Thursday, May 31, 2012

Arkeolog: Piramid di Situs Gunung Padang Luar Biasa Besar!




Situs peninggalan pra sejarah di Gunung Padang/ Ali Akbar


Jakarta Piramid di Situs Gunung Padang di Cianjur, diyakini merupakan punden berundak. Hasil analisa sementara luas kompleks piramid di Gunung Padang seluas 75 hektar.




“Luas situs ini bukan 4,5 hektar tapi sekitar 75 hektar. Luar biasa besar,” kata Ketua Tim Arkeolog Ali Akbar yang melakukan penggalian, saat berbincang, Sabtu (19/5/2012).



Ali tidak sembarang berbicara, fakta yang ditemukan tim arkeolog, situs itu terdiri atas 5 teras yang membentang dari utara ke selatan.


Awalnya, sisi barat dan timur diperkirakan tidak ada struktur bangunan dan kini dipenuhi pepohonan lebat.

“Pada saat tim geologi yang dipimpin oleh Dr. Danny Hilman melakukan survei georadar, tim ini membuka dan menebas pepohonan. Ternyata banyak batu-batu besar di permukaan tanah, yang selama ini tertutup oleh rimbunnya pepohonan,” terang arkeolog jebolan UI ini.

Tim geologi, kemudian meminta tim arkeologi untuk memeriksa batu-batu tersebut. Pada saat dilakukan penelusuran, jalan ke bawah dan ke samping, ternyata semakin banyak batu ditemukan.

“Ternyata batu-batu tersebut membentuk sistem teras. Penguatan konstruksi bangunan agar tidak longsor. Ada sekitar 20 tingkat dengan ukuran lebar sekitar 1,5 meter dan tinggi 1,5 meter. Konstruksi ini terus ke bawah. Dari atas punden sampai ke bawah sekitar 100 meter,” terangnya.

“Artinya, seluruh bukit kemungkinan dipenuhi konstruksi bangunan,” tegasnya.

Tim arkeologi dan geologi di bawah koordinasi dengan Sekretariat Negara melalui Staf Khusus Presiden Andi Arief, melakukan penggalian sejak 15 Mei lalu. Rencananya penggalian ini akan dilakukan hingga 30 Juni.

Ada Peradaban ‘Maju’ yang Membangun Piramid di Situs Gunung Padang

Situs peninggalan pra sejarah di Gunung Padang/ Ali Akbar

Tim arkeolog tengah melakukan penggalian di situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Diduga kuat ada piramid yang merupakan punden berundak di kawasan itu.

“Untuk sementara punden berundak ini kemungkinan merupakan situs pemujaan,” jelas Ketua Tim Arkeolog Ali Akbar yang melakukan penggalian, saat berbincang, Sabtu (19/5/2012).

Tim arkeolog memperkirakan piramid ini dibangun pada 10 ribu tahun sebelum masehi. Penggalian awal sudah menemukan tembikar dan gerabah.



Yang mencengangkan, ternyata piramid itu berada di kompleks seluas 75 hektar. Karena, pada sisi lain kawasa Situs Gunung Padang yakni 4,5 hektar, terdapat batuan berukuran 1,5 meter yang disusun.

“Ribuan orang pasti telibat membuatnya,” jelas Ali.

Melihat luasnya kompleks piramid itu, diyakini ada masyarakat atau peradaban yang sudah terorganisir baik.

“Organisasi masyarakat pasti telah tertata dgn baik, sehingga mampu memobilisasi ribuan orang untuk membuatnya,” jelasnya.
Siapa ribuan orang itu dan kemana mereka kini, Ali belum bisa melakukan kesimpulan.“Masih diteliti lebih lanjut,” tegasnya.

Piramida di Gunung Padang Masih Misteri, Siapa Pembangunnya?


Foto: Ali Akbar


Piramida di Situs Gunung Padang, Cianjur menjadi perbincangan hangat. Benarkah ada piramida berusia 10 ribu tahun di kawasan situs megalitikum yang terkenal dengan batu yang bisa menghasilkan suara musik itu? Semua masih misteri.
Pastinya kini situs itu mulai digali tim arkeolog pimpinan Ali Akbar. Mendapat restu dari Sekretariat Negara di bawah komando Staf Khusus Presiden Andi Arief, sejak Selasa (15/5) penggalian sudah dimulai.

“Mudah-mudahan ada temuan menarik. Penggalian baru menemukan gerabah dan tembikar prasejarah,” kata Ali saat berbincang, Kamis (17/5/2012).

Kalau ada tembikar dan gerabah, pastinya ada jejak manusia. Siapa mereka? Apakah mereka cikal bakal pembangun kerajaan Sunda kuno di kawasan itu atau bangsa Atlantis? Ali angkat tangan. Soal itu menurut dia masih misteri.


“Kemana penduduk peradaban itu? Kenapa bisa musnah atau pergi? Apa ada letusan? Nanti ada tim lain yang akan menjawabnya,” tutur arkeolog lulusan UI ini.


Tim penelitian Situs Gunung Padang ini melibatkan ahli geologi, sejarawan, dan berbagai ahli dari ITB dan UI, serta perguruan tinggi lainnya. Mereka membangun base camp di kawasan itu.

“Citra geo radar memperlihatkan ada macam-macam, tapi kalau arkeolog harus melakukan penggalian,” tuturnya.

Ali bercerita, piramida di Situs Gunung Padang ini berbeda dengan piramida seperti di Mesir. Piramida ini bertipe punden berundak, yakni sebuah bukit yang ditempeli batu-batu. Namun ada anomali di sana. Artinya, ada kemungkinan rongga-rongga di dalam bukit itu. Mungkinkah itu pertanda ada ruangan tempat menyimpan barang?

“Nanti kita buktikan di lapangan, akan ada eskavasi dan penggalian pendalaman,” tuturnya.

Bila pada akhirnya nanti benar ditemukan piramida di kawasan itu, usianya diperkirakan mencapai 10 ribu tahun. Usianya peradaban ini jauh melebihi bangsa Mesir. Tapi semua mesti menunggu, tim masih bekerja.
Anda percaya dengan piramida ini?

Dahulu Indonesia disebut Sunda oleh Orang Barat


Pengantar
-Menurut penelitian sejarah, kata ‘sunda’ ini sudah dipakai oleh pakar ilmu bumi Ptolemeus pada tahun 150 mengacu pada tiga pulau besar yang terletak di timur India. Kata ‘sunda’ ini berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna ‘bersinar, terang, putih’. Istilah inilah yang kemudian dipakai secara luas oleh pakar ilmu bumi dan kartografer (pembuat atlas) Eropa untuk merujuk pada kawasan yang pada zaman sekarang ini merupakan wilayah kedaulatan Indonesia.



-Sebelum dijajah Belanda, bangsa Portugis yang pertama kali berkelana di wilayah kita. Mereka mencatat nama-nama tempat yang sudah didatanginya. Dalam catatan itu pulau-pulau yang didatangi ditanyakan mereka, para penghuni pulau menjawabnya Sunda. Portugis mencatat hal tersebut, kepulauan semua ini disebut Kepulauan Sunda. Lantaran pulau-pulau yang berada di sebelah barat merupakan pulau yang besar, disebut Kepulauan Sunda Besar (mayor). Kalau pulau-pulau yang disebelah timur merupakan pulau-pulau kecil disebut kepulauan Sunda Kecil (minor). Akhirnya juga nama-nama itu yang dicatat dalam bahasa Portugis, kemudian orang Belanda menerjemahkan dengan bahasa Belanda menjadi Sunda Eilanden (kepulauan Sunda), yang dibangun dengan Grote Sunda Eilanden dengan Kleine Sunda Eilanden.


Sunda Eilanden atau Kepulauan Sunda ini yang selanjutnya dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi ilmuan Jerman memberi nama Indo-nesos (Indo=Hindia, Nesos = Nusa, Kepulauan, Benua). Dinamakanlah menjadi Indonesia.

Yang bercanda ada yang menulis Indonesia dengan tulisan Arab, jadi dibalik membacanya (aiSeNoDni), di aksara ini dibaca biasa dengan cara latin (ieu SuNDa na). Jadi maksudnya Indonesia juga Sunda-Sunda juga.
Menurut sejarah menerangkan Tatar Sunda dahulu sudah ada yang disebut peta. Memang sebenarnya peta sejarah dengan peta sekarang tidaklah sama, tapi daripada menerangkan yang tidak jelas, lebih baik menggunakan peta yang ada saja.
Dahulu jumlah orang masih sedikit, jadi yang disebut negara hanya dibatasi oleh laut, oleh sungai besar dengan hutan belantara yang tak pernah didatangi orang, Sekarang batas negara kita dalam sejarah pertamanya, di jaman kita Eropa menjajah negara-negara Asia dan Afrika. Negara kita dijajah oleh Belanda, dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi sebelum dijajah Belanda, bangsa Portugis yang pertama kali berkelana di wilayah kita. Mereka mencatat nama-nama tempat yang sudah didatanginya. Dalam catatan itu pulau-pulau yang didatangi ditanyakan mereka, para penghuni pulau menjawabnya Sunda. Portugis mencatat hal tersebut, kepulauan semua ini disebut Kepulauan Sunda. Lantaran pulau-pulau yang berada di sebelah barat merupakan pulau yang besar, disebut Kepulauan Sunda Besar (mayor). Kalau pulau-pulau yang disebelah timur merupakan pulau-pulau kecil disebut kepulauan Sunda Kecil (minor). Akhirnya juga nama-nama itu yang dicatat dalam bahasa Portugis, kemudian orang Belanda menerjemahkan dengan bahasa Belanda menjadi Sunda Eilanden (kepulauan Sunda), yang dibangun dengan Grote Sunda Eilanden dengan Kleine Sunda Eilanden.

Sunda Eilanden atau Kepulauan Sunda ini yang selanjutnya dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi ilmuan Jerman memberi nama Indo-nesos (Indo=Hindia, Nesos = Nusa, Kepulauan, Benua). Dinamakanlah menjadi Indonesia.


Yang bercanda ada yang menulis Indonesia dengan tulisan Arab, jadi dibalik membacanya (aiSeNoDni), di aksara ini dibaca biasa dengan cara latin (ieu SuNDa na). Jadi maksudnya Indonesia juga Sunda-Sunda juga.

Pada waktu belajar geografi (ilmu bumi) kita menemui sebutan Sunda Besar (GreaterSunda) dan Sunda Kecil (Lesser Sunda). Sunda Besar meliputi pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan Sunda Kecil meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Gabungan dari keduanya di zaman dahulu bahkan dinamakan kepulauan Sunda (Sunda Islands). Mungkin pernah tebersit dalam otak kita mengapa di zaman beheula Indonesia dinamakan Sunda.

Menurut penelitian sejarah, kata ‘sunda’ ini sudah dipakai oleh pakar ilmu bumi Ptolemeus pada tahun 150 mengacu pada tiga pulau besar yang terletak di timur India. Kata ‘sunda’ ini berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna ‘bersinar, terang, putih’. Istilah inilah yang kemudian dipakai secara luas oleh pakar ilmu bumi dan kartografer (pembuat atlas) Eropa untuk merujuk pada kawasan yang pada zaman sekarang ini merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. Sudah barang tentu tak persis sekali, misalnya Molucca (Maluku) dan Papua tidak termasuk di dalamnya dan dianggap sebagai entitas tersendiri.

Pada atlas yang dibuat oleh Giacomo de Rossi pada tahun 1683, kawasan nusantara ini disebut dengan ‘Isole della Sonda‘ (kepulauan Sunda). Ada juga peta kuno yang terbuat dari perunggu yang digrafir (engraved copper) tahun 1719 buatan Jerman yang dinamakan ‘Die Inseln von Sonte‘ (perhatikan cara mengeja orang Barat yang menuliskannya dengan ‘sonda’ atau ‘sonte’). Bahkan saya menemukan juga gambar ‘penduduk Indonesia’ menurut versi mereka pada tahun 1719 itu yang diberi judul ‘Habitans des Isles dela Sonde‘ (penduduk kepulauan Sunda).










Perjalanan sejarah mencatat bahwa nama ‘Sunda’ ini kemudian mengerucut merujuk kepada kerajaan yang berdiri pada abad ke 7 di Pakuan Pajajaran ( kini di sekitar Bogor). Kerajaan Sunda ini runtuh pada tahun 1579, karena pengaruh kekuatan dari Jawa dan kolonialis Belanda. Selama masa penjajahan Belanda, wilayah negara kita dinamakan dengan ‘Nederlands Indie‘ (Hindia Belanda), namun tercatat pada tahun 1850 seorang antropolog Inggris bernama J.R. Logan memberi nama tanah air kita dengan Indonesia. Menilik nama ‘Sunda’ jauh lebih tua dibandingkan dengan ‘Indonesia’, mungkin ada pertanyaan menggelitik dari Anda ‘Why Indonesia and not Sunda?‘ Pertanyaan ini amat sulit dijawab, karena sejarah mempunyai jalannya sendiri yang tidak linier.


Gustaaf Kusno;

http://417d1.blogspot.com/2012/05/dahulu-kala-indonesia-dinamakan-sunda.html



T a t a r S u n d a

Menurut sejarah menerangkan Tatar Sunda dahulu sudah ada yang disebut peta. Memang sebenarnya peta sejarah dengan peta sekarang tidaklah sama, tapi daripada menerangkan yang tidak jelas, lebih baik menggunakan peta yang ada saja.

Dahulu jumlah orang masih sedikit, jadi yang disebut negara hanya dibatasi oleh laut, oleh sungai besar dengan hutan belantara yang tak pernah didatangi orang, Sekarang batas negara kita dalam sejarah pertamanya, di jaman kita Eropa menjajah negara-negara Asia dan Afrika. Negara kita dijajah oleh Belanda, dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi sebelum dijajah Belanda, bangsa Portugis yang pertama kali berkelana di wilayah kita. Mereka mencatat nama-nama tempat yang sudah didatanginya. Dalam catatan itu pulau-pulau yang didatangi ditanyakan mereka, para penghuni pulau menjawabnya Sunda. Portugis mencatat hal tersebut, kepulauan semua ini disebut Kepulauan Sunda. Lantaran pulau-pulau yang berada di sebelah barat merupakan pulau yang besar, disebut Kepulauan Sunda Besar (mayor). Kalau pulau-pulau yang disebelah timur merupakan pulau-pulau kecil disebut kepulauan Sunda Kecil (minor). Akhirnya juga nama-nama itu yang dicatat dalam bahasa Portugis, kemudian orang Belanda menerjemahkan dengan bahasa Belanda menjadi Sunda Eilanden (kepulauan Sunda), yang dibangun dengan Grote Sunda Eilanden dengan Kleine Sunda Eilanden.

Sunda Eilanden atau Kepulauan Sunda ini yang selanjutnya dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi ilmuan Jerman memberi nama Indo-nesos (Indo=Hindia, Nesos = Nusa, Kepulauan, Benua). Dinamakanlah menjadi Indonesia.

Yang bercanda ada yang menulis Indonesia dengan tulisan Arab, jadi dibalik membacanya (aiSeNoDni), di aksara ini dibaca biasa dengan cara latin (ieu SuNDa na). Jadi maksudnya Indonesia juga Sunda-Sunda juga.

Keterangan dalam sejarah yaitu waktu raja Tarumanegara diganti oleh Sri Maharaja Tarusbawa Dharmawaskita Manunggaljaya Sunda Sambawa, negara yang nama sebelumnya Tarumanegara diganti menjadi negara Sunda. Kejadian ini tepatnya pada hari Radite Pon (Senin Pon), tanggal 09 suklapaksa, bulan Yetsa (bulan ke 8), tahun 591 Caka Sunda. Tanggal ini sama dengan 31 Oktober 695 Masehi Julian.


Jadi tanah yang benar-benar ditempati oleh orang Sunda yang biasa disebut Tatar Sunda yaitu dalam sejarah disebut Jawa Barat. Tapi ketika Islam masuk ke dalam Tatar Sunda ini mereka merebut Cirebon, Banten dan Sunda Kelapa (sejarah Jakarta) ketika diIslamkan jadi bawahan kerajaan Islam Demak. Sesudah dijajah oleh Belanda (Nederlands Indie di tahun 1800 M, bukan waktu jaman VOC) Tatar Sunda jadi provinsi West Java (Jawa barat atau Jawa Kulon), yang dibangun dengan 5 keresidenan : Banten, Buitenzorg (Bogor), Batavia, Cirebon, Priangan.

Keresidenan Banten dibangun oleh Kabupaten Serang. Pandeglang dengan Lebak. Keresidenan Buitenzorg (Bogor) dibangun oleh Kabupaten Buitenzorg (Bogor). Sukabumi dengan Cianjur. Keresidenan Batavia dibangun oleh Kabupaten Tangerang, Batavia, Bekasi, Karawang, Purwakarta dan Subang. Batavia menjadi ibukota negara. Keresidenan Cirebon dibangun oleh Kabupaten Indramayu. Kuningan dan Majalengka. Keresidenan Priangan dibangun oleh Kabupaten Bandung, Sumedang, Garut, Tasik dan Ciamis. Bandung ada Kabupaten dengan adanya Keresidenan jaman Jepang disebut Bandungsi.

Pada jaman peralihan yaitu jaman RIS (Republik Indonesia Serikat), Tatar Sunda namanya Negara Pasundan. Sesudah RIS bubar balik lagi ke nama Jawa Barat yang suka disingkat menjadi Jabar.

Sesudah Indonesia merdeka, Batavia diganti menjadi Jakarta dijadikan DCI (Daerah Chusus Ibukota) yang jadi propinsi mandiri. Jadi dari dulu ada perobahan. Keresidenan ditiadakan, tinggal Kabupaten dan Kotapraja. Kotapraja diganti jadi Kotamadya. Propinsi disebut DT-I (Daerah Tingkat I), Kabupaten dan Kotamadya disebut DT-II (Daerah Tingkat II), Kecamatan disebut DT-III (Daerah Tingkat III), dari sana terus ke Desa atau Kelurahan. Kalau memakai istilah DT jadi DT-IV. Terus ke RW (Rukun Warga), jadi DT-V. Ditutup oleh RT (Rukun Tetangga), jadi DT-VI, Pusat jadi DT-O, jadi jumlah tingkatan daerah ada 7, dari 0 sampai ke 6.

Kalau jaman dahulu, orang yang pindah tempat dari tempat asalnya disebut ngababakan (komplek). Malah istilah ngababakan ditambahkan dengan nama tempat asalnya, misalnya Babakan Ciamis yang ada di Kota Bandung, artinya orang Ciamis yang ngababakan (berkompleks) di Bandung. Ngababakan artinya diam sementara waktu. Mula-mula ngababakan itu karena ingin bertani di tempat yang agak jauh, tapi harus memiliki tempat tinggal. Jadi disebut ngababakan waktu menggarap tanah, menanam sampai membersihkan rumput. Selanjutnya yang bertani balik ke kampung halamannya, karena nanti pada waktunya panen sampai mengangkut hasil panen ke lumbung di kampungnya.

Kalau yang tidak ngababakan artinya pindah tempat, pindah tempat berteduh. Misalnya karena sudah tidak ada sanak saudara lagi di tempat asalnya. Apalagi yang punya istri atau suami di tempat lain, banyak yang berpindah tempat, atau ikut ke tempat suaminya atau ke tempat istrinya. Seterusnya menjadi orang sana. Tapi walaupun pindah tempat tetap orang Sunda juga karena orang Sunda. Begitu juga orang lain tetap jadi orang asalnya. Pada akhirnya lahir istilah pribumi, non-pribumi yang suka disingkat non-pri. Dengan orang asing hal bagus ini pertamanya dipakai pada jaman Belanda. Pribumi disebut Inlander. Non-pribumi disebut Vreemde Oosten, orang asing disebut Vreemdelingen. Vreemde Oosten adalah orang Cina, India, Arab, Jepang, dan lain-lain. Vreemdelingen maksudnya orang Eropa. Dengan adanya pemisahan ini, jadi ada tiga tingkatan/kelas. Karena orang Eropa dan Jepang digolongkan pada tingkat pertama atau kelas 1. Yang termasuk Vreemde Oosten digolongkan pada tingkat tengah atau kelas 2. Kalau Inlander tingkat paling bawah atau kelas 3. Vreemde oosten jadi penghubung antara kelas 1 dengan kelas 3. Makanya pribumi sudah hidup di negara merdeka juga tetap di tempat kelas 3. Yang jadi kelas 1nya adalah para pembesar yang sikapnya elit dari jaman Sukarno samapi jaman Habibi. Sesudah pindah ke jaman Gus Dur, baru merasa perubahan. Sebab kedaulatan sudah pindah ke rakyat lagi. Sekarang lagi diperjuangkan rubahnya pemerintahan bernegara. Sedang mencari bentuk baru yang lebih bagus.

S e j a r a h S u n d a

Sejarah bisa dibagi menjadi pra-sejarah, sejarah dulu atau lama, sejarah kemarin dan sejarah kini. Pra-sejarah artinya kejadian yang tidak tercatat dalam sejarah. Sejarah dahulu adalah sejarah paling tua yang terjangkau oleh sejarah. Sejarah kemarin menceritakan tentang penjajahan oleh bangsa asing. Sedangkan sejarah sekarang adalah jaman setelah revolusi, negara kita jadi merdeka

Tim Arkeolog akan Gali Pintu Masuk ‘Piramida’ Gunung Padang





Foto: Andi Arief


Tim Terpadu ‎Penelitian Mandiri Gunung Padang hari ini akan merampungkan persiapan untuk menggali pintu masuk ke bangunan yang diduga piramida di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Semua pihak akan dilibatkan dalam proses ini.”Hari ini kita akan bertemu dengan para ahli. Eskavasi lokal akan tergantung pertemuan dengan ahli, untuk melihat ada pintu,” kata Andi Arief selaku dewan pengarah tim, Selasa (22/5/2012).


Menurut Andi, pintu tersebut sudah terdeteksi oleh alat georadar dan geolistrik. Sedikitnya ada dua pintu yang diduga sebagai jalur menuju bangunan tersebut.”Sehingga kita harap dari eskavasi ketemu pintu. Dan pintu itu ada di luar areal yang sekarang ada,” terangnya.

Nah, bila pintu itu sudah ditemukan, maka tahapan penelitian situs ini sudah selesai. Tim akan melaporkan hasil temuan ke instansi terkait guna dilanjutkan dengan penggalian besar-besaran.

“Udah ketemu satu sampel yang cukup ya sudah. Ini membuktikan ada man made structure ya,” ucap staf khusus presien bidang bantuan sosial dan bencana ini.

Menyusuri Jejak Kejayaan Bahari Kita




Jauh sebelum bangsa Arab dan Shirazi mengarungi lautan dan menemukan kota-kota eksotis Kilwa, Lamu, dan Zanzibar, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika dan kemudian menjajahnya, pelaut-pelaut Nusantara sesungguhnya sudah berjaya sampai Afrika. Jejak mereka tidak hanya ditemukan dalam bahasa, budaya, dan semangat kebaharian yang masih hidup sampai sekarang, tetapi juga terpatri dalam darah masyarakat Madagaskar.



Dalam bukunya, The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times—diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Mizan dengan judul ”Penjelajah Bahari” tahun 2008—Robert Dick-Read coba memecahkan misteri keberadaan pelaut-pelaut pertama dunia yang gagah berani ini. Ia percaya, jejak kaki mereka di sepanjang pantai dan gerak dayung mereka di riak samudra dalam perjalanan ke garis batas cakrawala masih bisa ditelusuri.


Pelaut Nusantara



Jauh sebelum bangsa Arab dan Shirazi mengarungi lautan dan menemukan kota-kota eksotis Kilwa, Lamu, dan Zanzibar, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika dan kemudian menjajahnya, pelaut-pelaut Nusantara sesungguhnya sudah berjaya sampai Afrika. Jejak mereka tidak hanya ditemukan dalam bahasa, budaya, dan semangat kebaharian yang masih hidup sampai sekarang, tetapi juga terpatri dalam darah masyarakat Madagaskar.

Dalam bukunya, The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times—diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Mizan dengan judul ”Penjelajah Bahari” tahun 2008—Robert Dick-Read coba memecahkan misteri keberadaan pelaut-pelaut pertama dunia yang gagah berani ini. Ia percaya, jejak kaki mereka di sepanjang pantai dan gerak dayung mereka di riak samudra dalam perjalanan ke garis batas cakrawala masih bisa ditelusuri.


Pelaut Nusantara

Dick-Read tidak hanya mempelajari sejarah Afrika, tetapi juga kejayaan bahari pulau-pulau di Asia Tenggara dan wilayah sebelah utara Samudra Hindia dari masa awal hingga akhir milenium pertama era Masehi. Ia menaruh perhatian pada hubungan perniagaan antara Roma dengan India dan Timur Jauh, terutama rempah-rempah. Suatu penelitian yang membawanya ke kesimpulan bahwa kayu manis dari Nusantara dibawa langsung ke Roma dengan memutari ”Tanduk Afrika” tanpa melalui pasar India ataupun Sri Lanka.

Lebih dalam lagi, Dick-Read mempelajari kultur Afrika, mencari asal-usul kehadiran tanaman pisang, ubi jalar, dan keladi di benua itu serta mengamati kesamaan bahasa, alat musik, dan bahkan manik-manik. Semua itu akhirnya membuat ia yakin: para pelaut andal Nusantara tidak sekadar memutari ”Tanduk Afrika”. Mereka juga singgah dan mewariskan tanaman, kemampuan bercocok tanam, beragam budaya, dan yang terutama adalah genetik. Inilah yang membuat sebagian masyarakat pesisir Afrika, terutama Madagaskar, memiliki kemiripan fisik dengan kita, orang Indonesia.

Jejak tersebut kemudian dibuktikan dalam penelitian bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Indonesia dengan Universitas Arizona, Amerika Serikat; Universitas Massey di Selandia Baru; dan Universitas Toulouse, Perancis. Hasilnya—yang dipublikasikan dalam jurnal The Royal Society, 2012—menyimpulkan bahwa penduduk Madagaskar yang disebut orang Malagasi adalah hasil perpaduan timur-barat dengan nenek moyang Afrika dan Indonesia.

Sebenarnya Sergio Tofanelli dari Universitas Pisa, Italia, sudah melihat bahwa sebagian besar orang Malagasi memiliki ikatan maternal dengan kepulauan di Asia Tenggara. Tofanelli juga menyebutkan, asal-usul orang Malagasi dapat ditelusuri dari kontak penduduk asli dengan para pengelana ”penunggang ombak” yang berbahasa Astronesia dan Bantu. Namun, ia tidak dapat menentukan kapan percampuran ini mulai terjadi.


Jejak DNA

Tanda tanya itulah yang dijawab penelitian Lembaga Eijkman dan kawan-kawan. Hasil penelitian DNA—akronim dari deoxyribonucleic acid atau rantai panjang polimer nukleotida yang mengandung informasi genetik—menunjukkan bahwa para pelaut andal Nusantara sudah sampai ke Madagaskar 1.200 tahun lalu.

Uniknya, kehadiran DNA orang Indonesia ini ditelusuri dari mitokondria DNA yang diwariskan kromosom ibu. Ini berarti para perempuan Indonesia sudah sampai ke Madagaskar kala itu. Merekalah yang kemudian menjadi nenek moyang orang Malagasi.

Perkembangan uji DNA memang membuka berbagai kemungkinan yang luar biasa. Dengan membaca urutan sekuen DNA, bisa diketahui riwayat kehidupan nenek moyang kita. Di sinilah evolusi tubuh terekam seiring dengan perubahan pola makan, lingkungan, ataupun aktivitas. Hasil perbandingan dengan DNA populasi di sejumlah tempat bisa menggambarkan proses berlangsungnya migrasi, kapan, dan hubungan kekerabatannya.

Pada kasus orang Malagasi, masih ada penelitian lanjutan untuk melihat apakah pria Indonesia juga menjadi nenek moyang mereka. Penelitian difokuskan pada filogeni kromosom Y yang hanya ada pada pria.


Siapa mereka?

Kemunculan DNA Indonesia pada orang Malagasi 1.200 tahun lalu itu seiring dengan masa-masa keemasan bahari Kerajaan Sriwijaya. Sejak abad VII, Sriwijaya memang menguasai sebagian besar Jawa, Sumatera, dan hampir seluruh Semenanjung Malaka.

Catatan-catatan China yang dikutip Dick-Read menyebutkan, Sriwijaya adalah kerajaan dengan kekuatan dan kemakmuran yang belum pernah ada di Nusantara sebelumnya. Sriwijaya unggul karena aliansinya dengan seluruh masyarakat bahari penting, antara lain Jawa dan Genting Tanah Kra, yang memegang kendali atas pintu masuk menuju Nusantara dan China.

Tulang punggung kejayaan Sriwijaya adalah orang-orang Bajo dan Bugis. Selama berabad-abad, mereka menjadi pemain utama pengangkutan rempah-rempah, kayu cendana, mutiara, damar, sarang burung walet, sagu, dan sirip hiu. Mereka juga dikenal sebagai prajurit yang setia sekaligus andal.

Bisa jadi, merekalah nenek moyang orang Madagaskar dan mewariskan ilmu di sana. Sebaliknya, kita kehilangan kebaharian.

Situs Kuno “Gunung Padang Majenang” Perlu Dikonservasi

Ternyata, tak hanya di Cianjur, Jawa Barat ada Situs megalitikum Purba, di Majenang Cilacap, Jawa Tengah juga ada lho. ini foto dan beritanya (AYS)


Situs kuno di GUnung Padang, Desa Salebu, Kecamatan Majenang perlu diselamatkan. Penyelamatan cagar-cagar budaya ini bisa dilakukan dengan mengkonservasi dan merehabilitasi bangunannya. Hal ini sangat penting, sebab peninggalan zaman nenek moyang tersebut merupakan aset budaya yang sangat berharga.”Situs ini perlu diselamatkan, kalau perlu direhabilitasi lagi supaya bisa dilihat bentuk asli bangunannya,” kata tokoh masyarakat Majenang, M Kholiq, Senin. Pasalnya, beberapa bagian dari situs hampir runtuh karena longsor serta tertutup tanah dan tanaman liar di hutan.

Dari bekas-bekas reruntuhan, bisa diketahui adanya konstruksi lain yang telah rusak. Diantaranya bekas undak-undakan (tangga) yang diduga sebagai akses masuk menuju situs. Bahkan, dia menduga adanya pelataran (semacam balkon) sebagai tempat menyepi Ki Hajar Sakti, sang pendiri situs.

“Dulu malah pernah ada semacam tugu batu (<I>menhir<P>) dan balok batu sebesar dipan di lokasi ini,” kata Ganda, juru kunci situs. Namun, batu tersebut diduga hilang tertimbun longsoran tanah. Menurutnya, warga setempat bersedia jika diajak bekerja bakti untuk membersihkan bangunan tersebut.

Apabila bangunan bersejarah ini dapat dikembalikan bentuknya ke wujud semula, maka akan menjadi aset wisata budaya. Dengan demikian, situs tersebut akan bermanfaat seperti halnya candi Borobudur, Prambanan, atau candi-candi lainnya.

Terlebih jika pemerintah bersedia menyediakan fasilitas di sekitarnya. Diantaranya akses masuk, fasilitas wisata, perpusatakaan, atau catatan bersejarah terkait penemuan situs. Hal ini bisa membantu menambah pendapatan daerah melalui sektor wisata.

Dia mengungkapkan, selain situs Gunung Padang yang terdiri dari balok-balok bebatuan yang tersusun rapi, masih ada peninggalan dan lokasi menarik lain di sekitarnya. Diantaranya, makam Ki Hajar Sakti dan beberapa pengikutnya yang berada di puncak situs.


Adapula semacam gua yang berlokasi tak jauh di tempat semula. Gua tersebut mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat, sehingga tak ada seorangpun yang berani memasukinya, termasuk Ganda sendiri. Budayawan muda Majenang, Hizi Firmansyah menambahkan, situs tersebut harus menjadi tanggung jawab bersama. Terutama dinas kebudayaan untuk melestarikan dan memanfaatkannya. Alasannya, peninggalan ini bisa menjadi kebanggaan masyarakat di sekitarnya.

“Saya sangat prihatin melihat kondisi situs yang terlihat rusak. Kalau dibiarkan terus, situs budaya akan punah karena tak terawat,” katanya. Jika sampai punah, maka akan kehilangan sumber sejarah yang seharusnya dapat dipelajari untuk memperkaya budaya.