “Whimsies” nya dan tumbuh soft-berkepala di usia tuanya. “Saya selalu menganggap Men Out of Asia,” tulis Williams dalam Arkeologi Fantastic (hal. 229), “sebagai semacam spoof ‘hiper-diffusionist’.”
Kami bertanya-tanya apakah laddies di Taman Harvard dan Kastil di Mall tidak terlalu banyak protes.
Dalam tinggi kencang sejenis berkik, Williams menolak penulis Ink Pale dengan diskusi atas catatan kuno dari eksplorasi Cina di Amerika sebagai “seorang wanita tua yang manis (hal. 185).” Louis Leakey, yang percaya atas dasar penggalian Man Calico Awal ia diselenggarakan di California bahwa manusia menduduki Amerika Utara sejak tahun 400.000 tahun, datang untuk pengobatan seperti. Williams menyiratkan bahwa Leakey adalah pikun dan bergegas dalam penilaiannya (hal. 303).
Jika penafsiran kontroversial catatan arkeologi tidak dapat debunked sebagai kurang “kebenaran tanah” atau verities susah payah dari penggalian dan dengan demikian menjadi apa-apa selain “arkeologi kursi,” maka kita harus resor untuk perangkat waktu-dihormati dari Liga Ivy mencibir. Misalnya, kontroversial Jeffrey Goodman Amerika Kejadian “meniru sebuah buku ilmiah yang sangat baik” (hal. 303), tetapi tidak mungkin dianggap serius karena, yah, Anda tahu, tidak ada orang waras berlangganan ke Amerika Utara atau asal Asia bagi manusia! Selain berasal dari latar belakang, bersahaja Barat unpatrician, Goodman juga bagian Native American, yang membantu membuatnya paria.
Tetapi untuk Phuddy duddys gembira picik Dr, kita katakan dalam kata-kata Blake:
Mengejek pada, Mock pada, Voltaire, Rousseau;
Mengejek pada, Mock on, ’tis semua sia-sia.
Anda melemparkan pasir melawan angin,
Dan angin bertiup kembali lagi.
Angin perubahan mungkin memiliki tertawa terakhir.
“All the lights in the House of the High Priests of American Anthropology are out; all the doors and windows are shut and securely fastened (they do not sleep with their windows open for fear that a new idea might fly in); we have rung the bell of Reason, we have banged on the door with Logic, we have thrown the gravel of Evidence against their windows; but the only sign of life in the house is an occasional snore of Dogma. We are very much afraid that no one is going to come down and let us into the warm, musty halls where the venerable old ideas are nailed to the walls.”
These biting words were penned by Harold Sterling Gladwin in Men out of Asia, the famous archeologist’s most popular, non-technical work. Published in 1947, Gladwin’s book presented a maverick view of the peopling of the Americas identifying five migrations of diverse races including Negrittoes and Austronesians to the New World. Heretically, he placed the first migration as early as 25,000 years ago and argued that the earliest colonists were Australoid.
The reaction of his colleagues in the anthropological establishment was stony silence shading off into hrumps and pshaws of injured pride, for Gladwin illustrated Men out of Asia with campy cartoons by Campbell Grant making fun of the sacred keepers of knowledge at the Peabody Museum at Harvard, Carnegie Foundation and Smithsonian Institution. In one, the dean of Southwest and Maya archeology Alfred V. Kidder is depicted as Dr. Phuddy Duddy sitting in academic robes atop a whistle sounding the alarm of illogical chronology. In another, a bespectacled Gladwin and his tweedy friend Professor Earnest Hooton of Harvard are shown in the academic doghouse “by request.”
The Establishment is still uncomfortable about Gladwin, who died in 1983 after a distinguished career of more than 60 years. Although willing to praise his meticulous fieldwork on the Hohokam at Snaketown and exacting methodologies developed at the research center he founded at Gila Pueblo outside Globe, Arizona, they do not know quite what to say about his conclusions and hypotheses, which grew more adamant toward the end.
The destroying angel of unorthodox theories, Stephen Williams of the Peabody Museum, can only think that Gladwin succumbed to his “whimsies” and grew soft-headed in his old age. “I have always regarded Men Out of Asia,” Williams writes inFantastic Archeology (p. 229), “as a sort of ‘hyper-diffusionist’ spoof.”
We wonder whether the laddies in Harvard Yard and Castle on the Mall do not protest too much.
In a similar high-toned snipe, Williams dismisses the author of Pale Ink with its discussions of ancient records of Chinese explorations in America as “a sweet old lady (p. 185).” Louis Leakey, who believed on the basis of the Calico Early Man excavations he organized in California that humans occupied North America as long ago as 400,000 years, comes in for like treatment. Williams implies that Leakey was senile and hurried in his judgment (p. 303).
If a controversial interpretation of the archeological record cannot be debunked as lacking “soil truth” or the hard-won verities of the dig and thus being nothing but “armchair archeology,” then one must resort to that time-honored device of the Ivy League sneer. For instance, Jeffrey Goodman’s controversial American Genesis ”mimics a scientific book very well” (p. 303), but it cannot possibly be taken seriously because, well, you know, no person in his right mind subscribes to a North American or Asian origin for humans! In addition to coming from a homely, unpatrician Western background, Goodman was also part Native American, which helped make him a pariah.
But to the happily hidebound Dr. Phuddy Duddys, we say in the words of Blake:
Mock on, Mock on, Voltaire, Rousseau;
Mock on, Mock on, ’tis all in vain.
You throw the sand against the wind,
And the wind blows it back again.
The winds of change may have the last laugh.

Ditemukan, Struktur Batu Berbentuk Rusa Raksasa


Motif raksasa dari batu ini membentang sepanjang 275 meter. Mulai dari titik terjauhnya di arah barat laut hingga tenggara.

zjuratkul,ural,rusia,geoglyphGeoglyph berbentuk rusa di atas tanah Rusia, terlihat dalam garis putih tipis, terletak di dekat Danau Zjuratkul, di Pegunungan Ural (Google Earth)
Seorang pria bernama Alexander Shestakov secara tidak sengaja menemukan motif raksasa yang terbuat dari batu (geoglyph) berbentuk rusa di atas tanah Rusia. Penemuan ini kemudian diteruskan ke para ilmuwan yang akhirnya berujung pada ekskavasi yang dipimpin Stanislav Grigoriev dari Russian Academy of Sciences Institute of History & Archaeology.
Motif raksasa ini berlokasi di dekat Danau Zjuratkul, di Pegunungan Ural, utara Kazakhstan. Bentuknya mirip rusa dengan moncong, empat kaki, dan dua tanduk. Bahkan imaji satelit dari Google Earth di tahun 2007 menunjukkan adanya ekor. Namun, bentuk ini semakin tidak jelas di foto-foto terakhir.
Tanpa menghitung adanya ekor, motif raksasa dari batu ini membentang sepanjang 275 meter. Mulai dari titik terjauhnya di arah barat laut hingga tenggara. Bentangan ini sama dengan dua kali luas lapangan American football. Motif ini menghadap ke utara dan bisa terlihat dari punggungan bukit terdekat.
"Motif ini terlihat berwarna putih dan sedikit bersinar jika dibandingkan dengan latar belakang rerumputan hijau," tulis Grigoriev dan Nikolai Menshenin, dari State Centre for Monument Protection, dalam jurnal Antiquity seperti dilansir Kamis (11/10).
Penelitian mengindikasikan jika geoglyph ini adalah produk dari kebudayaan megalitik. Selain itu, tim yang dipimpin Grigoriev menemukan bahwa motif tersebut sangatlah rumit.
Namun, tidak dilakukan ekskavasi lebih ke bagian dalam geoglyph ini karena ditakutkan akan merusak motif tersebut. Ditambahkan pula jika geoglyph ini juga bukan yang pertama di wilayah Ural, karena ditemukan pula ratusan situs megalitik lainnya di lokasi yang berdekatan.

Pyramidal Structures Worldwide


Pyramidal Structures Near Western Cuba Pyramids under the waters of Cuba were discovered by two scientists Paul Weinzweig and Pauline Zalitzki. They found the ruins of ancient buildings for about a mile below the sea and considered them to be Atlantis.

Paulina found elsewhere in Cuba ancient descriptions and symbols that was identical to those on the waterfront structures below.
The two scientists used submarines to found tremendous pyramid structures (that reminds one of Giza in Egypt), built of stones weighing hundreds of tons.

They found sphinxes, stones that arranged like Stonehenge, and a written language engraved on the stones.
Why it was not discovered before?

The U.S. government discovered the alleged place during the Cuban missile crisis in the sixties, Nuclear submarines cruising in the Gulf (in deep sea) met pyramid structures. They immediately shut down the site and took control of him and the objects,in order that it will not come to Russians hands.
A whistleblower from the army,that used to serve in Montego Bay said they are still working on the site and recover objects and instruments (including those who still work) since the 60′s.
This area in Cuba was above water 10,000 years ago…
The Morien Institute interviews Dr. Weinzweig and you can read this HERE
Additional links:
http://www.youtube.com/watch?v=klRbcEnLPbU
http://www.youtube.com/watch?v=hk6SWtumdK0&feature=related
source: http://www.utaot.com/2012/09/24/pyramid-structures-near-western-cuba/

The Pyramids of Faroe Islands

The pyramid shaped mountain is called Kirvi and the top of it is called Kirviskollur. You can also see the to top of Beinisvørð to the left in the photo. Beinisvørð is a 469 m high birdcliff. It is absolutely worth a visit.
Kirvi is a mountain in Suðuroy, near the village Lopra. Kirvi is 236 meter high. The mountain is visible from the villages Lopra and from Nes, which is between VĂ¡gur and Porkeri. The mountain is located in the municipality of Sumba.
source: http://www.utaot.com/2012/09/21/the-pyramids-in-faroe-islands/

Indonesia

The Gunung Padang Pyramid


Slowly but surely the mystery of the “pyramid” in Gunung Padang, Cianjur, West Java, is beginning to unravel. One by one, researchers claim to have found evidence that the pyramid-shaped mountain is man-made, and not a natural formation.
Radar imaging shows that the mountain hides enclaves of rock that resemble shrines. If this hypothesis is correct, then the building that has been forgotten for decades will allegedly defeat the discovery of the pyramids in Egypt.
Tempo Magazine in its edition dated August 27, 2012, tracked the mystery of the Gunung Padang site. The age of the “pyramid” is estimated at 4,700-10,900 BC. Compare this to the age of the Giza pyramids in Egypt, which is only 2,500 BC old. But the research is limited still. That is why geologists continue to be skeptical about the “pyramid” is. Too early to be announced.
Gunung Padang became the talk of the town the Ancient Catastrophic Team conducted a study on Cimandiri quake fault, about four miles to the north of the site. The team was formed by Special Staff of the President to the Social and Natural Disasters Assistance Andi Arief.
The controversy erupted after Andi announced early last year that there was some kind of a pyramid under Gunung Padang. “Whatever the name or shape, it’s clear there hollows thereunder,” said Andi. “At a glance, it doesn’t look like a mountain, more manmade.”
His suspicion started because the shape of the mountain was nearly like a triangle when viewed from the north. The team earlier also found a similar form on Gunung Sadahurip in Garut and on Bukit Dago Pakar in Bandung expert while researching the Lembang fault.
Andi Arief says the work of his team at Gunung Padang is almost finished. When it comes to excavation, however, he gave up because it will cost a huge amount. “That is Arkenas’ job,” he said.
http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2012/08/28/brk,20120828…
Posted by tatooke on September 12, 2012
GLR ANdReA's picture
By GLR ANdReA - Posted on 12 September 2012
http://soundofheart.org/galacticfreepress/content/gunung-padang-pyramid-mystery

Java, Indonesia

Candi Sukuh

Not a lot is known about this site, except that it has the only pyramidal temple in Southeast Asia, and dates to 1416 – 1459 AD. As well as bearing an uncanny resemblance to Central American pyramids, there is also a twin-headed serpent, as discussed in Chapter XX.

China

Xian was for a long time the capital of Ancient China. It has become a popular tourist destination for Westerners since the discovery of the “Terracotta Warriors”. The evidence of local pyramids is scant, due to the Chinese Government and its ‘forbidden zones’ surrounding the city of Xian in the Shensi Province. These zones are off-limits to foreigners, probably due to military and/or space program bases in the area. Within these zones there are possibly 100 pyramids, and some adventurers have managed to photograph a few them:
The black and white photo was taken by James Gaussman, an American pilot, at the end of WW II (the others are by Mr Hausdorf).
These are not stone pyramids, nor earth mounds, but a combination of the two – made of earth and clay, shaped like pyramids with flattened tops (the same technique as Teotiuhuacan). It is rumoured that in recent times the Chinese Government ordered the planting of trees on the pyramids as a way of disguising them as regular hills, or at least their making their shape harder to discern. New Zealand author Bruce Cathie sought information on their exact locations, so he could fit them into his Harmonic Grid. After initially denying their existence outright, the Chinese officials eventually conceded that there are some “trapezoidal tombs” [i] .
According to Hartwig Hausdorf [ii] , they differ in size from between 25 to 100 metres in height, with the exception of one, the Great White Pyramid. It is situated to the north, in the valley of Qin Lin, and is possibly the world’s largest pyramid, with an approximate height of 300 metres (twice the size of Egypt’s largest).
Update! - In 2004 Chris Maier studied satellite images of the Xian region, found the same pyramids as Hausdorf, and then went there and took a look. Turns out that they are not in a “forbidden zone”, are quite well known, and any tourist can take a look, or even climb the biggest pyramid for free! Read his article
Update! - In 2002-2007, Emperor Qin Shihuang’s tomb (home of the terracotta warriors) was proven (using radar and other remote sensing technologies) to be more than a earth mound – underneath the dirt is a four-sided, nine-stepped pyramid, very similar to those in Central America. Read more at Channel 4, and China.org - the image below is the shape they believe the pyramid takes.

Russia – Brat & Sestra, nr Nakhodka

320 metres high each, they were until recently in a military zone. Today they are being mined (or could that be a cover for treasure hunting?) – which explains why the top has been removed from one of them. More at Flip Coppins site


Korea

Andong step pyramid, is the best one of pyramids survived being undestroyed in South Korea, is located at soktapri, andong, korea, in the northern valley of Mt. Hakka, 30 km road away from Andong. 13.2 meters by 12.7 meters square and about 4.5 meters high

Tahiti

When Captain Cook visited Tahiti, he described the Marae of Mahaiatea as having a stepped pyramid with a base of 259 by 85 feet. Unfortunately all that remains today is a pile of stones. This drawing comes from the 1799 book The Voyage of McDuff.

Western Samoa

On the island of Savai’i you can find Polynesia’s largest ancient structure, the Pulemelei Mound. The Lonely Planet guide for Samoa describes it:
This large pyramid measures 61 metres by 50 metres at the base and rises in two tiers to a height of more than 12 metres. It is almost squarely oriented with the compass directions.. Smaller mounds and platforms are found in four directions away from the main structure. There is a relatively large platform about 40 metres north of the main pyramid and connected to it by a stone walkway.
Unfortunately the jungle there is almost uncontrollable. The pyramid has been cleared on several occasions, but when I studied it in 1996 it was overgrown and difficult to locate. So much so, that it was only when I kicked a stone embedded in the top platform did I realise I had found it! The bottom right corner of the photo is the pyramid. UPDATE: Since 2002 the site has been cleared and studied by experts. New pictures and information.

Bosnian Pyramids
In the spring of 2006 five pyramids had been found in central Bosnia in the town Visoko. The biggest is the Pyramid of the Sun with height of 220 metres. Other pyramids are also huge. The Bosnian pyramids don’t look like the Egyptian pyramids. Scientists and researchers from Egypt, Austria, England, Russia, Croatia and other countries join to Archaeological Park: Bosnian Pyramids of the Sun Foundation to find the truth about builders and meanings of the mysterious pyramids in Bosnia and Herzegovina… >>>

The list of articles about the Bosnian Pyramids:
Impressions of the Bosnia Pyramids—From One American’s Point of View By Sharon Prince Wothke
Official website: http://www.bosnianpyramidofthesun.com
Italy
Montevecchia
located about 40 km northeast of Milan and about 15 km south of Lecco in Lombardy/Italy there is a small village with 3 pyramid shaped hills. These hills in Montevecchia were discovered in 2003 by the Italian architect Vincenzo DeGregorio.
Read more on European Pyramids
Three pyramidal hills near Florence

14 km south of Florence/Tuscany there are 3 hills near the city of PONTASSIEVE (meaning: bridge over the river Sieve). These hills rise approx.140 m high from elevation 130 m to 270 m. The orientation is N-S/E-W with their edges. They stand in the so-called Orion formation, which means the geometrical pattern is equal to the Belt Stars of Orion. No excavation has been conducted so far. But the area of Pontassieve is well known for its prehistoric finds. There has been a paleolithic settlement dated to 25000 BC.
Read more on European Pyramids
Greece
In Greece, there are now 16 catalogued pyramids. Though some may be natural, others—like the Hellinikon pyramid near the village of Argolis—are clearly man-made structures. Intriguingly, one thermo-luminescence test by the Academy of Athens has dated the structure to 2720 BC, contemporaneous with the Egyptian pyramid age. Though pyramidal in shape, the Greek structures do not enthral like the Egyptian pyramids, which dwarf them in size. Read more on European Pyramids
Pyramids of Tenerife island

There is a huge lava stone complex with 6 pyramids, partially reconstructed, in the town of GĂ¼imar on Tenerife. Discovered by Thor Heyerdahl in 1999 and turned into a museum with archaeological park.
Read more on European Pyramids
Slovenia
In Maribor, northern Slovenia close to the Austrian border, a hill named Piramida (elevation 386m, height from base to top appr.80m) overlooks the city and has once served as lookout post for the defence of the city. Two more hills, called Kalvarija and Mesti Vrh, of similar height and aligned with Piramida stand next to it. Read more on European Pyramids

Source: http://www.world-pyramids.com/world.html

Notes on China


Pyramids and pyramidal structures are a worldwide phenomena, found in Egypt, Peru, Central America, America’s Mississippi Valley, France, Polynesia. Now we can add two more locations, China and Japan.For decades, one of the few clues that China has pyramids was a grainy, black and white photo of a huge, shadowy, pyramidal form. It is an aerial shot, taken by WWII USAF pilot James Gaussman, as he flew over China delivering supplies from India to Chungking, in the spring of 1945. (See article below)Today, thanks to German researcher and author Hartwig Hausdorf, we have many more photos, plus videotape and his eyewitness report of at least a hundred pyramids in China’s Shensi Province. An e-mail message hooked me up with Hausdorf. By telephone and fax, we’ve been corresponding, and he was kind enough to send me two of his books in German. (Will someone please publish his books in English so I can read them?) My friend Jo Curran, fluent in German, read me selected portions of Satellites of the Gods for this article. Hausdorf’s other book is entitled The White Pyramid. Hausdorf will be a guest on The Laura Lee Show, the Saturday Night radio show I host, on August 2nd. Here’s what I can say thus far.
Hausdorf came by his invitation to Xian, China, and the Chinese pyramids, when he attended a lecture by Erich von Daniken. A personal friend who wrote the foreword to one of his books, von Daniken was the first to bring the ancient astronaut theory to worldwide prominence through a series of popular books. It was at this lecture that he met Chen Jianli. They talked about Hausdorf’s research dealing with mysterious artifacts in China, including pyramids. Mr. Chen was born in Xian, and so, despite the official party line, did not consider pyramids in China to be nonsense; as a young boy, he had heard people talk of them. Through his connections in the Chinese capitol, Mr. Chen obtained a special permit for Hausdorf to travel in Xian’s forbidden zones. Not once, but twice; in March and October of 1994.
The Chinese don’t like to talk about their pyramids. Hausdorf couldn’t help but notice that, in talking with high ranking archeologists at the Beijing Academy of Sciences about these pyramids, the reaction was one of panic. Only when shown the Gaussman photo would they reluctantly confirm the existence of just a few pyramidal structures, near Xian. That’s where Hausdorf found, not a few pyramids, but ninety to one hundred such structures. There are signs that that attitude is changing. The October 1996 issue of China Today, an official periodical issued in Chinese, German, English, Arabic and French, contains an article about Hausdorf’s second expedition through the Shensi pyramids.
It was there that Hausdorf found pyramids either made of, or covered with, clay that has become nearly stone-hard over the centuries. They are undecorated, and partly damaged by erosion and farming. A few have carved stones standing in front of them. What of stone pyramids? That is found in Shandong. It has no steps. It is 50 feet tall, with a small temple at its apex, designed along the golden proportion.
How old are these pyramids? Prof. Wang Shiping of Xian estimates they are 4,500 years old. Hausdorf believes they are older, and tells of the diaries of two Australian traders. They were there in 1910 or 1912 and came across some of the pyramids, writes Hausdorf. When asking an old Buddhist monk, they were told, that the pyramids are not just mentioned in the 5,000-year-old records of his monastery, but said to be very old. That means, they are at least more than 5,000 years old!
In investigating what the Chinese authorities will reveal about the pyramids, Hausdorf was told the story of an emperor, Qin Shi Huangdi, who lived between 259 and 210 B.C. Prior to his reign, bitter feuding between rival states for dominance over a splintered China went on from 475 to 221 B.C. It was Emperor Huangdi who ended the fighting. And thanks to the commentaries of historian Sima Qian, who lived from 145 to 86 B.C., we know the existence and location of the emperor’s grave, beneath a hill 150 feet tall, planted with grass and trees. The hill, apparently, is man-made. According to Sima, beneath this hill is a 140-foot-tall pyramid with five terraces. The historian’s chronicles state that almost 700,000 workers worked on this tomb. The earth was removed down to ground water level. The floor was then poured with molten bronze. On this platform a stone sarcophagus was laid. When the structure was completed, those who knew where the entrance was were silenced; they were entombed alive. To further disguise it, the pyramid was carefully covered with earth and grass to give the impression of a natural hill.
The pyramid’s interior was quite elaborate. Sima wrote of an artificial universe painted with stars impressed upon the ceiling of the chamber in which the emperor lies. There was an entire landscape with rivers made out of mercury, somehow held in constant motion. The tomb is well protected against grave robbers, utilizing quite an ingenious security system. Crossbows with mechanical triggers make up an automatic shooting gallery, with a hail of arrows targeting intruders. For a long time, these historical commentaries were considered as mere legends. But new excavations around the outer perimeter of this hill seemed to confirm Sima’s chronicles, an analysis of the earth from the immediate area of the great pyramid revealed an exceptionally high concentration of mercury. It would seem the archeologists are taking the stories seriously, as they are reticent to work around this ancient emperor’s high-security tomb. We are leaving this tomb under the hill to the future, so the next generation has something to work on, says one of the leading archeologists.
Still, this emperor lived two thousand, not five thousand years ago, so such stories of elaborate tombs cannot explain all of China’s pyramids. This is the only one that they can pin with a date and a purpose. The others are complete mysteries.
Wang Shiping is one of the Chinese archeologists looking beyond the standard issue explanations. He has found that one of the newly discovered pyramids is very nearly located at the exact geographical middle point of the country, and concludes that the ancient Chinese must have had astounding methods of measuring. He has also found that on the whole, the pyramids are oriented towards the stars. Which makes sense, after all, some of the oldest records of astronomical observations are Chinese. They were also wise to the ancient knowledge of Feng Shui, geomancy, still practiced today. Wang notes that the orientation of the pyramids up to the time of the Han dynasty, is with their main axis east-west. After that, they were all oriented north-south. Why that is, he cannot say, but is sure it must have a meaning, because the Chinese didn’t do anything without consulting the Feng Shui.
Hausdorf also tells the story of how our astronauts saw these pyramids from space. On one of the Apollo Missions, an astronaut, while in orbit over China, saw nine unusual dots on the surface, and took several photos. When developed and enlarged, the photos revealed nine very high pyramids, evenly spaced, in the form of a fan. The location, 170 degrees, 39 minutes East longitude, and 34 degrees, 9 minutes North latitude, is the Taibai Shan Mountain, just over 10,000 feet above sea level, the highest point in the Quin-Ling Mountains, a fair distance southwest of Xian.
In the 1970s, when communication between the U.S. and China improved, the astronaut went to China. He was interested in seeing those pyramids up close. He succeeded. Chinese authorities told him the pyramids were the graves of nine of the eleven emperors of the western Han era, and dated from 206 to 8 B.C. The height of these graves, according to Chinese sources, can be compared to a 40-story building, around 300 feet. This is comparable to Egypt’s Giza pyramids.
I’ll wager that when mapped, those Chinese pyramids are bound to show a correlation of constellations important to the Chinese, similar to that demonstrated by Robert Bauval in Egypt, the three pyramids of Giza are aligned to one another and to the Nile, in imitation of the three belt stars of the constellation Orion, and historically, as they were aligned to the Milky Way.
Hausdorf’s work in the travel industry allows him to move around the world three months of every year, chasing down evidence in support of the ancient astronaut theory. He has turned up evidence for an ancient, alien influence on several Far-East cultures, Chinese, Japanese, Tibetan, and Mongolian. He believes that alien influence can be traced to the present, to modern-day UFO cases. In both his books, he has a chapter on UFO cases in China, including abductions. (Nice to know the UFOnauts aren’t just harassing Americans.)
One of the most controversial stories is what Hausdorf calls the Chinese Roswell. It involves a UFO crash, not in 1947, but, according to estimates, 12,000 years ago! At least that’s the translation, as read by Prof. Tsum Umnui, of the strange heiroglyph on artifacts found in 1938 by Chinese archeologist Chi Pu Tei. The heiroglyphs wind from center to rim on some of the large granite stone disks, 716 of them, found in graves in the Bayan-Kara-Ula mountains. The skeletons in the graves measure at most four feet four inches tall, with heads too big for the frail looking bones. Legends in the area tell of strange yellowish, skinny humanoid beings with big heads that came from the heavens a long, long time ago. For the rest of this story, and there’s plenty more to it, tune in to the interview with Hausdorf on August 2.
Then there are the structures found recently off the coast of Japan. In the spring of 1995, divers looking for clear water heard about a remote island in Okinawa. There they came across huge stone terraces, cut in right angles, punctuated by perfect staircases, precisely cut lanes, and hexagonal columns. So far, five separate sites on three different islands have been found, all 60 to 75 feet under the sea.
Frank Joseph, author of Lost Pyramids of Rock Lake and editor of Ancient American magazine, went to Japan to investigate, and reports that the most accessible site is 170 meters from the southwest end of Okinawa, off the shore near Chatan. Other sites are just off the shore of Aguni Island and Yonaguni Island, where a pyramidal platform 80 meters long and 20 meters high, with its tip only 5 meters below the sea’s surface, was found. The structures, spread over a 500 kilometer area, seem to be oriented due south.
Joseph likens the sites to the pre-Inca city of Pachacamac, a huge, sacred city with multi-stepped pyramids built at right angles, located just outside of Lima, Peru, and the architecture of the Moches ceremonial center near Trujillo, Peru.
Joseph also points out that James Churchward, who wrote extensively about Mu or Lemuria, predicted that remnants of a powerful civilization centered in the Pacific Ocean would eventually be discovered. The Japanese are quite open to theories involving Mu; it is compatible with their own ancient traditions. And Joseph believes it is not mere coincidence that the names of Japan’s first emperors contain a mu,; Jimmu, Timmu, Kammu, are but a few. Mu translates to that which does not exist in Japanese.
Edgar Cayce talks more about Atlantis than Mu, says Joseph, but he did say that at one time, a land mass, and he never referred to Mu or Lemuria as a continent, always a land mass, was physically connected to South America. We now have scientific verification of this. Scripps Oceanographic has just put out a map of the topography of the ocean, and there, off the coast of Peru, is a sunken archipelago, called the Nasca Rise, that was once above water. Today it is less than a hundred feet below the ocean’s surface, and extends for several hundred miles.
The ancient Chinese also seemed to know about Mu. In 1900 a Taoist monk came across a cave containing a library, hidden away to avoid the Imperial edict given in 212 BC to destroy all texts dealing with the ancient past, which made reference to the Motherland, Mu, and which contained a fragment of an ancient map depicting a continent in the Pacific Ocean.
Television and magazines in Japan have had a field day with their underwater cities. Ancient mysteries researcher and translator Shun Daichi sent me a videotape with serious and extensive TV coverage that included a large, beautifully executed scale model of one of the most impressive structures, with a toy boat suspended by a wire to illustrate the height of the sea’s surface. Shun reports that you can draw a straight line connecting the underwater sites with on-land sites of similar design, ancient castles of unknown origin. Some geologists are surmising that the last time this area was above water was a minimum of 12,000 years ago, when the Ice Age ice sheets melted, raising the ocean levels.
Which leads me to two of the most puzzling questions I have about these extraordinary archeological wonders: Why, in the age of instantaneous global communication, did it take two years for the news to reach us, and why haven’t American news reports or archeological institutes reported on these newsworthy finds?
by Laura Lee @ http://www.timstouse.com/EarthHistory/Lemuria/chinapyramids.htm


This long-forgotten pyramid recently was
snapped from the air by army photographers
in a remote region of western China.
Col. Maurice Shehan, Far Eastern director of
Trans-world Airlines, was among the first to
report the phenomenon.


Aerial view of the Chinese Xianyang pyramid
image credit: http://www.pakalertpress.com/2012/02/24/report-area-51-builds-massive-alien-pyramid/

Meso-American

This is a list of Mesoamerican pyramids or ceremonial structures. There are hundreds of these done in many different styles throughout Mexico and Central America. These were made by several pre-Columbian cultures including the Olmecs, Maya, Toltecs, and Aztecs.
Altun Ha Belize.jpgAltun Ha Belize Maya 16 200 to 900 CE
Caracol Belize Temple of the Wooden Lintel Maya
Nim Li Punit Belize Maya 400 to 800 CE Nim Li Punit has several small step pyramids.
Dos PilasGuatemalaLD-Maya after 629 CE This pyramid’s main stairway (known as Hieroglyphic Stairway 2) contains at least eighteen hieroglyphic steps.
Dos PilasGuatemalaEl DuendeMaya after 629 CE This temple pyramid was built by enlarging and terracing a natural hill some way from the site core, giving the impression of a single massive structure.
KaminaljuyuGuatemala Maya 250 CE Kaminaljuyu contains some 200 platforms and pyramidal mounds at least half of which were made before 250 CE. Some of these were used to hold temples on top.
El MiradorGuatemalaLa DantaMaya 300 BCE to 100 CE La Danta pyramid temple has an estimated volume of 2,800,000 cubic meters which makes it one of the largest pyramids in the world.
Calakmul MexicoThe Great Pyramid Maya
Xochitecatl MexicoThe Pyramid of Flowers the Preclassic Period
Xochitecatl MexicoThe Spiral Building 700 BCE This is a circular stepped pyramid. The interior of the structure consists of volcanic ash. The building has no stairway giving access to the top, it was climbed by following the spiral form of the building itself.
Source: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Mesoamerican_pyramids

Egyptian

Giza

Giza, on the southern outskirts of Cairo is the location of the Pyramid of Khufu (also known as the “Great Pyramid” and the “Pyramid of Cheops”), the somewhat smaller Pyramid of Khafre (or Kephren), and the relatively modest-sized Pyramid of Menkaure (or Mykerinus), along with a number of smaller satellite edifices, known as “queens” pyramids, and the Sphinx. The Giza necropolis has arguably been the world’s most popular tourist destination since antiquity, and was popularized in Hellenistic times when the Great Pyramid was listed by Antipater of Sidon as one of the Seven Wonders of the World. Today it is the only one of the ancient Wonders still in existence.

Sakkara

Major pyramids at Sakkara include the Step Pyramid of Djozer – the world’s oldest monumental stone building – the Pyramid of Userkaf and the Pyramid of Teti. Also at Sakkara is the Pyramid of Unas , which retains a causeway that is amongst the best preserved in Egypt. This pyramid was also the subject of one of antiquities’ earliest restoration attempts, conducted under the auspices of one of the sons of Ramses II. Sakkara is also the location of the incomplete step pyramid of Djozer’s successor Sekhemkhet . Archaeologists believe that had this pyramid been completed it would have been larger than Djozer’s.

Abu Sir

There are a total of seven pyramids at this sight, which served as the main royal necropolis during the Fifth Dynasty. The quality of construction of the Abu Sir pyramids is inferior to those of the Fourth Dynasty – perhaps signaling a decrease in royal power or a less vibrant economy. They are smaller than their predecessors, and are built of low quality local limestone. The three major pyramids are those of Niuserre (which is also the most intact), Nferirkare and Sahure . The sight is also home to the incomplete Pyramid of Neferefre . All of the major pyramids at Abu Sir were built as step pyramids, although the largest of them – the Pyramid of Nferirkare – is believed to have originally been built as a step pyramid some 70 metres(230 feet) in height and then later transformed into a “true” pyramid by having its steps filled in with loose masonry.

Dashur

Dashur is arguably the most important pyramid field in Egypt outside Giza and Sakkara, although until recently the sight was inaccessible due to its location within a military base, and hence was virtually unknown outside archaeological circles. The southern Pyramid of Sneferu , commonly known as the Bent Pyramid is believed to be the first (or by some accounts, second) attempt at creating a pyramid with smooth sides. In this it was only a partial – but nonetheless visually arresting – success; it remains the only Egyptian pyramid to retain a significant proportion of its original limestone casing, and serves as the best example of the luminous appearance common to all pyramids in their original state. The northern, or Red Pyramid built at the same location by Sneferu was later successfully completed as the world’s first true smooth-sided pyramid. Despite its relative obscurity, the Red Pyramid is actually the third largest pyramid in Egypt – after the pyramids of Khufu and Khafre at Giza. Also at Dashur is the so-called Black Pyramid of Amenemhet III .

Meidun

The pyramid at Meidun is one of three constructed during the reign of Sneferu , and is believed by some to have been commenced by that pharaoh’s father and predecessor, Huni. Some archaelogists also suggest that the Meidun pyramid may have been the first unsuccessful attempt at the construction of a “true” or smooth-sided pyramid. Suffering a catastrophic collapse in antiquity, only the central parts of its stepped inner core remain standing, giving it an odd tower-like appearance that is unique among Egyptian pyramids. The hill that the pyramid sits atop is not a natural landscape feature – it is in fact the small mountain of debris created when the lower courses and outer casing of the pyramid gave way.

Hawarra

Amenemhet III was the last powerful ruler of the 12th Dynasty, and the pyramid he built at Hawarra, near Faiyum, is believed to post date the so called “Black Pyramid” built by the same ruler at Dashur. It is the Hawarra pyramid that is believed to have been Amenemhet’s final resting place. The huge mortuary temple that originally stood adjacent to this pyramid is believed to have formed the basis of the labyrinth mentioned by such ancient historians as Herodotus, Strabo and Diodorus Siculus, and which is said to have been the model for the labyrinth built by Daedalus for King Minos of Crete to house the Minotaur.

Lisht

Two major pyramids are known to have been built at Lisht – those of Amenemhat I and his son, Senusret I (Sesostris I). The latter is surrounded by the ruins of ten smaller subsidiary pyramids. The sight which is in the vicinity of the oasis of Fayyum, midway between Dashur and Meidun, and about 100 kilometres south of Cairo , is believed to be in the vicinity of the ancient city of Iti-tawi (the precise location of which remains unknown), which served as the capital of Egypt during the 12th Dynasty.

Zawyet el-Aryan

This sight, half way between Giza and Abu Sir, is the location for two unfinished Old Kingdom pyramids. The northern structure’s owner is believed to be the Pharaoh Nebka, whilst the southern structure is attributed to the Third Dynasty Pharaoh Khaba, also known as Hudjefa, successor to Sekhemket. Khaba’s four year tenure as pharaoh more than likely explains the similar premature truncation of his step pyramid. Today it is approximately 20 metres(65 feet) in height; had it been completed it is likely to have exceeded forty(130 feet).

Abu Rawash

Abu Rawash is the sight of Egypt’s most northerly pyramid – the mostly ruined Pyramid of Djedefre, the son and successor of Khufu. Originally it was thought that this pyramid had never been completed, but the current archaelogicical consensus is that not only was it completed, but that it was originally about the same size as the Pyramid of Menkaure – the third largest of the Giza pyramids.

Il Lahun

The pyramid of Senwosret II at Il Lahun is the southernmost pyramid structure in Egypt. Its builders reduced the amount of work necessary to construct it by ingeneously using as its foundation and core a 12 metre high natural limestone hill.