Thursday, December 15, 2011

Mengenal Kuskus Mamalia Berkantung


Kuskus merupakan salah satu mamalia berkantung yang ada di Indonesia. Seperti kanguru, kuskus betina melahirkan anaknya kemudian merawat dan membawa anaknya dalam kantung yang terdapat di perutnya.
Kuskus sering dianggap hewan yang sama dengan kukang, padahal keduanya berbeda. Ciri utama kus-kus selain kantong yang terdapat di perutnya adalah bentuk muka yang bundar dengan daun telinga yang kecil, serta bulu yang lebat.
Selain itu kuskus mempunyai ekor yang panjang dan kuat yang berfungsi sebagai alat untuk berpegangan saat berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Ekor kuskus juga menjadi senjata pertahanan dengan cara mengaitkan ekornya kuat-kuat pada batang atau cabang pohon.
Kuskus beruang (Ailurops ursinus) merupakan kuskus terbesar (gambar: wikipedia)
Kuskus merupakan binatang herbivora dengan makanan utama dedaunan dan buah-buahan. Satwa yang sangat pendiam ini hidup secara soliter. Kuskus merupakan satwa australis yang persebarannya terbatas di Indonesia bagian timur (Sulawesi, Maluku, Papua), Australia dan Papua New Guinea.
Kuskus terbesar adalah kuskus beruang (Ailurops ursinus) yang panjang tubuhnya mencapai 1 meter lebih. Sedangkan jenis kuskus terkecil adalah kus-kus kerdil yang memiliki panjang tubuh hanya 29-38 cm dengan berat hanya 1 kg.
Selain dianggap sebagai spesies yang sama dengan kukang, orang juga lebih sering menganggap kuskus sebagai satu spesies. Padahal kuskus terdiri atas beberapa spesies yang terkelompokkan dalam 5 genus yakni Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, Strigocuscus, dan Trichosurus.
Macam Jenis Kuskus. Dari 5 genus kuskus, 4 genus terdapat di Indonesia yakni Ailurops, Phalanger, Spilocuscus dan Strigocuscus. Beberapa spesies jenis kuskus yang terdapat di Indonesia, diantaranya adalah:
  • Kuskus Beruang (Ailurops ursinus); Kuskus yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Bear Cuscus, Bear Phalanger, atau Sulawesi Bear Cuscus ini terdapat di pulau Sulawesi, pulau Butung, pulau Peleng, pulau Togian, Indonesia. Kuskus terbesar dengan panjang tubuh mencapai lebih dari 1 meter ini oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam status konservasi “Vulnerable” (Rentan).
  • Kuskus gebe (Phalanger alexandrae); Kuskus ini merupakan endemik pulau Gebe, pulau kecil di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku, Indonesia) dan baru ditemukan pada tahun 1995. Status konservasinya “Endangered” (terancam punah).
  • Kuskus gunung atau mountain cuscus (Phalanger carmelitae); Terdapat di Papua (Indonesia dan Papua New Guinea). Status konservasinya “Least Concern”(Resiko rendah).
  • Kuskus tanah atau ground cuscus (Phalanger gymnotis); Terdapat di Papua (Indonesia dan Papua New Guinea). Status konservasinya “Least Concern”.
  • Kuskus matabiru atau Blue-eyed Cuscus (Phalanger matabiru); Merupakan kuskus satwa endemik pulau Ternate dan Tidore, Maluku. Kuskus yang baru teridentifikasi pada tahun 1995 ini berstatus konservasi “Vulnerable”.
  • Kuskus australia atau Southern Common Cuscus (Phalanger mimicus); mempunyai sebaran yang luas meliputi Australia, Indonesia, (Papua) dan Papua New Guinea. Status konservasi: “Least Concern”.
  • Northern Common Cuscus (Phalanger orientalis); Kuskus yang disebut juga sebagai Grey Cuscus dan Common Phalanger ini terdapat di Indonesia (pulau Timor, Wetar, Leti, Ambon, Buru, Seram dan beberapa pulau lain di Maluku), Timor Leste, Papua New Guinea, dan Kep. Solomon. Status konservasi: “Least Concern”.
  • Ornate Cuscus atau Moluccan Cuscus (Phalanger ornatus); Terdapat di pulau Halmahera, Bacan, dan Morotai. Status konservasinya “Least Concern”.
  • Kuskus pulau obi atau Obi Cuscus (Phalanger rothschildi); Terdapat di pulau Obi dan Bisa, Maluku. Status konservasinya “Least Concern”.
  • Silky Cuscus (Phalanger sericeus); Terdapat di pulau Papua (Indonesia dan Papua New Guinea). Kuskus yang hidup di ketinggian antara 1.500-3.600 meter dpl ini berstatus konservasi “Least Concern”.
  • Stein’s Cuscus (Phalanger vestitus); Satwa ini terdapat di pulau Papua (Indonesia dan Papua New Guinea). Kuskus yang hidup di ketinggian antara 1.200-2.200 meter dpl ini berstatus konservasi “Least Concern”.
  • Common Spotted Cuscus (Spilocuscus maculatus); Terdapat di Indonesia (Maluku, pulau Yapen, kep. Aru, Papua), Australia, dan Papua New Guinea. Status konservasinya “Least Concern”.
  • Kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis); Kuskus yang disebut juga sebagai Small Sulawesi Cuscus, Little Celebes Cuscus, Small Cuscus ini merupakan kuskus terkecil yang terdapat di Sulawesi dan pulau sekitarnya seperti Sangihe dan Siau. Status konservasinya “Vulnerable”.
Spesies kuskus lainnya:
  • Eastern Common Cuscus (P. intercastellanus); Papua New Guinea.
  • Woodlark Cuscus (P. lullulae); Papua New Guinea.
  • Telefomin Cuscus (Phalanger matanim); Papua New Guinea.
  • Short-eared Brushtail Possum (Trichosurus caninus); Australia.
  • Common Brushtail Possum (T. vulpecula); Australia.
Dilindungi Tapi Banyak Dipelihara. Kuskus merupakan salah satu satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Namun binatang lucu ini ternyata banyak diperjualbelikan dan dipelihara dengan bebas.
Perundang-undangan Indonesia (PP. No. 7 Tahun 1999) ternyata hanya memasukkan genus Phalanger saja tanpa merinci perspesies. Bahkan 3 genus lainnya (Ailurops, Strigocuscus dan Spilocuscus) tidak termaktub di dalamnya.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Subkelas: Marsupialia; Ordo: Diprotodontia; Sub-ordo: Phalangeriformes; Famili: Phalangeridae; Genus: Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, Strigocuscus, dan Trichosurus; Spesies: lihat artikel.
Referensi: www.iucnredlist.org; Gambar: en.wikipedia.org

Tikus-tikus Langka Asli Indonesia


Tikus-tikus langka asli Indonesia?. Ketika saya menanyakan keberadaan tikus-tikus langka di Indonesia teman saya malah ngakak, ada-ada saja, katanya. Lha di rumah saja penuh sama tikus rumah (Rattus rattus) dan mencit (Mus spp.) sedang di sawah dipenuhi tikus sawah (Rattus argentiventer), lha ini kok pakai ada tikus langka segala.
Namun jangan salah, tikus merupakan sekelompok hewan mammalia yang tergabung dalam famili Muridae dengan total spesies mencapai 600-an jenis. Dari beratus jenis tikus tersebut puluhan spesies di antaranya tergolong binatang langka. Bahkan di Indonesia saja, menurut data IUCN Redlist terdapat 40 spesies tikus yang langka (terancam punah) dan satu spesies yang dinyatakan punah.

Tikus-tikus langka asal Indonesia tersebut terkelompokkan dalam status konservasi sebagai berikut:
  • Tikus dengan status Extinct (Punah): 1 spesies;
  • Tikus dengan status Critically Endangered (Kritis): 4 spesies;
  • Tikus dengan status Endangered (Terancam Punah); 18 spesies;
  • Tikus dengan status Vulnerable (Rentan); 18 spesies
Belum lagi yang dikelompokkan dalam kategori Near Threatened atau Hampir Terancam dan Least Concern atau Berisiko Rendah).
Daftar Tikus Langka Asli Indonesia. Berikut daftar tikus langka asli Indonesia berdasarkan status konservasi yang dikeluarkan oleh IUCN Redlist.
Tikus Langka dengan Status Critically Endangered (Kritis)
  • Bunomys coelestis (Lampobatang Bunomys); Dikenal juga sebagai Heavenly Hill Rat (Tikus Bukit Surgawi) merupakan tikus endemik endemik Sulawesi, Indonesia yang dijumpai di Gunung Lampobatang pada ketinggian antara 1.800 dan 2.500 m dpl.
  • Melomys fraterculus (Manusela Melomys); Tikus endemik pulau ke Seram, Indonesia.
  • Uromys boeadii (Biak Giant Rat); Tikus Raksasa Biak ini endemik Biak, Papua.
  • Uromys emmae (Emma’s Giant Rat); Endemik pulau Owi, Papua.
Tikus Langka dengan Status Endangered (Terancam Punah)
  • Bunomys prolatus (Tambusisi Bunomys); Dikenal juga sebagai Long-Headed Hill Rat (Tikus Bukit Berkepala Panjang merupakan tikus langka endemik Sulawesi yang hanya terdapat di gunung Tambusisi, Sulawesi Tengah.
  • Chiropodomys karlkoopmani (Koopman’s Pencil-tailed Tree Mouse); Tikus Pohon Ekor Pensil ini merupakan hewan langka endemik kepulauan Mentawai (Pagai dan Siberut), Sumatera.
  • Echiothrix leucura (Northern Sulawesi Echiothrix); Disebut juga sebagai Sulawesi Spiny Rat atau Tikus Berduri Sulawesi. Merupakan tikus asli dan endemik Sulawesi bagian timur laut.
  • Leopoldamys siporanus (Mentawai Archipelago Leopoldamys atau Mentawai Long-tailed Giant Rat); Hidup di pulau Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora, dan Siberut (Kepulauan Mentawai, Sumatera).
  • Mallomys gunung (Alpine Woolly Rat); endemik pulau Papua, Indonesia, pada ketinggian 3.500 hingga 4.050 m dpl.
  Mallomys-gunung
Mallomus gunung (Alpine Woolly Rat) tikus langka asal Papua
  • Maxomys pagensis (Mentawai Archipelago Maxomys atau Pagai Spiny Rat); Spesies ini endemik di pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, Sipora, dan Siberut di Kepulauan Mentawai, Indonesia.
  • Maxomys wattsi (Watts’s Sulawesi Maxomys atau Watts’s Spiny Rat); Hewan endemik Gunung Tambusisi, Sulawesi Tengah, pada ketinggian antara 1,430-1,830 m dpl.
  • Melomys aerosus (Dusky Seram Melomys atau Dusky Mosaic-tailed Rat); Endemik pulau Seram, Indonesia.
  • Melomys bannisteri (Great Kai Island Melomys); Spesies asli dan endemik pulau Kai Besar di Kepulauan Maluku.
  • Melomys caurinus (Short-tailed Talaud Melomys); Tikus endemik kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Indonesia.
  • Melomys talaudium (Long-tailed Talaud Melomys); Tikus endemik kepulauan Talaud, Sulawesi.
  • Nesoromys ceramicus (Seram Island Mountain Rat atau Ceram Mouse); Endemik pulau Seram, Maluku.
  • Paraleptomys rufilatus (Northern Hydromyine atau Northern Water Rat); Asli Papua (Indonesia dan Papua Nugini).
  • Paulamys naso (Paula’s Long-nosed Rat atau Flores Long-nosed Rat); Tikus endemik Pulau Flores, Indonesia.
  • Rattus hainaldi (Hainald’s Flores Island Rat) ; Endemik pulau Flores.
  • Rattus lugens (Mentawai Archipelago Rat); Asli dan endemik Kepulauan Mentawai (Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan).
  • Rattus simalurensis (Simalur Archipelago Rat); Endemik pulau Simeulue, Babi, Lasia, dan Siumat (Aceh, Indonesia).
  • Sundamys maxi (Javan Sundamys); Endemik Jawa Barat.
Tikus Langka dengan Status Vulnerable (Rentan)
  • Bunomys fratrorum (Northeastern Peninsula Bunomys); Dikenal juga sebagai Fraternal Hill Rat (Tikus Bukit Persahabatan) merupakan hewan endemik pulau Sulawesi (wilayah timur laut semenanjung utara Sulawesi).
  • Echiothrix centrosa (Central Sulawesi Echiothrix) ; Merupakan tikus hutan dataran rendah endemik Sulawesi bagian utara dan tengah.
  • Eropeplus canus (Sulawesi Soft-furred Rat); Tikus langka ini merupakan endemik Sulawesi bagian tengah yang hidup diketinggian antara 1.800 dan 2.300 m dpl. Salah satunya terdapat di Taman Nasional Lore Lindu.
  • Haeromys minahassae (Lowland Sulawesi Haeromys atau Minahassa Ranee Mouse); Tikus asli dan endemik Sulawesi.
  • Haeromys pusillus (Sundaic Haeromys atau Lesser Ranee Mouse) ; Hidup di Indonesia (Kalimantan), Malaysia, dan Filipina.
  • Kadarsanomys sodyi (Javan Bamboo Rat); Endemik pulau Jawa, Indonesia (Gunung Gede Pangrango)
  • Komodomys rintjanus (Nusa Tenggara Komodomys atau Komodo Rat); Asli dan endemik pulau Rinca, Padar, Lomblen dan Pantar di Nusa Tenggara, Indonesia.
  • Margaretamys beccarii (Spiny Lowland Margaretamys); Tikus asli dan endemik Sulawesi.
  • Maxomys inflatus (Broad-nosed Sumatran Maxomys); Endemik Sumatera Barat dan Jambi.
  • Maxomys rajah (Rajah Sundaic Maxomys atau Rajah Spiny Rat); Merupakan tikus asli Brunei Darussalam, Indonesia (Kepulauan Riau, Sumatera, dan pulau Kalimantan), Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Serawak), dan Thailand.
  • Maxomys whiteheadi (Whitehead’s Sundaic Maxomys atau Whitehead’s Spiny Rat); Asli Brunei Darussalam, Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), Malaysia, dan Thailand.
  • Mus vulcani (Javan Shrew-like Mouse atau Volcano Mouse); Endemik Jawa Barat.
  • Niviventer cremoriventer (Sundaic Arboreal Niviventer); Tikus asli Indonesia (Sumatera, Nias, Belitung, Bangka, Kalimantan, Jawa, Bali), Malaysia, Singapura, dan Thailand.
  • Pithecheir melanurus (Javan Pithecheir atau Red Tree Rat). Tikus endemik Jawa Barat.
  • Rattus hoogerwerfi (Hoogerwerf’s Sumatran Rat); Endemik Gunung Leuser, Sumatera.
  • Rattus mollicomulus (Lampobatang Sulawesi Rat atau Little Soft-furred Rat); Endemik Gunung Lampobatang, Sulawesi, pada ketinggian antara 1.100 dan 2.000 m dpl.
  • Rattus richardsoni (Glacier Rat); Endemik pulau Papua (Gunung Wilhelmina dan Puncak Jaya).
  • Rattus xanthurus (Northeastern Xanthurus Rat atau Yellow-tailed Rat); Tikus asli dan endemik Sulawesi.
Sedangkan jenis tikus Indonesia yang telah punah adalah Coryphomys buehleri (Buhler’s Coryphomys) yang merupakan hewan endemik pulau Timor, Indonesia.
Teman saya ternyata masih ngeyel juga. Buat apa ngurusin tikus segala?, katanya. Lha, kalau tikusnya tikus kantor, punah justru lebih bagus. Meskipun begitu tikus-tikus ini selain menjadi bukti tingginya endemisme satwa Indonesia pun tetap mempunyai nilai yang penting utamanya dalam sistem ekologi dan keseimbangan alam. Kepunahannya menjadi sebuah kerugian besar bagi Indonesia. Apalagi belum banyak penelitian yang mengungkap diskripsi dan peranan tikus-tikus langka asli Indonesia ini.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Rodentia; Familia: Muridae
Referensi dan gambar:
  • www.iucnredlist.org
  • id.wikipedia.org
  • en.wikipedia.org
  • www.themanyfacesofspaces.com/Mallomys_giant_rat.jpg

Berang-berang Indonesia Bukan Pembuat Bendungan


Berang-berang Indonesia bukan pembuat bendungan, ini yang sering kali belum dimengerti. Setiap kali mendengar istilah berang-berang yang terlintas adalah sesosok makhuk mirip musang yang hidup di air dan suka menyusun ranting-ranting menjadi sebuah bendungan kokoh di sungai.
Padahal dalam bahasa Inggris dikenal dua nama yakni “Otter” dan “Beaver yang dalam bahasa Indonesia kerap sama-sama diterjemahkan menjadi berang-berang. Otter adalah binatang semi-akuatik anggota famili Mustelidae yang hidup di hampir seluruh dunia kecuali Australia. Jenis inilah yang lebih tepat disebut berang-berang.
Sedangkan Beaver adalah hewan pengerat yang mampu hidup di dua tempat (air dan darat), yang hidup di Amerika dan Eropa. Meskipun kurang tepat, beaver diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi berang-berang juga.
Perbedaan Otter dan Beaver. Antara berang-berang otter dan beaver secara taksonomi memiliki kekerabatan yang sangat jauh. Meskipun sama-sama mamalia (hewan menyusui), namun keduanya telah berbeda di tingkat Ordo. Otter berordo Carnivora (pemakan daging) sedangkan beaver berordo Rodentia (hewan pengerat). Secara perilaku keduanya pun memiliki berbedaan mencolok. Beaver membuat sarang dengan membuat bendungan dari ranting-ranting sedangkan otter bersarang di lubang-lubang di pinggir sungai.
Satu lagi perbedaan antara berang-berang otter dan beaver adalah otter terdapat di Indonesia sedangkan beaver tidak dijumpai di Indonesia. Bahkan Indonesia memiliki hingga empat spesies berang-berang otter.
Ciri-ciri Berang-berang. Secara umum berang-berang mempunyai tubuh mirip musang dengan tungkai yang relatif lebih pendek, dan cakar yang berselaput, ekor panjang berotot. Rambut-rambut di tubuhnya terdiri dari dua lapisan, yakni rambut bagian luar (panjang dan relatif keras, kaku) dan rambut bagian dalam (halus, lunak). Lapisan dalam ini tidak tembus air dan memerangkap udara di dalamnya. Rambut ini berguna untuk menjaga kulit berang-berang agar tetap kering dan hangat meskipun tengah berenang di air yang amat dingin.
Berang-berang hidup di berbagai habitat lahan basah seperti sungai, danau, rawa, sawah, pesisir serta di laut lepas. Makanan utamanya adalah hewan aquatik seperti ikan, namun juga memakan kodok, udang, ketam, kerang, mamalia kecil, hingga burung.
Jenis-jenis Berang-berang Indonesia. Di seluruh dunia terdapat 12 jenis berang-berang yang 4 spesies di antaranya dapat dijumpai di Indonesia. Keempat spesies berang-berang yang hidup di Indonesia itu adalah:
  • Aonyx cinerea atau Berang-berang cakar kecil (Asian Small-clawed Otter).
Berang-berang ini tersebar di Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, China, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanma, Nepal, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Berang-berang Asia ini di Indonesia dapat ditemukan di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan pulau-pulau kecil sekitarnya.
Aonyx cinerea atau Berang-berang cakar kecil (Asian Small-clawed 
Otter)
Aonyx cinerea atau Berang-berang cakar kecil (Asian Small-clawed Otter)
Merupakan berang-berang terkecil dengan ukuran tubuh sekitar 65 – 70 cm dengan berat 5 kg. Hidup secara berkelompok (mencapai 20 ekor perkelompok) dan sering dijumpai hingga di dekat pemukiman manusia. Terdaftar sebagai spesies Vulnerable dalam status konservasi IUCN Redlist dan terdaftar dalam CITES Apendik II.
  • Lutra lutra atau berang-berang utara (Eurasian Otter, Common Otter, European Otter).
Daerah sebaran berang-berang ini sangat luas mulai dari sebagian besar Eropa, Afrika bagian timur laut, dan Asia. Di Indonesia berang-berang Lutra lutraterdapat di pulau Sumatera.
Lutra lutra atau berang-berang utara (Common Otter)
Lutra lutra atau berang-berang utara (Common Otter)
Ukuran tubuhnya sekitar 1 m dengan berat 7 kg. Hidup soliter pada habitat lahan basah yaitu habitat air tawar, payau dan air laut, sungai dataran rendah dan tinggi, danau, rawa, persawahan dan pesisir pantai. Oleh IUCN Redlist diberikan status Near Threatened dan oleh CITES didaftar sebagai Apendiks I di beberapa negara. Termasuk hewan yang dilindungi di Indonesia berdasarkan PP Mo. 7 Tahun 1999.
  • Lutra sumatrana atau Berang-berang hidung berbulu (Hairy-nosed Otter).
Berang-berang Lutra sumatranatersebar mulai dari Kamboja, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia dapat ditemukan di Sumatera dan Kalimantan.
Lutra sumatrana atau Berang-berang hidung berbulu (Hairy-nosed 
Otter)
Lutra sumatrana atau Berang-berang hidung berbulu (Hairy-nosed Otter)
Ciri fisiknya hampir mirip dengan Lutra lutra hanya saja memiliki ciri khas berupa rhinarium (bantalan  hidung) yang ditumbuhi rambut. Terdaftar sebagai spesies Endangered oleh IUCN Redlist dan CITES Apendiks I. Termasuk hewan yang dilindungi di Indonesia berdasarkan PP Mo. 7 Tahun 1999.
  • Lutrogale perspicillata atau Berang-berang bulu licin (Smooth-coated Otter, Indian Smooth-coated Otter)
Tersebar di Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, China, India, Indonesia, Irak, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Thailand, dan Vietnam.
Lutrogale perspicillata atau Berang-berang bulu licin 
(Smooth-coated Otter)
Lutrogale perspicillata atau Berang-berang bulu licin (Smooth-coated Otter)
Ukuran tubuh berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata) mencapai 1,2 meter dengan berat 11 kg. Hidup secara berkelompok yangterdiri atas satu jantan dan betina dengan beberapa anak. Terdaftar sebagai spesies Vulnerable dalam status konservasi IUCN Redlist dan terdaftar dalam CITES Apendik II.
Jangan Biarkan Punah. Penurunan populasi berang-berang secara global diakibatkan oleh berkurangnya habitat seperti alih fungsi dan kerusakan lahan basah seperti rawa, sungai dan danau. Juga lantaran berkurangnya sumber makanan. Terancamnya punahnya populasi berang-berang juga diakibatkan perburuan karena berang-berang acap kali dianggap sebagai hama terutama pada pertanian perikanan.
Sungguh disayangkan jika kemudian hewan semi-akuatik ini menjadi punah. Padahal banyak di antara kita yang belum mengenal berang-berang Indonesia ini. Terbukti, sebagian besar kita pasti menganggap berang-berang adalah arsitektur handal pembuat bendungan dari ranting, padahal salah besar!. Berang-berang yang tinggal di Indonesia ini tidak pernah membuat bendungan.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas; Mamalia; Ordo: Carnivora; Famili: Mustelidae; Genus: Aonyx, Lutra, Lutrogale; Spesies: Aonyx cinerea, Lutra lutra, Lutra sumatrana, Lutrogale perspicillata.

Hewan Nokturnal Binatang Malam


Hewan nokturnal adalah binatang yang melakukan aktifitas di malam hari. Sedangkan siang hari bagi binatang nokturnal adalah waktu untuk beristirahat (tidur).
Nokturnalisi (perilaku nokturnal) yang dilakukan hewan mempunyai tujuan sebagai adaptasi untuk menghindari dan meningkatkan predasi atau proses mangsa memangsa. Dengan menjadi hewan nokturnal sebagian binatang berusaha menghindari diri dari para pemangsa (predator). Selain itu bagi sebagian jenis hewan lainnya, bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dalam memburu mangsa.
Selain itu seekor binatang menjadi nokturnal sebagai adaptasi terhadap cuaca siang yang panas. Dengan menjadi binatang malam, seekor spesies berusaha mengurangi pengapan cairan tubuh. Ini biasa terjadi di daerah gurun.
tarsius salah satu binatang malam
Tarsius salah satu binatang malam
Beberapa contoh binatang nokturnal di antaranya bisa dilihat di daftar berikut:
Lawan dari hewan nokturnal adalah diurnal. Binatang diurnal melakukan aktifitas pada siang hari dan malam harinya digunakan untuk istirahat. Selain nokturnal dan diurnal juga masih terdapat binatang-binatang yang mempunyai waktu beraktifas tertentu seperti hewan matutinal (fajar menjelang pagi), hewan krepuskular (senja menjelang malam), dan hewan metaturnal (aktif di sebagian malam juga sebagian siang).
Kalau para blogger bagaimana?. Termasuk nokturnal atau diurnal?

Kubung (Cynocephalus variegatus) Jagoan Melayang


Kubung atau Cynocephalus variegatus adalah mamalia jagoan melayang. Kubung mampu meluncur dan melayang dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah sehingga mirip terbang. Kemampuan kubung dalam melayang ini dikarenakan mempunyai selaput tipis yang dapat dikembangkan menghubungkan keempat kaki dan ekornya.
Kubung (Cynocephalus variegatus) yang terdapat di Indonesia dikenal sebagai Kubung Sunda. Ini merupakan salah satu dari dua spesies anggota suku (famili) Cynocephalidae disamping Kubung Filipina (Cynocephalus volans).
Di Indonesia, Kubung dikenal juga sebagai Walangkekes atau Tando. Dalam bahasa Inggris Kubung atau Kubung Sunda disebut sebagai Sunda Flying Lemur, Malayan Flying Lemur atau Sunda Colugo. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) dinamai sebagai Cynocephalus variegatus yang mempunyai sinonim Cynocephalus variegatus.
Kubung saat selaput tipisnya direntangkan
Kubung saat selaput tipisnya direntangkan (gambar: Britannica.com)
Meskipun dalam bahasa Inggris disebut lemur, Kubung bukan termasuk anggota Lemur (primata). Juga meskipun digelari “flying” tetapi sejatinya Kubung (Cynocephalus variegatus) tidak mempunyai kemampuan terbang layaknya burung atau kelelawar. Hewan ini hanya mampu melayang dari satu tempat ke tempat lain yang lebih rendah dengan mengandalkan kulit tipis di sekitar kakinya dan ekor. Saat kulit tipis ini mengembang, sekilas hewan ini tampak seperti mempunyai sayap.
Terdapat empat subspesies (anakjenis) Kubung Sunda, yaitu G. v. variegatus (dijumpai di Jawa), G. v. temminckii (di Sumatera), G. v. borneanus (di Borneo), dan G. v. peninsulae (di Semenanjung Malaysia dan daratan Asia Tenggara)
Diskripsi Kubung. Kulit tipis di sekitar kakinya yang menjadi ciri khas Kubung. Ciri lainnya adalah warna tubuhnya yang keabu-abuan hinga kemerahan. Panjang tubuhnya sekitar 34-38 cm ditambah ekor sepanjang 25 cm. Berat badan Kubung atau Walangkekes dewasa sekitar 0,9-1,3 kg.
Kubung Sunda merupakan binatang arboreal dan herbivora yang aktif di malam hari (nokturnal). Makanan kesukaannya adalah bagian-bagian tumbuhan yang lunak seperti tunas, bunga, dan buah-buahan.
Dengan selaputnya, seekor Kubung mampu meluncur dan melayang hingga sejauh 100 meter. Saat melayang, Kubung juga mampu bermanuver dan melakukan navigasi. Selain piawai melayang, Kubung juga terampil dalam memanjat.
Kubung atau Walangkekes bersama anaknya
Kubung atau Walangkekes bersama anaknya
Kubung Sunda atau Walangkekes tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam), dan Semenanjung Malaysia (Malaysia, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Thailand termasuk Singapura).
Habitat Kubung adalah hutan hujan tropis di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter dpl. Namun juga dapat beradaptasi di berbagai habitat seperti hutan bakau, hutan sekunder, dan perkebunan.
Kubung Sunda (Cynocephalus variegatus) termasuk salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Walaupun begitu menurut IUCN Redlist, populasinya secara global belum mengkhawatirkan sehingga hanya dikategorikan sebagai Least Concern dalam daftar merah IUCN sejak 1996.
Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Dermoptera; Famili: Cynocephalidae; Genus: Galeopterus; Spesies: Galeopterus variegatus (Audebert, 1799).
Referensi dan gambar:
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/41502/0
  • www.ecologyasia.com/verts/mammals/colugo.htm
  • www.britannica.com/EBchecked/media/68632 (gambar)
  • animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/pictures/Galeopterus_variegates.html (gambar)

Burung Bidadari Si Genit dari Maluku Utara


Burung Bidadari pantas digelari Si Genit dari Maluku Utara. Burung endemik Maluku yang mempunyai nama latin Semioptera wallacii dan merupakan salah satu jenis burung Cenderawasih ini selain mempunyai bulu yang indah layaknya bidadari juga mempunyai gerak tarian yang indah dan terkesan genit terutama saat merayu pasangannya.
Sayangnya burung Bidadari (Semioptera wallacii) yang endemik Maluku Utara ini semakin hari semakin langka. Meskipun oleh IUCN Redlist hanya dikategorikan sebagai Least Concern, tetapi di lapangan burung berbulu indah layaknya bidadari ini semakin jarang ditemui.
Burung langka ini merupakan anggota famili Paradisaeidae (Cenderawasih) dan merupakan satu-satunya anggota genus Semioptera. Ditemukan pertama kali pada tahun 1858 oleh Alfred Russel Wallace. Oleh masyarakat lokal burung ini dikenal juga sebagai weak-weka, sedangkan dalam bahasa Inggris burung ini disebut sebagai Standardwing, Standard-wing Bird-of-paradise, atau Wallace’s Standardwing.
Burung Bidadari jantan
Burung Bidadari jantan
Ciri dan Perilaku Burung Bidadari. Burung Bidadari berukuran sedang, sekitar 28 cm. Berwarna coklat kehijauan zaitun. Burung bidadari jantan mempunyai mahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat serta warna hijau zamrud pada dadanya. Burung Bidadari betina berukuran lebih kecil dengan warna cokelat zaitun dan serta punya ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan.
Ciri khas burung Bidadari (Semioptera wallacii) adalah adalah dipunyainya dua pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya. Bulu ini dapat ditegakkan atau diturunkan sesuai keinginan burung ini.
Burung genit dari Maluku Utara yang dikenal juga sebagai weak-weka ini memakan serangga, antropoda, dan buah-buahan. Burung jantan bersifat poligami.
Kegenitan burung berbulu indah ini terlihat terutama saat musim kawin. Burung jantan akan memamerkan kecantikan bulu dan bentang sayapnya serta kegenitan dalam menari untuk merayu dan menarik perhatian betinanya. Burung Bidadari betina akan menghampiri dan memilih satu pejantan yang dinilai paling indah tarian dan bentangan sayapnya.
Persebaran, Habitat, dan Populasi. Burung Bidadari merupakan satwa endemik Maluku Utara dan menjadi jenis Cenderawasih yang tersebar di kawasan paling barat. Burung ini bisa dijumpai di pulau Halmahera dan Bacan di Maluku Utara.
Beberapa lokasi yang menjadi habitat burung Bidadari nan genit lagi indah ini adalah hutan Tanah Putih, gunung Gamkonora, dan hutan Domato (Halmahera Barat), hutan Labi-labi di area Taman Nasional Aketajawe dan hutan Lolobata (Halmahera Timur). Burung bernama lokal weak-weka ini juga ditemukan di pulau Bacan.
Populasi burung Bidadari (Semioptera wallacii) tidak diketahui dengan pasti tetapi dipastikan telah menurun jika dibandingkan dengan tahun 1980-an lantaran banyaknya kawasan hutan habitat burung bidadari yang mengalami deforestasi. Penurunan populasi juga diakibatkan oleh perburuan liar untuk menangkap burung Bidadari jantan yang mempunyai bulu indah.
Meskipun semakin sulit ditemukan di habitatnya, namun oleh IUCN Redlist, status konservasi burung ini masih dianggap aman sheingga masih diklasifikasikan sebagai Least Concern. Sedangkan oleh CITES, burung Bidadari Halmahera didaftarkan sebagai Apendiks II.
Pemerintah Indonesia, meskipun tidak spesifik menyebut nama spesies burung Bidadari dalam lampiran PP No. 7 Tahun 1999, namun burung ini tetap termasuk sebagai salah satu satwa yang dilindungi. Ini lantaran semua anggota famili Paradisaeidae atau berbagai jenis Cenderawasih, merupakan satwa yang dilindungi.
Ingin melihat genitnya tarian burung Bidadari?, tonton vidionya di situs www.arkive.org/wallaces-standardwing/semioptera-wallacii/video-00.html.
Yang pasti burung berperilaku genit dan berbulu indah layaknya bidadari ini semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Dan anehnya, banyak di antara kita yang belum mengenal burung ini, termasuk masyarakat Maluku Utara sendiri. Karenanya, tidak bisa tidak; Kenali dan lindungi “Bidadari Genit” ini.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Passeriformes; Famili: Paradisaeidae; Genus: Semioptera (Gray, 1859); Spesies: Semioptera wallacii.
Referensi dan gambar:
  • news.okezone.com/read/2009/06/10/1/227774/habitat-baru-burung-bidadari-ditemukan
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/146693/0
  • sains.kompas.com/read/2010/06/06/11420954/Burung.Bidadari.di.Ambang.Kepunahan
  • www.burung.org/detail_txt.php?op=article&id=91
  • animaldiversity.ummz.umich.edu (gambar)

Daftar Hewan Endemik Indonesia


Hewan endemik Indonesia adalah hewan-hewan yang hanya ditemukan di Indonesia dan tidak ditemukan di tempat lain. Bahkan tidak sedikit satwa endemik ini hanya ditemukan di satu pulau atau wilayah tertentu di Indonesia saja.
Endemisme merupakan gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik, spesies hewan harus ditemukan hanya di suatu tempat tertentu dan tidak ditemukan di tempat lain. Sehingga hewan yang masuk daftar endemik ini hanya dipunyai Indonesia saja.
Indonesia adalah negara dengan endemisme (tingkat endemik) yang tinggi. Diperkirakan terdapat lebih dari 165 jenis mamalia, 397 jenis burung, lebih dari 150 reptilia, dan lebih dari 100 spesies ampibi yang tercatat endemik di Indonesia.
Daftar hewan endemik Indonesia ini sebagian besar saya ambil dari artikel sebelumnya tentang Binatang (Fauna) Endemik Indonesia. Berikut daftar binatang (hewan) endemik yang terdapat di Indonesia lengkap dengan nama latin dan daerah sebarannya:
  1. Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) endemik Sulawesi. 
    Anoa Dataran Rendah hewan endemik Sulawesi
  2. Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) di Sulawesi.
  3. Babirusa (Babyrousa babyrussa) di Sulawesi.
  4. Badak Bercula Satu atau badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di Jawa.
  5. Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) endemik di Sumatera.
  6. Bajing Palawan
    (Sundasciurus juvencus) Bali dan Sumatera.
  7. Bajing Tanah (Lariscus hosei) endemik pulau Kalimantan.
  8. Bajing Telinga Botol
    (Callosciurrus adamsi) endemik Kalimantan.
  9. Banteng (Bos javanicus) hewan endemik Jawa.
  10. Bekantan atau Kera hidung panjang (Nasalis larvatus) endemik Kalimantan.
  11. Beruk Mentawai (Macaca pagensis) endemik Kepulauan Mentawai.
  12. Burung Anis sulawesi (Cataponera turdoides) di Sulawesi.
  13. Burung Beo Nias (Gracula religiosa robusta) endemik pulau Nias, Sumatera.
  14. Burung Elang Flores (Spizaetus floris) endemik Flores.
  15. Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii) Halmahera, Maluku Utara.
  16. Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) di Jawa.
  17. Burung Cenderawasih (Paradisea sp.) di Papua.
  18. Burung Celepuk Siau (Otus siaoensis) pulau Siau, Sulawesi Utara.
  19. Burung Cerek Jawa (Charadrius javanicus) di Jawa.
  20. Burung Kakatua Putih (Cacatua alba) Maluku Utara. 
    Kakatua putih (Cacatua alba) endemik Maluku Utara
    Kakatua putih (Cacatua alba) endemik Maluku Utara
  21. Burung Madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodei) Sangihe, Sulawesi Utara.
  22. Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Sulawesi.
  23. Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) di Kalimantan.
  24. Burung Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri) di Kalimantan.
  25. Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus) pulau Jawa.
  26. Burung Tokhtor Kalimantan (Carpococcyx radiceus) Kalimantan.
  27. Burung Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis) di Sumatera.
  28. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Sumatera.
  29. Jalak bali (Leucopsar rothschild) hewan endemik Bali.
  30. Kadal Coklat Kalimantan (Lanthanotus borneensis) di Kalimantan.
  31. Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis sumatraensis) di Sumatera.
  32. Kancil Jawa (Tragulus javanicus) endemik Jawa.
  33. Kanguru Pohon Mantel Emas
    (Dendrolagus pulcherrimus) di Papua.
  34. Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus) di Papua.
  35. Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) endemik Papua.
  36. Katak Tanpa Paru-Paru (Barbourula kalimantanensis) Kalimantan.
  37. Kelelawar Berjenggot Coklat dan Ekor Selubung (Taphozous achates) di Nusa Penida, Bali.
  38. Kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) endemik Sumatera.
  39. Kera Belanda (Nasalis larvatus) di Kalimantan.
  40. Kera hitam sulawesi (Macaca nigra) endemik Sulawesi Utara.
  41. Kodok Darah (Leptophryne cruentata) endemik Jawa Barat.
  42. Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni) endemik Jawa Tengah.
  43. Komodo (Varanus komodoensis) di Nusa Tenggara Timur (P. Komodo).
  44. Kucing Bakau (Prionailurus bengalensis javanensis) di Jawa.
  45. Kucing Merah (Felis badia) endemik pulau Kalimantan.
  46. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) pulau Jawa.
  47. Kura-kura Berleher Ular (Chelodina mccordi) di Pulau Rote, NTT.
  48. Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) Sulawesi.
  49. Kuskus Gebe (Phalanger alexandrae) Pulau Gebe Maluku Utara.
  50. Kuskus Matabiru (Phalanger matabiru) Pulau Ternate dan Tidore Maluku.
  51. Kuskus Kerdil (Strigocuscus celebensis) endemik pulau Sulawesi.
  52. Kuskus Obi (Phalanger rothschildi) Pulau Obi Maluku.
  53. Landak Jawa (Hystrix javanica) endemik Jawa.
  54. Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) endemik Sumatera.
  55. Landak Kalimatan (Thecurus crassispinis) endemik Kalimantan.
  56. Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata) endemik Kalimantan.
  57. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) endemik Jawa.
  58. Lutung Merah (Presbytis rubicunda) satwa endenik Kalimantan.
  59. Macan Dahan (Neofelis diardi) endemik Sumatera dan Kalimantan. 
    Macan Dahan hewan endemik Kalimantan dan Sumatera
    Macan Dahan hewan endemik Kalimantan dan Sumatera
  60. Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di Jawa.
  61. Monyet Ekor Babi (Simias concolor) kepulauan Mentawai.
  62. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) di Sulawesi.
  63. Orangutan sumatera (Pongo abelli) di Sumatera.
  64. Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Kalimantan.
  65. Owa jawa (Hylobates moloch) fauna endemik Jawa.
  66. Owa-owa (Hyllobates muelleri) di Kalimantan.
  67. Rusa bawean (Axis kuhlii) endemik pulau Bawean.
  68. Rusa timor (Cervus timorensis) endemik Bali, Irian Jaya.
  69. Siamang (Hylobates syndactylus) di Sumatera.
  70. Surili (Presbytis comata) di Jawa.
  71. Tarsius Bangka atau Mentilin (Tarsius bancanus) di Sulawesi Utara.
  72. Tarsius Peleng (Tarsius pelengensis) pulau Peleng, Sulawesi.
  73. Tarsius Pygmy atau Pygmy Tarsier (Tarsius pumilus) Sulawesi.
  74. Tarsius Sulawesi (Tarsius tarsier) Sulawesi.
  75. Tupai Mentawai (Tupaia chrysogaster) Kepulauan Mentawai.
Untuk membaca penjelasan masing-masing hewan endemik Indonesia di atas silakan mengklik link tautan yang tersedia.
Semoga endemisme (tingkat endemik) hewan yang tinggi yang dipunyai Indonesia ini mampu kita lestarikan sebagai warisan buat anak cucu kita.
Referensi dan Gambar:
  • alamendah.wordpress.com/2010/09/13/binatang-fauna-endemik-indonesia
  • www.iucnredlist.org