Monday, November 28, 2011

Bintang Daud , Cincin Sulaiman atau Bintang Goloka?


simbol simbol Bintang Daud yang tersebar di dunia. Apakah kalian berpikir bahwa Israel saja yang memiliki simbol hexagram ini? tentu saja tidak, tapi dimana kita bisa melihat Bintang Daud lainnya?



Sab-kona, simbol Goloka, tempat tinggal Krisna




Sab-kona Bintang Goloka atau Goloka-Yantra, tercatat sejarah dalam Weda dan kebudayaan kuno lainnya, juga dipatri dalam peninggalan sejarah Kristen dan Islam, dan akhirnya di adopsi keyakinan Yahudi di abad ke-17 sebagai simbol populer Yudaisme.
Simbol yang menjadi bagian dari sejarah peradaban besar di dunia tanpa kecuali, Bintang Daud atau David Star kita menyebutnya. Tapi sebelum simbol ini muncul di dunia Barat, Bintang Daud disebut Sab Kona dan sudah ada di jantung spiritualitas di India.
Sab-Kona mendefinisikan sebuah bintang bersudut enam mewakili ruang suci. Dibangun dengan menggabungkan dua segitiga sempurna, segitiga yang menghadap keatas disebut Purusa dan yang menghadap kebawah disebut Prakarti.
Dalam literature Weda yang di tulis bahwa Sri Brahma Samhita tinggal di Goloka.
Sudarsana Sab-Kona
Baiklah, sekarang kita lihat dimana saja bisa kita temukan simbol Bintang Daud atau Sab Kona ini.

1.Sumeria
Museum Vorderasiatisches di Berlin menampilkan beberapa segel silinder dari abad 2500 SM, dihiasi dengan simbol langit yang menggambarkan bintang-bintang dengan enam, tujuh, delapan dan segi. Bintang-bintang muncul di sana dalam konteks astrologi atau dalam konteks astronomi. Di antaranya ada lingkaran dikelilingi oleh enam segitiga.

2.Assyria
Lihat disebelah kanan, klik gambar untuk lebih jelas. Black Obelisk' dari Shalamaneser III di Irak, obelisk ini di dirikan di kota Asiria, Nimrud sebagai monumen publik tahun 825 Sebelum Masehi pada waktu perang saudara.



3.Minos
Di Museum Heraklion di Kreta ada Piringan Phaestos kuno terbuat dari tanah liat dibakar. Piringan ini memiliki banyak ukiran. Salah satu ukirannya adalah lingkaran dengan enam titik dalam bentuk hexagram dengan titik ketujuh di tengah, bentuk Hexagram bisa kalian lihat jika menghubungkan titik titik itu dengan sebuah garis. Piringan ini berasal dari 1700 Sebelum Masehi.

4.Carthage atau Tunisia
Koin ini ditemukan di Carthage (modern: Tunisia di Afrika Utara) yang memiliki lambang hexagram disebut koin Fenisia dari abad ke 5 SM.

5.Jepang
The Crest Kagome dapat ditemukan di beberapa kuil Shinto tertua di Jepang berasal dari abad ke-5 SM. Di Kuil Utama Ise yang dibangun untuk Gedung Kekaisaran Jepang, simbol hexagram ini diukir pada semua lampu di sepanjang jalan menuju ke kuil.

6.Yunani
Berasal dari 560 SM, bisa dilihat di Metropolitan Museum of Art in New York yang menyimpan sebuah "Terracotta Drinking Cup" dari Yunani. Bentuk hexagram bisa juga dilihat jika menambahkan garis dari lengan , kaki, lengan dan lutut, kepala, lutut.

7.Sri Lanka
ditemukan di Kataragama di Srilanka, sebuah situs ziarah yang terkenal untuk kepercayaan Hindu dan Buddha. Ukiran ini dari abad ke-3 SM. Dengan huruf Tamil 'Om' di tengah bisa di lihat di Museum für Völkerkunde, Basel.



8.Israel
Capernaum
Beberapa Bintang David kuno telah ditemukan di Israel tetapi semua itu berasal dari masa sebelum agama Yahudi benar-benar mengadopsi simbol ini untuk mewakili keyakinan mereka. Hexagram juga ditemukan terukir pada guci guci Gibeon, Israel yang berasal dari akhir masa Kuil Pertama Kerajaan Israel , yaitu abad ke 6SM. Namun, arkeolog mengatakan bahwa bisa saja ini adalah salinan lambang Thasos dan Carthago dari Yunani yang berfungsi untuk menandai anggur. Hexagram lainnya telah ditemukan di Caperneum tapi itu mungkin milik kuil Romawi. Pada dinding sebuah kamar di Meggido juga ada ditemukan hexagram jika ditarik dengan garis dan berasal dari abad ke-8 SM.
Hisam Palace Israel
Hisam Palace,Yerikho memiliki hexagram dengan ukuran yang sangat besar dan paling terkenal di Israel, Hisam's Palace dibangun oleh Penguasa Muslim Al-Walid bin Yazid yang membangun istananya pada 743 CE.


9.Mesir
Perhatikan simbol hexagram pada logam pemberat timbangan yang hampir pudar,ini berasal dari abad ke 2 SM.
Guci kaca dari Arab ini berasal dari 1000CE.

10.Romawi
Bardo Tunisia, Roman Mosaic
Cyprus, Roman Mosaic
11.Meksiko
Simbol ini di ambil dari Benteng Uxma Maya di Meksiko yang menunjukkan beberapa contoh yang menyerupai hexagram. Para sarjana Mesoamerika menyakini simbol ini mewakili matahari. Benteng Uxma dibangun sekitar 700 CE. Berikut formasi aslinya
dan klik disini untuk zoom in
12.Lebanon
Sebuah cincin dari abad ke 7 SM ditemukan di reruntuhan kota Sidon Fenisia, sayang sekali saya tidak menemukan gambar cincinnya.


13.India
Perisai Kaisar Akbar
Juga di India, Istana Hisam dari Kekaisaran Moghul, Kaisar Akbar (abad ke-16 Masehi) berkuda ke medan pertempuran dengan simbol hexagram pada perisai kebanggaannya.

Masih banyak lagi simbol hexagram, diantaranya ada pada simbol Alchemy dari abad ke 5 hingga ke 17.
hexagram terdiri dari dua segitiga sempurna ini juga mewakili laki laki (segitiga keatas) dan wanita untuk segitiga kebawah. Namun dalam alchemy di abad ke 5-15 selalu diartikan sebagai enam buah planet yang mengelilingi matahari ditengahnya atau mewakili unsur api dan air juga mewakili bumi dan langit.
Simbol Alchemist abad 17
Simbol universal mewakili seni Alchemist bagi Muslim, Kristen dan Yahudi sebagai representasi dari kombinasi berlawanan dan transmutasi.
Kalian pasti kenal simbol ini, ya simbol Freemason di sebuah penginapan Mason di Edinburgh
Kuil Hanuman di Kathamandu dan sebuah hexagram pada pintu bangunan di Istanbul
Dan akhirnya Cincin Sulaiman yang terkenal itu,
Solomon Ring
Waaah ternyata ada banyak tempat yang memiliki simbol hexagram ini dan memiliki banyak nama berbeda pula, begitu juga keyakinan yang dibawanya. Lalu bagaimana dengan Solomon Ring? Pasti banyak yang sudah mengetahuinya, disini saya hanya mengambil garis besarnya saja. Tapi jika saya harus menuliskan kisahnya maka judul tulisan harus saya ubah menjadi "Kuil Kuil Solomon " dan itu membutuhkan waktu agak lama untuk menulisnya.


Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah kisah mitos, yang dimulai ketika Daud membunuh raksasa dari Filistin yaitu Goliath. Daud menjatuhkan Goliath dengan batu bertali dan memenggal kepala raksasa itu. Lalu Daud dipromosikan menjadi komandan pasukan Raja Saul dan menikah dengan wanita dari keluarga raja. Kemudian Saul tewas dalam pertempuran dan Daud menjadi Raja dan mitos yang mengatakan bahwa Tuhan melindungi Daud dalam banyak pertempuran. Simbol Cincin Daud telah diadopsi oleh orang-orang Yahudi untuk mewakili perlindungan atau perisai yang disediakan Allah bagi Daud.
Raja Daud digantikan oleh anaknya Salomo. Mitos kuno menyebutkan bahwa Raja Salomo memiliki cincin berkekuatan magis. Mitos tentang Ring of Solomon terutama dikembangkan oleh penulis Arab yang mengklaim bahwa Allah memberikan cincin itu kepada Salomo. Cincin ini dikatakan memiliki nama Allah terukir di atasnya. Tapi hal ini menimbulkan masalah dengan komunitas Yahudi karena hukum Yahudi melarang orang Yahudi untuk menulis nama Allah. Pada abad Pertengahan Yahudi, legenda Kristen dan Islam percaya bahwa Raja Salomo memerintahkan setan dan berbicara dengan binatang oleh kekuatan cincin.

Suatu kisah narasi Arab menceritakan sisi lain cincin ini, seorang saudara perempuan Sulaiman diperdaya oleh Iblis agar Sulaiman mau memberikan cincin itu padanya(Sakhr) , Sakhr lalu memerintah kerajaan Sulaiman selama empat puluh tahun. Sedangkan Sulaiman sendiri pergi mengembara ke tanah yang miskin. Suatu ketika Sakhr membuang cincin ini ke laut untuk suatu alasan yang tidak diketahui, lalu seekor ikan memakan cincin ini dan seorang nelayan menangkapnya tanpa sengaja, ketika dilihatnya ada cincin Sulaiman didalam perut ikan, nelayan itu pun mempersembahkan cincin itu kembali kepada Sulaiman. Mengetahui cincinnya telah ditemukan dalam perut seekor ikan, Sulaiman lalu kembali ke Kerajaan dan menghukum Sakhr. Ia meminta Sakhr membangun sebuah Masjid yang disebut Masjid Agung Sulaiman.

Apakah benar begitu asal usul Simbol Bintang David ini? sebab ada banyak versi yang mengulasnya. Kebenaran kembali ke tangan anda.

Misteri Candi dan Piramida di Nusantara


Sejarah memang penuh dengan misteri. Banyak orang menganggap jika sejarah itu telah final, statis, dan sama sekali tidak dinamis, tidak hidup. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Sejarah itu hidup dan terus berkembang dengan bukti-bukti baru. Bukti-bukti termutakhir tentang sejarah masa lalu terus bermunculan di masa sekarang. Berbagai situs, candi, fosil, dan sebagainya terus bermunculan ke permukaan kehidupan kita kini. Kita bahkan tidak tahu bukti-bukti apa lagi yang esok akan terus bermunculan, sehingga kita hari ini harus terus merekonstruksi sejarah itu sendiri, harus terus mendesain ulang sejarah kita di masa lalu.

Entah sampai kapan hal ini terus ada dan semuanya merupakan modal penting bagi kehidupan umat manusia di masa depan.

Kita saat ini merasa jika manusia sekarang telah mencapai puncak peradaban, puncak ilmu pengetahuan, dan puncak kejayaan teknologi. Namun tahukah Anda jika hal itu hanyalah pengulangan dari sejarah masa silam?

Kaum Aad dan Tsamud dahulu kala telah memiliki kemampuan untuk membangun gedung-gedung pencakar langit dan mengubah gunung baru menjadi istana. Sisa-sisa kejayaan mereka sampai hari ini masih bisa disaksikan siapa pun di Lembah Petra, Yordania.

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS. Al A’raaf, 7: 74)

Lalu Hiram, sang arsitek Kerajaan Nabi Sulaiman, telah begitu mahir membangun dan mengkonstruksi sebuah istana megah di mana lantainya terlihat bagaikan permukaan air yang sangat jernih hingga membuat Ratu Bilqis terperdaya.

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya”. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Balqis, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.”(QS An Naml 44)

Kita sampai hari ini masih saja terheran-heran, bagaimana manusia-manusia dahulu bisa membangun candi seindah dan semegah Borobudur, bagaimana mereka bisa mengangkat dan memindahkan bebatuan besar guna menyusun Stonehedge, membangun situs-situs raksasa di Pulau Paskah, membuat garis Nazca di Pegunungan Peru, dan lain sebagainya.

Manusia sekarang juga masih bertanya-tanya mengapa di lahan bekas pertempuran besar antara kaum Pandawa melawan Kurawa di Padang Khurusetra, yang sekarang menjadi gurun di Mahendjo Daro, terdapat sisa radiasi nuklir. Apakah Bharatayudha itu merupakan perang modern sehingga dipergunakan senjata berbahan nuklir?

Dan yang paling menarik, tentu saja, kisah kegemilangan nenek moyang kita yang dahulu kala, beribu tahun sebelumnya, telah menghuni apa yang sekarang disebut sebagai Nusantara. Sejarah Nusantara masih teramat banyak yang belum tergali dengan sempurna. Masih teramat banyak misteri yang melingkupinya. Beberapa di antaranya akan dipaparkan di sini.

Bangunan Candi dan Piramida

Indonesia atau Nusantara dahulu kala, puluhan ribu tahun silam, adalah Atlantis. Banyak pihak yang mencemoohkan hal ini, termasuk sebagian orang Indonesia sendiri. Mereka menyatakan jika hal itu hanya sebagai pseudoscientism, ilmu ilmiah jadi-jadian. Lantas siapakah orang yang berani dengan tegas menyatakan Indonesia sekarang adalah Atlantis di zaman dahulu?

Adalah Profesor Arysio Santos des Nunes. Dia Pakar Fisika Nuklir dari Brasil yang menjadi pengajar di sejumlah perguruan tinggi bergengsi di Amerika dan pernah menjadi anggota Dewan Nuklir Dunia di Swiss. Selama tigapuluhan tahun, Santos meneliti Timoeus dan Critias, dua manuskrip tertua karya Plato yang menyinggung keberadaan Atlantis. Hasilnya sungguh mengguncang dunia. Santos dengan sangat yakin menegaskan jika Nusantara merupakan sisa-sisa Atlantis di masa lalu. Tentang Santos dan Atlantisnya bisa dibaca di Eramuslim Digest edisi 11. Demikian juga dengan ulasan dari Profesor Oppenheimer yang menyatakan jika Sunda Land merupakan asal muasal pusat peradaban dunia.

Tentang Santos dan Oppenheimer, kini artikelnya sudah bisa kita baca di mana-mana. Bahkan buku hasil penelitiannya pun sudah diindonesiakan dan dengan mudah bisa diperoleh di berbagai toko buku. Lepas dari keduanya, ada sejumlah temuan unik dan misterius yang berbeda pada bangunan candi dan piramida yang ada di Nusantara, namun memperkuat temuan Santos dan Oppenheimer, terkait dengan Nusantara sebagai pusat peradaban dunia. Beberapa temuan itu akan dipaparkan satu persatu di dalam serial tulisan ini. Inilah di antaranya:

Candi Cetho, Sukuh, dan Penataran

Cetho dalam bahasa Jawa berarti “Nyata”. Candi Cetho terletak di kaki Gunung Lawu, di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada ketinggian 1400 m di atas permukaan laut. Dilihat dari bentuknya, Candi Cetho berbeda dengan candi-candi lain yang ada di Nusantara. Cetho bentuknya menyerupai piramida, mirip dengan candi-candi yang ada di peradaban bangsa Inca dan Suku Maya di Amerika Latin.

Menurut perhitungan sejumlah arkeolog, Cetho dibangun pada akhir zaman Majapahit, di kala kekuasaan Prabu Brawijaya ke V. Namun melihat bentuk fisik dari Cetho, anggapan itu sepertinya kurang tepat. Candi-candi yang dibangun di era akhir Majapahit biasanya terbuat dari batu bata merah, bukan batu kali seperti halnya Cetho. Lalu relief-relief yang ada pada candi-candi Majapahit di era yang sama biasanya detil dan rapih, sedangkan Cetho tidak. Relief-relief di candi Cetho, pemahatannya terlihat sangat sederhana. Ini semua mengindikasikan jika candi Cetho diduga kuat lebih tua usianya ketimbang Kerajaan Majapahit itu sendiri.

Belum lagi bentuk dan rupa aneka patung yang ada di candi Cetho yang sama sekali tidak menggambarkan manusia Jawa yang ada pada zamannya. Namun patung-patung tersebut lebih mirip dengan orang-orang Sumerian yang berasal dari abad ke 3.000 SM.

Sekurangnya ada tiga buah candi yang sampai hari ini masih diselimuti misteri besar. Ketiganya adalah Cetho, Sukuh, dan Penataran. Yang dua pertama terletak di Karanganyar Jawa Tengah, sedangkan yang ketiga berdiri di Blitar Jawa Timur.

Misteri Candi Cetho dan Sukuh

Cetho maupun Sukuh berbentuk piramida terpenggal. Kedua pun sama-sama berada di lereng Gunung Lawu dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Sejumlah arkeolog Indonesia mengatakan bahwa Candi Cetho dan Sukuh dibuat pada akhir Jaman Majapahit di abad ke-15 M. Jika benar demikian, keduanya tergolong masih muda dalam kacamata sejarah.

Selain bentuknya yang tidak lazim seperti candi-candi Hindu lainnya yang ada di Nusantara maupun di seluruh dunia, Cetho dan Sukuh juga menyimpan simbolisme yang aneh yang sangat berbeda dengan candi-candi Hindu lainnya. Keanehan inilah yang menarik perhatian dari Yayasan Turangga Seta, sebuah komunitas penyuka sejarah kebesaran Nusantara, sehingga mereka membuat daftar beberapa kejanggalan yang terdapat di Candi Cetho, Sukuh, dan juga Penataran ini. Menurut catatan mereka terhadap Cetho dan Sukuh antara lain:

Pertama, bebatuan asal candi. Baik Cetho maupun Sukuh terbuat dari batuan kali yang dipahat dan disusun menjadi satu. Padahal, candi-candi pada era Majapahit, biasanya terbuat dari susunan batu bata karena di zaman Majapahit sudah dikenal luas produksi pembuatan batu bata dari tanah liat.

Kedua, berbagai relief yang terdapat pada Candi Cetho dan Sukuh, tingkat presisi dan kerapian pemahatannya masih sangat sederhana seolah di kala itu belum ditemukan alat-alat pahat yang lebih ‘modern’ dan belum ada tukang pahat yang terampil, belum ditemukan teknik pahat yang lebih maju. Hal ini sangat berbeda dengan relief-relief di era Majapahit yang lebih detil dan rumit.

Ketiga, bentuk beberapa patung yang tidak menggambarkan sosok orang Jawa yang ada pada masa itu, namun patung tersebut justru lebih menyerupai sosok orang Sumeria. Memang, tidak semua patung seperti ini karena ada banyak pula patung yang sosoknya mewakili orang Jawa pada masa itu. Walau bagaimana pun, tetap saja pertanyaan mengapa ada patung-patung mirip orang Sumeria di tempat ini mengemuka.

Selain itu, pahatan wajah, bentuk mata, potongan rambut, pakaian, serta perhiasan pada patung-patung di sini juga ada yang tidak mencerminkan model orang Jawa, melainkan bangsa Sumeria, Viking, Mayan, Romawi (Rum), dan Yunani. Kita mengetahui jika sampai sekarang, para sejarawan mengklaim jika peradaban Sumeria merupakan peradaban tertua yang pernah ditemukan di bumi. Ada pula patung ‘orang Sumeria’ yang digambarkan dengan wajah memelas atau ketakutan dengan posisi badan seperti orang yang menyerah atau takluk?

Salah satu contoh, patung ini telinganya tidak menggunakan sumping seperti orang Jawa kebanyakan, namun menggunakan anting-anting. Pada lengan tangan, orang Jawa biasanya menggunakan kelat bahu seperti yang sekarang masih tersimpan di Museum Gajah Jakarta, namun pada patung ini tidak. Pergelangan tangan orang Jawa biasanya juga memakai gelang jenis keroncong, tetapi pada patung ini malah terlihat menggunakan gelang yang sangat mirip dengan jam tangan atau arloji. Asal tahu saja, gelang sejenis ini merupakan gelang ciri khas orang-orang Sumeria. Cobalah mengamati kedua gambar di bawah ini untuk bisa mengetahui di mana persamaannya.

Sudah menjadi tradisi orang Sumeria jika perhiasan berupa gelang yang menyerupai jam tangan hanya digunakan oleh mereka yang berasal dari kalangan bangsawan dan ksatria. Begitu juga dengan bentuk mahkota rambut dan jenggotnya.

Pertanyaannya, mengapa ada patung mirip orang Sumeria yang menurut literatur telah ada pada zaman 3.000-4.000 tahun sebelum Masehi di Candi Cetho? Jika mereka dianggap manusia pertama yang beradab, maka mengapa mereka dibuat seperti orang takluk di lereng Gunung Lawu ini? Benarkah Cetho dan Sukuh dibangun pada abad ke-15 Masehi atau malah usianya jauh lebih tua lagi? Apakah nenek moyang kita dahulu kala pernah bergaul dengan orang Sumeria dalam satu waktu, yang berarti ribuan tahun sebelum masehi?

Tak jauh dari Candi Cetho, terdapat Candi Sukuh. Keduanya sama-sama berdiri di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian 1.186 meter diatas permukaan laut. Candi ini berada di Dusun Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam penulisan banyak artikel, Sukuh lebih terkenal dibandingkan Cetho. Namun sering pula selalu digandengkan. Kepopuleran Sukuh disebabkan bentuknya yang unik, mirip dengan bangunan-bangunan piramida yang ada di Mesir, Chichen Itza, dan Tenochticlan di Mexico, serta Copan di Honduras, hanya saja ukurannya lebih kecil.

Garuda Atau Horus di Sukuh?

Selain bentuknya, salah satu yang menarik di Sukuh adalah patung berbadan manusia namun memiliki sayap. DI depan, patung ini kepalanya hilang, namun di belakang candi terdapat beberapa patung dengan sosok yang sama namun kepalanya masih ada dan berbentuk kepala burung.

Para arkeolog menganggap ini sebagai penjelmaan dari Burung Garuda atau Jatayu. Namun boleh saja mereka menganggapnya demikian, namun dunia lebih mengenal simbol manusia bersayap dengan kepala burung sebagai Horus, “The Famous Bird-head Haggadah”, yang berasal dari bangsa Yahudi.


Piramida Sebagai Bangunan Pengumpul Energi

Coba berhenti sejenak dan kita mulai memikirkan mengapa di berbagai belahan dunia sejak zaman dahulu kala sampai hari ini masih saja ada sejumlah bangunan berbentuk piramida yang terus-menerus didirikan? Ada berbagai gambar dan simbol piramida yang terus-menerus disosialisasikan? Apakah ini hanya kebetulan?

Dahulu, para Firaun Mesir membangun piramida sebagai cungkup makamnya, sebuah cungkup yang amat sangat besar. Bangsa Maya juga membangun piramida sebagai bangunan untuk bisa berkomunikasi dengan Yang Tertinggi. Dan ternyata di lereng Gunung Lawu, juga terdapat bangunan sejenis. Di masa modern, piramida kaca dibangun di depan Louvre Paris, di Washington, juga ada di banyak bangunan di dunia, termasuk di Jakarta. Belum lagi sosialisasi piramida, baik piramida utuh maupun sebagai simbol dan gambar. Bahkan sebuah bank swasta nasional besar di Indonesia pernah memajang gambar Piramida Illuminaty sebagai ikon promosinya.

Bentuk bangunan piramida, kepercayaan esoteris, dan kedatangan Dajjal di akhir zaman sesungguhnya saling terkait. Bagaimana keterkaitannya satu dengan yang lain? [EraMuslim]

Benarkah Tanah Yang Dijanjikan Bukanlah Palestina, Indonesia/Nusantara adalah “THE PROMISED LAND” yang sebenarnya?Nabi Sulaiman AS



Tentang Peradaban Jawa (Peradaban Atlantis) dikaitkan dengan kiprah Bani Israel, ada fakta yang menarik apabila anda berkunjung ke situs resmi Israel misalnya di Kantor Perdana Menteri Israel dan Kantor Kedubes Israel di seluruh dunia terpampang nama Ibukota Israel : JAVA TEL AVIV / JAWA TEL AVIV, dan MAHKOTA RABBI YAHUDI yang menjadi imam Sinagog pake gambar RUMAH JOGLO JAWA. Dengan demikian apakah Bani Israel merasa menjadi keturunan Jawa ? Yang disebut Jawa adalah seluruh Etnik Nusantara yang dulunya penghuni Benua Atlantis sebelum dikirim banjir besar oleh Allah SWT, setelah banjir besar benua ini pecah menjadi 17.000 pulau yang sekarang disebut Indonesia, hanya beberapa etnik yang masih tersisa, selebihnya menjadi cikal bakal bangsa2 dunia antara lain bangsa India, Cina ( termasuk Jepang ), Eropa, Israel, Arab, dan Indian ( silahkan baca hasil penelitian Prof. Santos selama 30 tahun tentang Benua Atlantis terbitan Gramedia ).
Dalam bahasa Jawi Kuno, arti jawa adalah moral atau akhlaq, maka dalam percakapan sehari-hari apabila dikatakan seseorang dikatakan : “ora jowo” berarti “tidak punya akhlaq atau tidak punya sopan santun”, sebutan jawa ini sejak dulunya dipakai untuk menyebut keseluruhan wilayah nusantara, penyebutan etnik2 sebagaimana berlaku saat ini adalah hasil taktik politik de vide et impera para penjajah. Sejak zaman Benua Atlantis, Jawa memang menjadi pusat peradaban karena dari bukti2 fosil manusia purba di seluruh dunia sebanyak 6 jenis fosil, 4 diantaranya ditemukan di Jawa.
Menurut “mitologi jawa” yang telah menjadi cerita turun temurun, bahwa asal usul bangsa Jawa adalah keturunan BRAHMA DAN DEWI SARASWATI dimana salah satu keturunannya yang sangat terkenal dikalangan Guru Hindustan (India) dan Guru Budha (Cina) adalah Bethara Guru Janabadra yang mengajarkan “ILMU KEJAWEN”. Sejatinya “Ilmu Kejawen” adalah “Ilmu Akhlaq” yang diajarkan Nabi Ibrahim AS yang disebut dalam Alqur’an “Millatu Ibrahim” dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam wujud Alqur’an dengan “BAHASA ASLI (ARAB)”, dengan pernyataannya “tidaklah aku diutus, kecuali menyempurnakan akhlaq”.
Dalam buku kisah perjalanan Guru Hindustan di India maupun Guru Budha di Cina, mereka menyatakan sama2 belajar “Ilmu Kejawen” kepada Guru Janabadra dan mengembangkan “Ilmu Kejawen” ini dengan nama sesuai dengan asal mereka masing2, di India mereka namakan “Ajaran Hindu”, di Cina mereka namakan “Ajaran Budha”. Dalam sebuah riset terhadap kitab suci Hindu, Budha dan Alqur’an, ternyata tokoh BRAHMA sebenarnya adalah NABI IBRAHIM, sedang DEWI SARASWATI adalah DEWI SARAH yang menurunkan bangsa2 selain ARAB. Bukti lain bahwa Ajaran Budha berasal dari Jawa adalah adanya prasasti yang ditemukan di Candi2 Budha di Thailand maupun Kamboja yang menyatakan bahwa candi2 tsb dibangun dengan mendatangkan arsitek dan tukang2 dari Jawa, karena memang waktu itu orang Jawa dikenal sebagai bangsa tukang yang telah berhasil membangun “CANDI BOROBUDUR” sebagai salah satu keajaiban dunia.
Ternyata berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, bahwa sebenarnya “CANDI BOROBUDUR” adalah bangunan yang dibangun oleh “TENTARA NABI SULAIMAN” termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Alqur’an sebagai “ARSY RATU SABA”, sejatinya PRINCE OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung2 di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting. Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku Jawa yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting ( perhatikan patung Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).
Hasil riset tsb juga menyimpulkan bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena menurut karakternya suku tsb sesuai dengan ajaran2 LUKMANUL HAKIM sebagaimana tertera dalam Alqur’an. Perlu diketahui bahwa satu2nya nabi yang termaktub dalam Alqur’an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan ternyata diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU yaitu Sukarno, Suharto, dan Susilo serta meninggalkan negeri bernama SLEMAN di Jawa Tengah. Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan dari Nabi Daud yang dikatakan didalam Alqur’an dijadikan Khalifah di Bumi ( menjadi Penguasa Dunia dengan Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah “SYAILENDRA” , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata saila dan indra, saila = gunung dan indra = raja.
Jadi sebenarnya Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri 12 suku, tapi mereka menamakan diri suku ke 13 yaitu Suku Khazar (yg asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami diaspora dengan penduduk lokal, posisi suku Khazar ini mayoritas di seluruh dunia. Sedang Yahudi asli Telah menghilang yg dikenal sebagai suku-suku yg hilang "The Lost Tribes" yang mana mereka pergi ke timur dan banyak yg menuju ke “THE PROMISED LAND” yaitu Indonesia
Tim ekspedisi muslim menemukan beberapa fakta sejarah, bahwa candi borobudur adalah istana Nabi Sulaiman. dan Indonesia adalah negeri SABA yg diceritakan Al-qur'an dalam surat As-Saba. karenanya di jogja ada kabupaten Sleman yang diambil dari nama Nabi Sulaiman.






 Sementara itu masih di kota Jogjakarta, tepatnya di daerah Prambanan ada candi ratu Boko yang di ambil dari nama Ratu Bulqo/Bilkis.






 Di dalam Qur'an Surat As-Saba tanda-tanda daerahnya ada buah pahit, sementara disekitar candi borobudur  ada buah: Mojo Pahit. bahkan sebuah kerajaan besar yang pernah jaya di pulau jawa dulu rela menamakan kerajaannya dengan nama Kerajaan Majapahit.








Lalu diceritakan di dalam Al-qur'an lagi: bahwa daerah Saba' dikelilingi dua hutan, sementara itu borobudur disana ada daerah Wanagiri dan WanaSABA, dimana dalam kamus bahasa jawa kawi; wana = hutan, saba = pertemuan.







Diceritakan pula di daalm Al-qur'an istananya berbentuk piring-piring dan patung-patung, sementara itu candi borobudur berbentuk piring dan banyak patung-patungnya, disinyalir patung Nabi Sulaiman,





dimana seperti dlm Alqur'an Nabi Sulaiman menggunakan dua lembar kain dan kain yang luar adalah sutra seperti patung di candi yang terdapat lipatan sutra.







Diceritakan lagi di Nabi Sulaiman sering beristirahat dan berlibur di pantai sebelah timur negeri Saba, sementara di sebelah timur Indonesia deket papua ada pulau Solomon, yang di ambil dari nama Nabi Sulaiman.







Relief-relief di candi mengambarkan cerita tentang Nabi Sulaiman diantaranya gambar burung yang mengantar surat kepada ratu Bilkis, dll.









Sedangkan relief yang bergambar burung berkepala manusia, memberikan penjelasan bahwa burung hud-hud tersebut bisa berbicara dengan Nabi Sulaiman.







Di dalam Al-Qur'an surat As-Saba' diceritakan negeri SABA telah di azab Allah karena penduduknya kufur dan tidak beriman, yaitu berupa  dengan mengirim banjir besar yang menghancurkan negeri Saba' menjadi berkeping-keping. Karenanya hanya di Indonesia-lah negara yang mempunai 17 ribu pulau lebih.







Indonesia adalah negeri SABA yang hilang, yang oleh ilmuan barat diistilahkan benua Atlantis yang hilang. dan masih banyak lagi fakta-faktanya yang lain.






Diantara Ribuan jumlah para Nabi, hanya Nabi Sulaiman yang mempunyai nama Jawa yang berawalan "SU", sebagaimana Suparmin, Suharto, Sukarno, Suparman, Sulimin, Supratman, Sulistyono dll.







Adanya angin muhson di Indonesia semakin menguatkan bukti bahwa Indonesia adalah negeri Saba’.





wa Allahu A'lam......
Bagaimana pendapat ikhwan akhwat di sini. Monggo sharing di sini.